Saturday, 7 November 2026
Kolom / Opini

Kepala Para Sufi

Oleh : : - Waktu Baca 7 menit
Dervish 4734595

[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 11/8/2022]

“Di bawah tanah masih terdapat berlapis–lapis kerak neraka Sehingga siapapun yang mengklaim dirinya pemimpin bumi adalah pendusta” Siti Jenar Cypher Drive – Homicide

Kata ‘Merdeka’ atau ‘Kemerdekaan’ acap kali kita dengar terutama mendekati hari kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan kerap kali dianggap sebagai satu hal yang duniawi dan tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan yang surgawi. Secara definisi, kemerdekaan sendiri adalah sebuah keadaan berdiri sendiri atau bebas dari belenggu. Maka dari itu, permasalahan surgawi atau hal yang Ilahiah pun juga dekat pula dengan masalah merdeka.

Merdeka dalam konteks ilahiah ini salah satunya telah dilakukan oleh para sufi di zaman dahulu. Sebut saja di dalam dunia mistik Islam-Jawa, kita mengenal Syekh Siti Jenar dengan konsep “Manunggaling Kawula Gusti”, yang mana dalam narasi besarnya, Syekh Siti Jenar dianggap sebagai seorang pembangkang dan sesat karena menolak tunduk atas setiap otoritas keagamaan dan raja. Watak radikal Syekh Siti Jenar inilah yang membuat para wali beranggapan untuk memenggal Syekh Siti Jenar.

Tak dapat dipungkiri, ada banyak para sufi horizontal di belahan dunia. Bagi beberapa tokoh sufi, mereka menganggap bahwa ada penyatuan diri antara Ilahi dengan hambanya atau dalam bahasanya yaitu “Wahdatul Wujud”. Konsep Wahdatul wujud dapat mengacu pada seorang sufi bernama Manshur Al-Hallaj yang mengaku bahwa dirinya adalah ‘kebenaran’. Nasibnya pun sama seperti Syekh Siti Jenar. Ia harus menghadapi tiang gantungan atas perintah ulama-ulama otoritas agama.

Jika ditarik pada konteks kemerdekaan, penyatuan diri dengan sang Ilahi adalah sebuah manifestasi dari kondisi kebebasan individu atas belenggu otoritas keagamaan seperti syariat. Tak dapat disangkal, mereka dilabeli sesat dan bid’ah bagi para otoritas agama.

Berpindah ke wilayah Asia Selatan, ada dua orang sufi yang menjadi martir atas nama pembebasan manusia. Mereka adalah Lal Shahbaz Qalandar dan Shah Inayat Shaheed. Mereka berdua memiliki rentang jarak dan waktu yang jauh, namun kedua sufi tersebut memiliki semangat radikal yang sama.

Mari membincang tokoh sufi yang pertama dahulu. Secara personal Lal Shahbaz Qalandar adalah seorang sufi yang berasal dari Iran. Pada umur tujuh tahun, ia sudah membaca Al-Qur’an sekaligus juga menghafalnya. Di umur 20 tahun, si jubah merah (julukan dari Lal Shahbaz Qalandar) telah mengikuti tarekat sufistik lalu berhijrah ke wilayah Sindh, Pakistan – lebih tepatnya di daerah Sehwan Sharif. Ia adalah sosok yang mengikuti ajaran Al-Hallaj. Ia adalah seorang sufi radikal yang menolak dekat dengan pemerintahan, Shahbaz Qalandar lebih memilih untuk dekat dengan orang-orang miskin.

Lal Shahbaz Qalandar menolak kemapanan syariat agama yang dianggapnya sebagai sebuah bentuk riya’ jika kita melakukannya. Semangat ini pun diteruskan hingga para pengikutnya sekarang. Bahkan saja, pada saat pasca bom bunuh diri yang dilakukan oleh Islam puritan di pemakaman Lal Shahbaz Qalandar, mereka masih tetap melakukan ritual Dhamaal pada malam kamis – sebuah upacara dengan tari-tarian yang diiringi dengan musik dari dhole atau kendang besar, mereka mengacuhkan polisi hingga peringatan untuk waspada. Salah satu pekerja yang menjaga kuil, Haja Shah, meneteskan air mata saat dia berkata , “Ini bukan tempat untuk polisi. Ini tempat kami.”.

