Saturday, 7 November 2026
Puisi / Sastra

Menara Gading itu Mulutmu Sendiri

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
Transportation 211400
Sumber: pixabay.com/Agus Santoso

[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 27/5/2022]

Biduk warsa bersauh ulang

Di bulan ini,

Mei Jubileum bulan edukasi negeri ini

Upaya suatu negeri lusuh membenahi yang di depan hidungnya

Itikad baik harus bersambut

Realita bersilang diktum?

Apa kabar?

Pendidikan semua kalangan: ‘tuk kalangan mana?

kalangan berpenghasilan?

kalangan berkekuasaan?

atau kalangan makmur nan kenyang warisan?;

warisan terhimpun dari pekik mereka yang jemu diperas dan kelaparan

Ndakik sekali yang diutarakan, sekonyong mendekati Tuhan

Memuja semu logika dan kewarasan

sayang, jelma sempurna anjing peliharaan

dengan transenden manis tersemat

Bersamaan berdiri representasi menara gading itu sendiri;

Di tengah hutan rapat kumuh rumah, jalan, rakyat, tikus, kecoa, dan nyamuk berjejal.

Ku bersumpah pada 9 polisi tidur Kalidami,

Pada pelat seng pemisah nyatanya kesenjangan Manyar-Jojoran,

Atau riuh rusuhnya Gubeng Masjid bersama makam bercampur langgar,

bersisian pasar dengan kandang ayam berikut ingar kokok serupa kereta api seberang sana

Mereka duduk rapi di atas penuh omong kosong

Atas nama industri berbungkus edukasi

menyatu kerumun masyarakat luas,

dengan membangun “tembok” jelas jua lugas: pemisah batas ruang akademik dengan ruang hidup rakyat

Semakin tinggi mulut akademisi;

kontras dengan tatap ragu mereka esok hari perihal nasi.

Karya: Fahreza Rakha Winatra Atmaja

Editor: Wahyu Rizqi

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *