Saturday, 7 November 2026
Cerpen / Sastra

Di Atas Jalanan Berlumpur

Oleh : : - Waktu Baca 7 menit
Night 1890652
Sumber: pixabay.com/ David Mark

Aku memeluk kedua kakiku. Tangan dan kakiku mulai membiru, entah bagian tubuh yang lain. Bibirku bergetar pelan. Kaos dan celana pendek yang kukenakan, juga gubuk kecil—yang dulunya digunakan sebagai tempat berkumpul orang-orang sebelum ronda malam—tidak mampu menghangatkanku. Hujan yang turun semenjak lebih dari dua jam lalu, sama sekali tidak mau menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Air mulai naik, sejengkal lagi akan meraih papan kayu tempatku meringkuk. Mungkin air sungai tepat di bawah gubuk ini turut meluap. Sedangkan cahaya-cahaya yang muncul di langit, masih semangat untuk menerangi sekelilingku yang gelap.

Tak ada satu orang pun yang lewat, padahal gubuk ini tidak terletak di jalan setapak kecil menuju persawahan seperti gubuk-gubuk yang lain di daerah ini. Orang-orang mungkin takut berhadapan dengan curahan air, atau mungkin takut bertemu garis-garis putih yang terlihat seperti akar pohon beringin yang melambai di langit.

Di saat-saat seperti ini, aku biasanya di rumah, bergelung dalam selimut sambil mendengarkan bapak mengaji. Tapi aku yang bodoh ini, sudah terlanjur terjebak. Sejak lebih dari dua jam yang lalu, aku tidak akan bisa pergi dari gubuk ini.

Aku tidak tahu kapan hujan ini mulai mereda, atau akar-akar beringin yang berangsur menghilang, tapi samar-samar aku mendengar suara tahlil. Semakin lama semakin kencang. Semakin lama, aku bisa mendengar suara gesekan sandal-sandal dengan jalan tak beraspal ini, bercampur dengan suara genangan air yang mereka terjang. Dan tak lama, keranda berselimut kain hijau dan berpayung itu melintasi tempatku meringkuk. Di antara banyaknya orang itu, beberapa memegangi batang-batang bambu yang bagian atasnya terbakar, menerangi jalanan yang berlumpur ini.

Aku terduduk. Siapa gerangan yang ada di bawah selimut hijau itu? Semisal aku ada di dalamnya, apa aku bisa merasakan hangat? Atau bagaimana jika aku meminjam salah satu oncor mereka? Aku menatapi diriku. Ternyata tubuhku basah. Apa aku sejak tadi kehujanan dan tidak menyadari ini? Apa atap gubuk ini bocor?

Lalu perlahan, rombongan itu mulai menjauh, lalu menghilang ditelan belokan menuju tanah perkuburan yang tak jauh dari gubuk ini, meninggalkan asap yang perlahan menyatu dengan udara. Aku termangu, tergelitik pemikiran untuk mencuri kain hijau itu.

Aku kembali meringkuk, berharap lenganku yang kecil mampu menghalau seluruh tubuhku dari udara yang bercampur bau tanah basah ini. Baru saja aku menikmati kegelapan dalam mataku, bunyi papan kayu gubuk ini yang diinjak-injak menggangguku, hingga membuatku terbangun.

Aku melihat lelaki paruh baya duduk tepat di tepi gubuk yang menghadap jalan setelah mengitari papan kayu yang merupakan alas gubuk ini. Lelaki itu tampak termenung, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Aku seperti mengenal wajahnya yang tampak berkilau karena keringatnya tertimpa cahaya matahari, tampak familiar. Tetapi aku bahkan tidak bisa mengingat siapa diriku.

“Kalau tidak mau mengaji, dengarkan saja Bapak mengaji, Nak!” ucapnya tiba-tiba, tepat setelah berhenti tertawa. Dan lelaki itu, terus mengucapkan kalimat yang sama. Rasanya, lubang telingaku akan buntu jika sekali lagi dia mengucapkan kalimat yang sama.

Lelaki ini tampak aneh. Dia terus berucap kalimat yang entah bertuan kepada siapa. Apakah sedari tadi dia tidak menyadari keberadaanku? Mengingat itu, aku kembali memandangi diriku, mendapati diriku masih basah. Sepertinya sisa hujan semalam.