Ini adalah keajaiban. Semangat antara Lal Shahbaz Qalandar dan pengikutnya sekarang masih tetap sama. Shahbaz Qalandar pun pada saat harus menghadapi kematian, ia pun mengucapkan kata-kata terakhirnya begini:

“Saya Usman i Marwandi, teman Khwaja Mansoor (Hallaj) Meskipun orang-orang menyalahkan saya, saya akan menari di atas tiang gantungan”.

Setelah membaca penggalan cerita sang Jubah Merah, mari berpindah lagi 234 km ke arah utara dari Sehwan, yaitu di sebuah kota bernama Thatta – di provinsi yang sama yaitu provinsi Sindh, Pakistan. Ada seorang kekasih Allah yang terbaring di sana, sang kekasih itu bernama Shah Inayatullah atau lebih dikenal sebagai Shah Inayat Shaheed. Ia merentang lima abad lebih maju daripada kelahiran Lal Shahbaz Qalandar.

Shah Inayat Shaheed adalah sufi sosialis sebelum kata sosialis tumbuh di tanah Eropa pada abad 19. Shah Inayat Shaheed pada masa hidupnya memperjuangkan kebebasan buruh tani atas cengkraman tuan-tuan tanah.

Sebelum Lenin memakai slogan “Peace, Land, Bread” sebagai pemantik revolusi Oktober, Shah Inayat Shaheed pun sudah melakukannya lebih dahulu. Slogan dari Shah Inayat Shaheed adalah ‘Jeko Khere So Khaye’ atau “Dia yang mengolah memiliki hak untuk makan”. Shah Inayat bersama para fakir memperjuangkan tanah kolektif atau tanah bersama.

Pada beberapa waktu, Shah Inayatullah bersama para tertindas pun memenangkan pertempuran melawan tuan tanah. Mengutip dari tulisan berjudul “How Sufi Shah Inayat Shaheed Battled to Free Sindh’s Peasants From their Landlords” yang dimuat di The Wire pada peringatan 300 tahun kematian Shah Inayat, semangat petani di semua sisi bangkit dengan kemenangan sah para fakir ini dan teror otoritas resmi dan tuan tanah juga tidak lagi seperti dulu, pada kenyataannya:

“Sebagian besar orang miskin dan distrik-distrik lainnya mulai hidup damai dalam perlindungan pelindung abdi Allah (Sufi Shah Inayat) ini setelah pembebasan mereka dari penindasan tuan tanah”.

Para tuan tanah pun geram atas tindakan sang Sufi yang terlalu menggoyahkan kekuasaan mereka atas tanah dan buruh. Akhirnya mereka pun melawan Shah Inayat dengan bantuan otoritas agama dan raja yang berkuasa. Pada akhirnya pun, Shah Inayat Shaheed pun harus menghadapi hukuman pancung di depan Subedar Azam Khan.

Tepat pada tanggal 7 Januari 1718, atau tanggal 15 Safar 1130 H. Sufi Shah Inayat dipenggal atas perintah subedar Azam Khan. Di saat-saat terakhirnya, Shah Inayat membacakan syair berikut:

‘Kamu telah melepaskanku dari rantai keberadaan. Semoga Allah memberkati Anda sekarang dan di akhirat.’

Sufi Shah Inayat dengan demikian menjadi martir. Fakir yang tak terhitung banyaknya dibunuh dengan pedang, dan kota Jhok dihancurkan. Tapi begitulah keadaan ketakutan dan keputusasaan para elit penguasa sehingga mereka gemetar atas nama para fakir. Oleh karena itu, Azam Khan membuat pernyataan bahwa jika ada yang mengucapkan kata “Allahu Akbar atau Takbir (Tuhan Maha Besar) dari para fakir dengan keras, dia akan dipenggal.” Menganalisis perintah ini, Mir Ali Sher Qaane menulis, “Segala puji bagi Allah! Betapa Ilahiahnya, kepala itu akan berguling mengambil Nama-Nya Sendiri, tetapi begitulah rute para pecinta Allah. ”

Kelompok intelektual yang mengatasnamakan ‘kiri jalan’ hari ini kerap kali mengacuhkan cerita-cerita mistik seperti ini dengan alasan tidak logis dan penuh belenggu logika mistik. Namun inilah kenyataan dalam kesunyataan. Para sufi pun berperan dalam pembebasan manusia, atau dalam bahasa Asghar Ali Engineer adalah “Teologi Pembebasan”. Bahwa agama pun berperan pula dalam menciptakan kedamaian dan kesetaraan.

Penulis: Alfian Widi Santoso

Editor: Wahyu Rizqi

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *