[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 11/6/2022]
Menjelang akhir bulan Mei, publik dikejutkan dengan berita mengenai anak sulung dari pesohor di tanah air yang terbawa oleh derasnya aliran arus Sungai Aare, Swiss. Berita tersebut seketika menjadi pusat perhatian publik. Segala hal yang berkaitan dengan putra sang Gubernur Jawa Barat menjadi bahasan yang menarik untuk diikuti. Salah satu yang tak henti-hentinya dibahas yaitu terkait dengan keberadaan Sungai Aare, sungai indah yang ternyata telah menelan nyawa banyak korban. Di sini saya tidak ingin membahas bagaimana estetika Sungai Aare maupun cerita tentang korban yang telah kehilangan nyawa karena arusnya. Hal yang akan saya bahas akan berhubungan dengan penilaian buruk yang diberikan oleh netizen Indonesia di Google Maps terhadap Sungai Aare.
Aneh tapi nyata. Begitulah yang terlintas di benak saya saat membaca beberapa ulasan yang diberikan oleh para netizen terhadap Sungai Aare. Ibaratnya seperti ini, kamu tidak sengaja menabrak pintu dan temanmu tiba-tiba datang menyalahkan pintunya. Aneh bukan? Iya, kelakuan netizen Indonesia memang ada-ada saja. Namun yang ingin saya bahas kali ini, bukan berkaitan dengan opini tentang baik atau buruk kelakuan mereka. Saya justru tertarik mengulas isi dari komentar netizen Indonesia terhadap Sungai Aare dari sudut pandang mahasiswa Ilmu Budaya. Menurut saya, sebagian besar isi dari ulasan yang diberikan netizen, membuktikan bahwa netizen Indonesia masih menghargai keberadaan folklor sebagai bagian dari kebudayaan yang telah ada dari zaman nenek moyang. Menurut Danandjaja, folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang diwariskan turun temurun secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gestur atau alat pembantu pengingat.
Folklor sendiri ada yang berbentuk lisan, sebagian lisan, dan non lisan. Isi dari folklor sangat beragam, ada yang berupa perintah, larangan, anjuran, dan sebagainya. Folklor memiliki beberapa fungsi yaitu, sebagai proyeksi, sumber edukasi, legitimasi kebudayaan, dan sebagai kritik sosial atau kontrol sosial. Dari beberapa komentar di Google ditemukan beberapa kata kunci yang banyak digunakan oleh netizen untuk Sungai Aare diantaranya, angker, berpenunggu, seram, dan sebagainya. Kata-kata tersebut merepresentasikan bahwa warga Indonesia masih kental dengan hal-hal yang berbau mitos dan mistis. Mitos ini sendiri merupakan salah satu contoh folklor lisan yang telah ada di Indonesia sejak zaman nenek moyang. Mungkin sebagian orang akan menganggap bahwa kepercayaan terhadap folklor itu kuno dan tidak realistis. Namun, adanya keberadaan folklor menurut saya memiliki dampak yang cukup signifikan dalam mengontrol perilaku masyarakat.
Coba cermati saja pada daerah-daerah yang masih memiliki bentang alam yang elok, hampir sebagian besar pada daerah tersebut memiliki folklor yang dipercayai dan dipegang teguh masyarakat sekitar. Peringatan seperti “Tempat itu angker”, “Tempat itu ada penghuninya”, lebih ampuh membuat masyarakat takut untuk berkunjung ke tempat tersebut. Larangan-larangan yang berkaitan dengan hal mistis biasanya lebih dipercayai daripada sekadar plang peringatan yang dipasang di sudut-sudut suatu tempat. Bisa dilihat sungai-sungai di desa akan cenderung lebih bersih daripada sungai di kota. Keberadaan larangan yang bersifat mistis, membuat masyarakat kemudian enggan untuk membuang sampah di sekitar sungai, memancing ikan di sungai, dan bahkan mengunjungi sungai yang menyebabkan sungai menjadi tetap bersih. Ini membuktikan bahwa folklor memiliki peran dalam mengatur masyarakat. Pada intinya, di sini saya tidak memberi pembenaran terkait tindakan netizen yang memberi ulasan buruk terhadap Sungai Aare, saya hanya ingin mengatakan bahwa sebagian besar isi komentar netizen yang ternyata setelah ditelusuri lebih jauh merupakan suatu bagian kebudayaan dari nenek moyang yaitu folklor. Dan seperti yang sudah disebutkan di atas, folklor sendiri memiliki peran penting bagi masyarakat di Indonesia, salah satunya dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan. Saya mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, saya cinta Indonesia.
Penulis: Roichatul Jannah
Editor: Rohmatin Gita Cahyani