Lalu tak lama, terdengar suara lonceng yang dibarengi dengan teriakan seorang bocah laki-laki. Penjual es serut—yang biasanya diguyur sirup—berhenti tepat di depan gubuk tua ini. Bocah lelaki itu sampai di depan gubuk beberapa detik kemudian, napasnya tersengal.

“Beli satu, Paklik,” ujarnya, masih dengan napas yang tersengal. Tanpa banyak bicara, lelaki yang tubuhnya sudah mulai membungkuk itu memasang standar sepeda onthelnya, “yang biasa ya, yang warna merah,” lanjutnya, ketika lelaki tua itu akan menuang sirup pada es serutnya.

“Hei, kamu!” lelaki yang duduk di sebelahku ini tiba-tiba berujar, “Bapakmu hari ini akan mati!”

Aku terkejut mendengar ucapannya yang tiba-tiba. Lelaki bungkuk penjual es serut itu langsung menoleh, matanya melotot tajam ke arah lelaki di dekatku ini. Sedangkan bocah yang baru saja menerima es serut pesanannya itu, tangannya tampak gemetar, wajahnya memerah. Lalu dia langsung berlari entah kemana.

Lelaki bungkuk itu masih menatap tajam lelaki di dekatku, lalu berseru hingga nadi-nadi di lehernya bermunculan, “Dia anak lurah!” sedangkan lelaki di sebelahku, malah tertawa terbahak-bahak, “dasar gila!” lelaki bungkuk itu kembali menambahkan, lalu segera bergegas pergi mencari pelanggan kembali. Lelaki paruh baya di sebelahku kembali berujar ketika pedagang tadi sudah pergi, “Setidaknya akan berubah. Setidaknya akan lebih baik. Setidaknya, tidak ada lagi yang terluka sepertimu.”

Belum selesai aku mencerna kejadian tadi, segerombolan orang datang sambil berlari. Beberapa dari mereka membawa senjata tajam dan sebalok kayu. Bocah kecil tadi memimpin, masih menggenggam es serut yang tampak mulai meleleh, lengkap dengan gestur sesenggukannya.

“Hei, Darsono! Ngomong apa kamu sama anakku?” teriak seorang lelaki gempal dengan perut yang membuat kancing-kancingnya berjuang keras untuk terus menahan bajunya agar tidak lepas, “atas dasar apa kamu ngomong seperti itu? Setelah anakmu mati, mau jadi orang gila kamu?” matanya tampak berapi-api.

Lelaki di sebelahku ini, malah tertawa sambil memegangi perutnya, “Tadi ada burung camar lewat.”

“Kalau ngomong yang jelas!” teriak lelaki gempal itu tadi, sambil menarik kerah lelaki di dekatku kuat-kuat.

“Maksudnya ngomong pakai bahasa burung?” aku geram sendiri ketika lelaki di sebelahku ini malah melantur, lengkap dengan tawa.

Serombongan yang penuh bapak-bapak berkumis ini kompak berteriak, meminta lelaki gempal itu untuk mengusir lelaki gila tersebut dari desa ini. Keadaan mulai kacau. Lelaki paruh baya itu terus tertawa ketika tubuhnya ditarik-tarik dan didorong dengan kuat oleh banyak orang. Lelaki gempal tadi, dengan semangat menyeret lelaki paruh baya itu bermeter-meter, hingga sampai di jalan raya.

Di tengah kerusuhan itu, lelaki gempal tadi terjatuh, memegangi dadanya dengan kuat. Para warga yang tadinya fokus mengusir lelaki paruh baya tadi, langsung menghentikan segala gerakan mereka.

Mulut lelaki gempal itu terbuka, wajahnya menyernyit. Kedua tangannya terus memegangi dadanya. Semua orang kebingungan. Sedangkan lelaki paruh baya tadi, terus tertawa kesenangan. Dan bocah kecil itu, langsung menangis histeris, turut memegangi dada sang ayah.

Aku yang sedari tadi mengikuti mereka, masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Lelaki paruh baya tadi, tiba-tiba menghentikan tawanya. Aku terkejut ketika tiba-tiba mataku bertemu lelaki paruh baya itu. Sepertinya dia menyadari keberadaanku ketika yang lain tidak. Akhirnya ada yang menyadari bahwa aku ada. Dia tersenyum kecil. Lalu tiba-tiba berlari menjauh, meninggalkan kerusuhan yang terjadi karena lelaki gempal tadi mulai tidak bergerak.

Penulis: Dikta Sumar Hidayah

Editor: Salsha

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *