[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 13/7/2022]
Menjadi raksasa media hiburan, Netflix sukses dominasi dunia entertainment global. Tercatat hampir semua konten yang dibuat dan ditayangkan secara eksklusif di Netflix sukses mendapat tanggapan yang positif dari penonton. Popularitas Netflix ini tidak hadir begitu saja, akan tetapi dibarengi dengan kontennya yang berkualitas.
Serial Extraordinary Attorney Woo misalnya, menjadi salah satu serial yang sukses mencetak peringkat satu di jajaran The Most Buzz pada minggu terakhir bulan Juni 2022. Serial ini pertama kali tayang pada 29 Juni 2022 lalu, dengan mengusung tema unik dan alur cerita yang menarik. Serial ini mengisahkan perjuangan hidup seorang pengacara pertama yang menyandang spektrum autisme di Korea Selatan dan dunia memandangnya dengan sebelah mata. Pengacara tersebut bernama Woo Young Woo yang diperankan oleh aktris Park Eun-bin dengan lawan main Kang Tae-oh.
Memerankan tokoh autisme, tentu saja bukan hal yang mudah. Namun, serial ini berhasil menunjukkan hal yang sebaliknya. Park Eun-bin bahkan mampu menggiring penonton untuk berdecap-decap kagum. Akting dan penyajian cerita pun berjalan natural dan totalitas. Sudut penceritaan yang disajikan juga tidak monoton. Berbeda dengan serial bertema sama yang akan menekankan sisi inferior autisme, dalam serial ini penonton dapat merasakan rasa senang, sedih, dan marah sekaligus. Bagi saya, serial ini sangat berpotensi mengaduk-aduk emosi penontonnya.
Permasalahan yang disorot dalam serial ini adalah polemik penyandang cacat psikologis, terutama dalam kasus autisme, yang mirisnya sering mendapat perlakuan ‘berbeda’ dari masyarakat. Perlakuan berbeda ini, seperti memandang sebelah mata, menghina secara tidak langsung maupun langsung, dan mengotakkannya dalam rumpun golongan yang tidak ‘becus’ bekerja.
Berbicara tentang realitas, bukan menjadi hal baru ketika penyandang disabilitas selalu mendapat perlakukan tidak adil dalam masyarakat. Dalam dunia kerja saja misalnya, penyandang disabilitas kerap kali dipandang kurang memiliki kapasitas, tidak profesional, secara kualitas di bawah orang non-disabilitas, dan stigma-stigma buruk lainnya. Perlakuan demikian ini tidak disadari, seperti halnya ‘menganak-tirikan’ penyandang disabilitas, yang seharusnya mendapat perlakuan lebih dari orang non-disabilitas.
Dikutip dari Republika.co.id, jumlah anak autis terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika pertambahan anak autis tiap tahun sebesar 53,220 anak, dan tiap hari kebanjiran penyandang autis sebanyak 147 anak. Dari 2012 sampai 2021 jika tiap hari pertambahan anak autis sebesar 147, maka dalam 10 tahun sedikitnya 529,200. Wajar jika tahun ini diperkirakan sebanyak 2,4 juta.
Hans Aperger, merupakan orang pertama yang melakukan penelitian tentang autisme. Ia mengungkapkan bahwa ada sisi baik dari penyandang autis. “Tidak semua yang keluar dari jalur tidak normal haruslah inferior”.
Demikian sisi yang coba disajikan pada penonton melalui serial Extraordinary Attorney Woo. Dalam serial ini, digambarkan penyandang autis tidak sepenuhnya buruk, akan tetapi selalu ada sisi lain yang tidak dapat ditemukan dalam sekali pandang. Hal ini terwujud dalam salah satu penggalan narasi cerita, yang bagi saya cukup berkesan: “Dalam cara berpikir dan pengalaman baru mereka, orang autis nantinya dapat mencapai hal-hal hebat”.
“Penyandang autis juga manusia”, rasanya menjadi ungkapan yang juga penting diingat. Ungkapan ini bagi saya sangatlah pas dengan kultur masyarakat yang memandang penyandang autis sebagai ‘orang cacat mental’ belaka. Parahnya, seringkali perlakuan tidak menyenangkan ini harus diterima pengidap austistik secara terus menerus, bahkan menjadi satu hal yang biasa. Sungguh ironi yang kejam mengingat penyandang autis juga merupakan seorang manusia, yang ‘berhak mendapat perlakuan serupa manusia lainnya’.
Penulis: Cane R.
Editor : Putri Tariza
