[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 28/9/2022]
Belum lama ini, film Atonement (2007) kembali ramai diperbincangkan di salah satu platform sosial media berbasis video, Tiktok. Atonement merupakan film romantis-misteri yang disutradarai oleh Joe Wright. Dengan latar suasana di Inggris pada tahun 1930an, film dengan alur plot twist ini sukses menguras air mata dan emosi penontonnya.
Atonement adalah film yang diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Ian McEwan. Atonement sendiri memiliki arti pengakuan dosa. Singkatnya, film ini mengisahkan seorang adik, Briony Tallis yang merupakan seorang penulis yang mana ia menulis sebuah novel berjudul Atonement sebagai bentuk pengakuan dosanya. Memang cerita yang agak rumit, tetapi akan menjadi lebih mudah dimengerti setelah kita menyelesaikan menonton film tersebut.
Briony memiliki seorang kakak yang bernama Cecilia Talis yang mana karena perbuatannya, ia memisahkan sang kakak dan pria yang dicintainya. Cecilia awalnya kesal dengan perbuatan Robbie yang memecahkan vas bunga rumahnya dan diikuti dengan permintaan maaf oleh Robbie lewat surat.
Kemudian mereka bertemu di suatu acara makan malam dan Cecilia mengakui perasaannya di perpustakaan. Briony menangkap mereka sedang bercinta dan menduga bahwa Robbie menyerang kakaknya. Kemudian, ada kasus ketika Lola, sepupu Briony diperkosa oleh seorang pria yang pada saat itu tidak terlihat jelas wajahnya. Oleh karena pikiran buruknya terhadap Robbie, Brionny memberikan kesaksian bahwa pelakunya adalah Robbie. Atas tuduhan itu pun, Robbie dikirim ke penjara dan harus berpisah dengan Cecilia atas perbuatan yang tidak ia lakukan. Robbie dipenjara selama 4 tahun dan setelahnya diwajibkan bergabung dengan Angkatan Darat Britania Raya pada Pertempuran Prancis.
Dalam film ini, visualisasi kehidupan di Inggris mulai dari bangunan, pakaian, dan aktivitas sehari-hari berhasil memanjakan mata penonton. Tidak sampai di situ, penggambaran tentang Perang Dunia II dan perjuangan tentara dan perawat saat perang juga terlihat jelas dalam film ini. Sinematografi dalam film ini juga wajib diacungi jempol karena keindahannya. Sutradara juga menyelipkan beberapa dialog dalam bahasa Perancis yang menambah sensasi tersendiri pada film. Ada kutipan menarik dari film ini yang berbunyi: “Jangan pernah percaya pelaut di tanah yang kering”.
Alasan dibalik kesuksesan film ini terletak pada narasi dan plotnya. Briony dengan sengaja memberikan akhir kisah yang bahagia pada novelnya itu. Padahal sebenarnya Robbie dan Cecilia tidak pernah bertemu setelah pertemuan terakhir mereka di restoran. Pada saat itu, keduanya tak sengaja bertemu dan Cecilia berjanji untuk terus menunggu kepulangan Robbie. Bermaksud untuk menyampaikan permintaan maaf dan kekecewaan pada diri sendiri atas perbuatannya, Briony pun membuat skenario berbeda.
Di film tersebut digambarkan Robbie dan Cecilia bertemu kembali setelah Cecilia menunggu untuk sekian lamanya. Mereka menghabiskan waktu di sebuah apartemen kecil di Balham dan pergi ke pantai menghabiskan waktu bersama dan hidup bahagia. Pada kenyataannya, Briony tak pernah mengakui kesalahannya pada Robbie maupun Cecilia. Terlebih lagi, momen yang paling menguras air mata adalah fakta bahwa Robbie meninggal saat perang karena menderita Septicemia di Bray-Dunes dan Cecilia tewas akibat bom di Balham.
Film ini ditutup oleh adegan bahagia antara Robbie dan Cecilia yang sebenarnya tak pernah terjadi dan hanya rekaan sang adik. Instrumen musik di akhir film pun tidak kalah sukses membuat penonton film Atonement menghabiskan banyak tisu. Melalui kisah ini, McEwan berhasil menunjukkan betapa tiadanya maaf merupakan hukuman terberat bagi sebuah kesalahan dan bagaimana sebuah tindakan tak disengaja pada hari ini bisa mengakibatkan konsekuensi yang tak pernah dapat ditebus untuk selamanya.
Penulis : Winda Larasati
Editor : Shofiyah Sajidah
