Saturday, 7 November 2026
Puisi

Monolog di Antara Malam

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
After 2 Anniiissuu
Sumber foto: TiQuest

Karya: Devann Tye

Di Atas Bahu yang Tak Meminta

Sekali lagi aku di ambang kematian
Pundakku terasa lebih berat
Ada tanggung jawab yang belum selesai
Namun aku ingin menyerah
Alasanku masih berdiri karena punya harapan
Senyuman, kenangan, dan janji yang harus ku tepati
Masih ada tujuh hari 
Tapi aku tak yakin dengan waktu sesingkat itu
Para penggali kubur bersiap melakukan pekerjaannya
Mengubur harapan dan impianku dalam-dalam
Jika saja aku lebih berani
Mungkin harapan itu masih ada
Mungkin
Mungkin saja ada harapan
Namun aku tak yakin dengan hal itu
Lagi-lagi aku mematahkan hati orang-orang
Apakah ini salahku?
Apakah ini salahnya?
Apakah ini salah kami?
Atau siapa?
Tidak ada yang tahu


730 hari

Sudah 730 hari aku berdiri di kota ini
Sudah ku pahami pula bagaimana bentuknya
Namun rasanya aku semakin tersesat
Ku ingat bagaimana kota ini menyambutku 
Hangat, terlalu hangat
Ukiran di wajahnya jelas terlihat
Oh, sungguh, hasratnya menggebu-gebu

Sudah 730 hari aku berdiri di kota ini
Ku ingat gejolak yang bersemayam di lubuk hatinya
Bersumpah menjadi seorang penulis ulung
Lalu seorang seniman, kemudian guru

Sudah 730 hari aku berdiri di kota ini
Sumpah yang ku telan terasa hambar
Jangankan menjadi penulis
Jadi diri sendiri pun gagal
Gejolak perlahan padam
Bersamaan dengan matinya diriku
Haruskah ku panggil diriku seorang penulis?
Atau seorang seniman?
Seorang guru?
Rasanya aku hanya mahir membohongi diri

Sudah 730 hari aku berdiri di kota ini
Dan aku semakin tersesat dalam ketidakpastian


Tagihan Rasa Malu

Sebuah janji ku ingkar, lagi
Mungkin sudah ribuan kali
Padahal aku sudah mengangkat kelingking
Dan mungkin ia akan dipotong
“Jiwa”ku berada diambang kematian
Ku selamatkan dengan harta yang ku punya
Namun mereka tak jauh berbeda dengan recehan di saku
Tak cukup banyak untuk menyelamatkannya
Mereka sudah tahu
Mereka kembali
Mereka kembali membantuku, lagi
Bukankah sepatutnya di umurku yang hampir kepala dua, aku yang memberikan upah pada mereka

Aku malu
Aku benar-benar malu
Harusnya aku yang memberi!!
Sudah sepantasnya orang sepertiku menjadi pemberi!!
Aku tak pantas menerima ini semua…
Orang-orang di sekitarku sudah mampu menjadi pemberi
Sedangkan aku?
Aku masih jadi seonggok bajingan yang menjadi benalu

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *