Thursday, 5 November 2026
Buku / Review

Review Buku: Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis

Oleh : : - Waktu Baca 6 menit
1851849956
Sumber: pikiran-rakyat.com

Judul : Salah Asuhan

Penulis : Abdoel Moeis

Penerbit : PT Balai Pustaka (Persero)

Tebal : 336 Halaman

Tahun : 1928

Sinopsis :

Novel ini menceritakan mengenai seorang laki-laki dari turunan pribumi bernama Hanafi dan seorang perempuan berkebangsaan barat bernama Corrie du Bussee. Mereka terjebak dalam perasaan cinta dengan perbedaan antara bangsa barat dan bangsa timur yang menimbulkan banyak pertentangan.

Hanafi merupakan seorang laki-laki yang berasal dari pribumi. Ia dianugerahi kecerdasan otak yang lebih tinggi diantara teman sebayanya hingga ia berkesempatan untuk bersekolah di HBS yang mana sekolah ini merupakan sekolah  milik Belanda. Namun, ia malah menyalahgunakan kecerdasannya dengan sikapnya yang terlihat menjatuhkan martabat orang melayu, bangsanya sendiri. Disisi lain, disana juga, ia bertemu dengan gadis turunan bangsa barat yang bernama Corrie du Busse. Mulanya, mereka hanya berteman  layaknya teman biasa. Corrie hanya menganggap Hanafi sebagai saudara tuanya, tak ada maksud sekalipun menaruh hati bagi keduanya.

Saat Corrie berada di Solok semasa libur pendidikan, tak disangka, Hanafi menyatakan rasa tertariknya pada Corrie. Suatu hari, ketika Hanafi meminta Corrie untuk menemuinya–tetapi sebelum Corrie datang untuk memenuhi undangan Hanafi–di rumah, ia menanyakan kepada sang ayah bagaimana tanggapannya mengenai perkawinan antara bangsa barat dengan bangsa timur. Tuan Du Busse menjawab bahwa tak ada yang salah dengan perkawinan antar dua bangsa yang berbeda, bahkan, Tuan du Bussee dan Nyonya du Bussee adalah contoh dari perkawinan antara bangsa barat dan bangsa timur. Namun, namanya menikah dengan bangsa yang berbeda tentu akan menimbulkan banyak rintangan yang perlu dihadapi bila hal itu terjadi. Dari pernyataan tersebut, Corrie mulai berpikir bahwa pernikahan campuran seharusnya tidak terjadi pada dirinya.

Sesaat setelah ia menanyakan hal tersebut pada sang ayah, ia bergegas untuk menemui Hanafi. Setelah berjumpa, Hanafi menyatakan ketertarikannya padanya, tetapi Corrie dengan pikiran warasnya, segera menolak dan  pergi begitu saja meninggalkan Hanafi seorang diri. Tak berselang, terdengar kabar bahwa Corrie pergi ke Betawi guna melanjutkan pendidikannya tanpa  berpamitan kepada Hanafi. Sungguh, hati Hanafi langsung tak karu-karuan melihat Corrie yang dirasa menjauh darinya. 

Ditengah kebingungannya akan sikap Corrie, sang ibu malah membeberkan fakta mengenai dirinya yang memiliki hutang pada sang paman. Dimana hutang tersebut dipergunakannya untuk keperluan sekolah Hanafi dulu dan ia harus membayar hutang tersebut dan hutang budinya dengan  menikahi Rapiah, yang merupakan keponakan dari ibunya sendiri. Tanpa pikir panjang, Hanafi langsung menyetujui akan pernikahannya dengan Rapiah.

Dua tahun bersama menjalani bahtera rumah tangga tak membuat Hanafi lupa akan Corrie juga tak membuat hubungan suami istri itu berjalan harmonis. Meski sudah dikaruniai satu anak yang bernama Syafei, Rapiah hanya dianggapnya sebagai babu saja dan tak pernah dikenalkannya pada teman sebayanya.

