Karya: Rifqi Septian Dewantara
Pesan Bapak
Nak, barangkali hidup adalah kumparan marah dari lenggok kanan-kiri doa
Nak, batin sekarang Cuma kata pada bait pertama, selebihnya kita yang dihimpun masalah
dan bersalah
Dengarlah nak, risau lembaran buku yang ditinggalkan pemiliknya, bahkan dijual dengan
harga murah
Sepertinya sama seperti kita, yang berdoa dalam-dalam untuk memohon pertolongan
Genggam tangan ibumu, nak
Rasakan garis keras tangannya
Ciumi tiap keloknya
”sudah susah masih ditelan? Apalagi artinya?”
Ingat, ketika pagi datang
Mimpi menutup dalam-dalam
Ingat, mimpi menengadah ngeri pada hari itu yang sepagi hari mengais nasi
Bapak pergi dulu bekerja membelikanmu mainan dan cemilan, lupakan buku lupakan aksara.
Kita manusia memang tak kenyang makan puisi.
Dunia Dalam Hujan
Di kaca jendela, hujan sedang melukis rintiknya
Aku duduk melamun
Membuat perahu kertas dalam khayalanku
Perahuku singgah di negeri awan
Ia bertemu burung-burung yang bernyanyi
Kupu-kupu menari
Dan pepohonan tua yang penuh ranting kehidupan
Butir airnya jatuh
Menjelma ke jalan
Mengalir ke negeri
Yang tak ada di peta
Ku telusuri sungai beningnya
Yang berkilau seperti kaca
Saat hujan reda
Aku terbawa
Mengalir ke negeri bunga
Yang tumbuh diam-diam
Dari doa yang mekar di pagi hari
Panggilan Dari Petuah
Dering telepon itu merayap
Di pekarangan rumah
Mungkin ada sebuah jawaban
Yang terkubur di seberang waktu
Kata-kata bagai elegi
Yang memeluk dan merasuk
Tiap-tiap insan
Tak usang ia menerang
Titimangsa hidupnya
Dan usul kelak matinya untuk abadi
Suara Di Atas Lautan Hina
Sebagai insan, bisaku hanya meminta
Saat laut memilah selera, seluruh tapak yang menginjakku adalah kebahagiaan
Kini tingginya melebihi awan
Diterbangkannya mereka yang gemar merendahkan.
