[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 15/6/2022]
Bulan Juni menjadi bulan kebanggaan bagi komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di seluruh dunia untuk berkumpul merayakan kebebasan menjadi diri sendiri,Mereka biasa menyebutnya Pride Month. Perayaan tersebut seringkali dimeriahkan dengan adanya festival maupun parade.
Namun Siapa sangka, dibalik penetapan bulan Juni sebagai bulannya komunitas LGBT dulunya dilatarbelakangi oleh kerusahan yang terjadi di Amerika Serikat 52 tahun yang lalu. Kerusuhan tersebut bermula saat kepolisian setempat menggerebek sebuah bar gay bernama Stonewall Inn di New York City pada dini hari tanggal 28 Juni 1969. Buntut insiden itu adalah terjadinya “Stonewall Riot” yakni aksi protes selama 6 hari berturut-turut.
Sebelum kerusuhan Stonewell terjadi, sebenarnya kerusuhan-kerusuhan lain yang melibatkan pihak kepolisian dengan komunitas LGBT di Amerika Serikat sudah banyak terjadi. Namun, pada kerusuhan Stonewell mereka (komunitas LGBT) mulai berani melawan tindakan diskriminasi atau kekerasan yang selama ini banyak menyasar anggota komunitas mereka.
Periode 60-an dan periode-periode sebelumnya menjadi waktu yang sulit bagi komunitas LGBT di Amerika Serikat. Pasalnya, hubungan sesama jenis pada saat itu masih dianggap sebagai sesuatu yang ilegal di banyak negara bagian. Tak jarang, sebagian dari mereka ada yang didenda, dipenjara, hingga dipermalukan di depan umum hanya karena memiliki identitas atau orientasi seksual yang berbeda dari masyarakat pada umumnya.
Pada saat itu, sejumlah bar gay dipakai sebagai tempat yang aman bagi komunitas LGBT untuk mengekspresikan dirinya tanpa rasa khawatir, termasuk Bar Stonewall Inn. Namun, asumsi tersebut tak selamanya benar dan mulai mencapai puncaknya saat kepolisian melakukan penggerebekan, pemeriksaan, dan penangkapan kepada para pengunjung Stonewall Inn pada 28 Juni. Proses pemeriksaan tersebut berjalan sulit karena pengunjung bar melakukan penolakan saat diminta menunjukkan kartu identitasnya. Di luar bar, massa mulai berkerumun untuk melihat apa yang sedang terjadi. Seruan “Gay Power!” yang diteriakkan saat sejumlah pengunjung dinaikkan ke dalam mobil polisi dan desas-desus pengunjung yang ada di dalam bar mendapatkan siksaan dari polisi makin menambah gejolak kemarahan massa. Massa yang sudah emosi melempari mobil polisi dengan uang koin, botol bir, maupun material lain yang ada di tempat saat itu. Pihak kepolisian yang menyadari bahwa jumlah mereka kalah banyak dari jumlah, akhirnya memutuskan untuk “bersembunyi” di dalam bar. Namun massa yang sudah marah kemudian membakar bar tersebut. Untungnya, para polisi selamat dari kejadian itu.
Keesokan harinya, gelombang protes masih terus terjadi hingga tanggal 1 Juli 1969. Komunitas LGBT masih terus menyuarakan hak-haknya yang selama ini dibungkam lewat diskriminasi.
Kerusuhan Stonewall pada akhirnya memicu banyak aksi massa dan organisasi modern yang vokal memperjuangkan hak-hak LGBT. Pada 28 Juni 1970, ribuan orang berparade dari Stonewall Inn sampai ke Central Park dalam perayaan gay pride pertama yang kemudian dinamakan dengan “Christopher Street Liberation Day”. Hingga saat ini, Pride Month masih sering dirayakan oleh banyak komunitas LGBT di seluruh dunia untuk mengenang Kerusuhan Stonewall yang menjadi salah satu ujung tombak gerakan pembebasan hak-hak sipil kaum LGBT.
Penulis: Farikha Fitria Shabrilia
Editor: Imam Gazi Al