Suatu hari ketika Hanafi sedang berbincang dengan sang ibu,  tiba-tiba ada anjing liar yang menggigit tiga jari tangannya yang membuatnya harus segera berangkat ke betawi guna melakukan pengobatan. Betawi adalah tempat dimana Corrie menempuh pendidikan dan Hanafi kembali dipertemukan dengan Corrie pada saat ia berobat. Setelah bertemu dengan Corrie, Hanafi merasa ia tak perlu lagi untuk kembali ke Solok dan memilih untuk meninggalkan ibu, istri, serta anaknya disana. Ia langsung mendapatkan pekerjaan di Betawi dengan diangkat oleh Departemen BB dan ditempatkan dibagian arsip. 

Hanafi langsung mengirim surat kepada keluarganya yang berada di Solok tentang apa yang sudah ia putuskan. Surat itu berisikan mengenai permohonan agar dirinya disamakan dengan bangsa Belanda. Dengan ia menulis surat permohonan itu, ia menyatakan keluar dari bangsanya dan diturunkannya gelarnya sebagai Sutan Pamean juga mengenai perceraiannya dengan sang istri, Rapiah. Tak lama dari itu, ia mendapat kabar bahwa permohonannya untuk disamakan dengan bangsa Belanda telah disetujui. Dengan begitu, namanya pun berubah menjadi Christiaan Han. Hari itu juga, ia segera kembali melamar Corrie. Namun,  lagi-lagi usahanya itu tak juga mendapat balasan yang baik, Corrie kembali menggantung niat baik Hanafi.

Belum genap sebulan Hanafi menunggu, ia mendapat surat dari Corrie guna menyusulnya ke Probolinggo dan dengan bersama ke Betawi untuk melangsungkan pernikahan secara diam-diam. Namun, pernikahan campuran tentu mendapat banyak pertentangan, baik dari bangsa Hanafi maupun bangsa Corrie. Mereka seolah tersisihkan dimanapun berada. Awalnya, mereka sangat bahagia setelah menjadi suami istri, tetapi adat yang ada dalam diri mereka tentulah tetap ada perbedaan meski mereka sudah setara hingga akhirnya sampai pada suatu konflik yang mengakibatkan perceraian antar keduanya, tak lain karena kesalahpahaman yang membuat Corrie memutuskan untuk pergi ke Semarang. 

Saat menyusul Corrie ke Semarang, Hanafi dikejutkan dengan Corrie yang tengah sekarat akibat mengidap penyakit kolera. Hanafi segera meminta ampun pada Corrie, tak berselang lama, Corrie meninggal dunia. Termangulah hati Hanafi atas kepergian sang belahan jiwa. Dari kejadian tersebut, ia merenungi atas apa yang selama ini telah ia perbuat pada kedua istrinya. Selanjutnya, Hanafi segera kembali ke Solok guna meminta ampun pada sang ibu. 

Sang ibu sempat menyuruh Hanafi untuk kembali bersama dengan Rapiah, tetapi Hanafi menolak karena ia telah ditinggal mati oleh Corrie yang membuatnya tak ingin beristri lagi. Disana, ia benar-benar merenungi segalanya. Hanafi sempat mengalami  depresi hingga nekat meminum obat pil sublimat hingga ajal datang menjemputnya. Kebingungan pun terjadi pada keluarganya, hendak dimakamkan dimana Hanafi ini. Ibunya ingin anaknya dimakamkan di Solok, tetapi Hanafi telah menjadi bagian dari orang Barat yang seharusnya dimakamkan di pemakaman Belanda. Hingga akhirnya, Hanafi dikubur di tanah kelahirannya, Melayu.

Kelebihan :

Alur yang digunakan sangat jelas, pengangkatan tema mengenai pernikahan campuran antarbangsa juga disesuaikan dengan keadaan pada masa itu membuat novel ini sangat menarik untuk dibaca, dan juga pesan-pesan yang disampaikan dikemas dengan sangat apik.

Kekurangan :

Banyak ditemukan bahasa-bahasa asing dan istilah dalam cerita ini, beberapa dialog cenderung sangat panjang pada setiap tokoh sehingga membuat pembaca cepat merasa bosan, dan amanat disampaikan secara tersirat hingga pembaca perlu memahami maknanya terlebih dahulu.

Penulis : Nimaswati F

Editor : Erika Ardianti Dinata

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *