[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 18/7/2022]
Karya: Muhammad Jibril
di bawah deru air memeluk bumi
duduk ia pria paruh baya
Birenggono menangis di depan mata istrinya.
Curiga-curiga hanya membawa nestapa.
Kecurigaan dengan cepat menarik ajal.
Air terjun itu adalah mata yang menangis.
kesetiaan yang diragukan.
Sebelum makam itu digali, Sitti Fatimah telah hidup sebagai aliran sungai.
Dari sana ia dapat melihat tubuh suaminya terbujur kaku.
di tempat yang tinggi, keras.
Pada hari kamis, Ba’da Isya’
Birenggono akan turun dan menangis di depan mata istrinya.
Sitti Fatimah yang turun memeluk bumi.
Melihat penyeselan dalam diri suaminya. juga dalam dirinya.
Malam itu, cinta terasa begitu nyeri.
Air terjun begitu tenang. hingga tangis keduanya menelusup ke telinga orang-orang Toroan.
