Thursday, 5 November 2026
Feature / Kolom

Mengapa Surabaya Identik dengan Kata ‘Arek’?

Oleh : : - Waktu Baca 4 menit
Statue 7173371
Sumber: pixabay.com/ Hartono Subagio

[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 21/9/2022]

Istilah arek merupakan kata yang tidak jarang kita dengar, khususnya bagi mereka yang tinggal di Kota Surabaya. Namun, sejarah awal mula serta perkembangan kata arek mungkin belum banyak diketahui oleh orang-orang. Oleh sebab itu, dalam diskusi yang dibawakan oleh Kukuh Yudha Karnanta (Dosen FIB UNAIR) membedah kata arek lebih dalam sehingga kita bisa memahami apa itu esensi dari ‘arek’.

Dalam Diskusi Kisah Surabaya di Tiap Zaman yang diadakan pada tanggal 16 September 2022 di Basement Balai Pemuda Kota Surabaya, Kukuh mengungkapkan bahwa kata arek setidaknya berasal dari 3 kata tafsiran, yaitu lare yang berarti anak, arik yang berarti adik, serta ari-ari atau dalam bahasa Indonesia berarti plasenta . Di sisi lain, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arek dapat diartikan sebagai (n) orang yang berasal dari atau dilahirkan di (suatu daerah, kota, dan sebagainya); anak. Dalam arti lain di KBBI, arek adalah (n) kata sapaan akrab antar teman sebaya atau dari yang lebih tua kepada yang lebih muda.

Dalam diskusinya, ia juga menyebutkan bahwa arek tidak hanya apa yang dimaknakan oleh kamus melainkan bisa bermakna sebagai sebuah nilai, pandangan dunia, praktik maupun tindakan.

1. Arek Surabaya Sebagai Nilai

Aspek dasar dari budaya adalah nilai. Perlu diketahui bahwa dalam Ilmu Budaya apa yang diketahui sebagai karakteristik tidak bersifat statis tetapi bersifat dinamis. Lalu bagaimana karakteristik dari arek tersebut? Pertama, arek bersifat egaliter sehingga mereka menghargai kesetaraan, misalnya adanya ragam bahasa arek. Ragam bahasa arek bukan hanya berasal dari bahasa ngoko melainkan variasi dari bahasa lain yang tidak merubah nilainya. Selain itu, arek bersifat lugas yang berarti mereka ekspresif ketika berbicara. Mereka bisa berbicara dengan nada tinggi tetapi tidak berarti mereka marah. Hal ini yang mungkin bisa kita sadari dengan sangat mudah saat kita berada di sekitar atau berinteraksi dengan arek. Ketiga, arek bersifat solider sehingga mereka memiliki ikatan yang kuat sebagai satu kesatuan, dalam hal ini sebagai penduduk Kota Surabaya. Selain itu, mereka juga pemberani. Kita bisa dengan mudah mengetahui ini dari keberanian arek Surabaya maju ke medan perang tanpa ada keraguan.

2. Arek Surabaya Sebagai Praktik

Selain menjadi nilai, arek juga merupakan praktik. Hal ini bisa kita lihat dari pergelutan arek dengan sejarah Kota Surabaya. Adanya peristiwa sejarah yang melatarbelakangi praktik arek misalnya ketika mereka melaju ke medan perang merupakan bentuk dari arek sebagai praktik. Perlu kita sadari bahwa julukan arek tidak disematkan semata wayang karena mereka berasal dari Surabaya melainkan dengan adanya perjalanan panjang dibaliknya. Beberapa peristiwa praktik arek diantaranya adalah sejarah keberanian mereka dalam mengusir pasukan Tar-tar yang menyerang di abad ke-13, pertempuran melawan Mataram dalam mempertahankan wilayah di abad ke-17, kemudian adanya gerakan Sarekat Islam dan Gerakan jawa Dwipa di abad ke-20. Puncak dari praktik ini di masa lalu mungkin bisa kita identifikasi di perjuangan arek Surabaya melawan kolonialisme dalam Pertempuran 10 November 1945. Oleh sebab itu, arek sebagai praktik merupakan bagaimana karakter arek itu diimplementasikan dalam tindakan mereka sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.

3. Arek Sebagai Figur

Arek Surabaya juga bisa dimaknai sebagai figur. Figur dalam diri arek menciptakan sosok arek yang mampu menjadi panutan bagi arek lainnya. Salah satu figur ikonik arek Surabaya adalah presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Soekarno dalam salah satu pidatonya menyebutkan bahwa ia dilahirkan di Surabaya sehingga ia adalah bagian dari arek Surabaya. Selain Soekarno, tokoh pemimpin perang 10 November, Soetomo adalah figur dari arek Surabaya.

Arek Surabaya mungkin memang subkultur yang berasal dari Surabaya. Namun, penggunaannya kian meluas seiring perkembangan masa. Arek bukan hanya sosok tetapi satu nilai kesadaran dan tindakan serta praktik dari lintas etnik dan sosial. Arek merupakan pandangan dunia tidak peduli darimana ia berasal. Entah arek berasal dari bangsawan maupun rakyat jelata arek tetap merupakan suatu nilai yang terimplementasi dalam tindakan. Karakter arek merupakan sebuah pengalaman historis atau memori kolektif dari suatu daerah. Oleh sebab itu, arek merupakan bagian tak terpisahkan dalam kultur Surabaya maupun yang kini telah meluas ke penjuru Nusantara.

Penulis: Yuliatu Rohmah

Editor: Ini Tanjung Tani

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *