[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 5/3/2023]
Penggusuran lapak dagangan para PKL Srikana pada hari Sabtu (4/3/2023) berhasil membuat mereka menjadi pengangguran untuk setidaknya seminggu ke depan. Ironisnya, kegiatan yang pihak Kecamatan Gubeng sebut sebagai “penataan ulang” ini juga berhasil membuat Sumiati (70) atau yang juga akrab disebut sebagai Mbah Cokro dan adiknya menjadi tunawisma.
Keadaan Sumiati (70), seorang janda yang berjualan gorengan di kawasan ini tampak semakin memprihatinkan. Setelah akhirnya sembuh dari sakit yang dideritanya selama enam bulan, beliau dan adiknya yang merupakan seorang tukang becak terancam menjadi tunawisma. Selama ini, Sumiati (70) dan adik laki-lakinya yang empat tahun lebih muda darinya itu tinggal berdua di dalam warung kecilnya yang hanya memiliki lebar 4 meter saja. Setelah melapor, pihak Camat Gubeng menawarkan untuk memulangkan kedua kakak-beradik ini ke Ponorogo.
“Saya ya nggak mau dipindah ke Ponorogo. Saya sebenarnya ada keluarga juga di sana, tetapi saya tidak diberi bagian (warisan) sama sekali. Jadi, kalau saya mau ke Ponorogo juga saya mau ke mana? Setelah itu saya mau dikirim sama Pak Camat ke Ketintang. Tempat yang biasanya buat itu (panti jompo). Ya saya juga tidak nyaman tinggal di tempat seperti itu. Terus akhirnya katanya saya mau dicarikan kos selama dua bulan. Tapi katanya nggak ada, jadi saya nyari (kos) sendiri. Tapi sampai sekarang dana juga mana? Belum ada sama sekali dari Pak Camat,” ungkap Sumiati (70).
Pendapatan Sumiati tidak pernah lebih dari 40 ribu per harinya. Pendapatan ini merupakan pendapatan kotor yang membuat beliau harus memutar pendapatannya sebagai modal dagangan setiap harinya. Bahkan, ketika prosesi penggusuran, beliau hanya memiliki uang 25 ribu saja di sakunya.
“Dulu itu kan yang jualan ngelilingin kampus ini. Terus akhirnya kami dipindah ke Srikana. Itu aja butuh waktu satu tahun baru kita dapat tempat jualan. Terus nanti kalau kejadiannya kayak gitu lagi, kita mau hidup bagaimana? Katanya dapat berat 5 kg, sampai sekarang juga nggak ada. Kalaupun dikasih, ya masa orang itu nggak minum?” tambah Sumiati (70).
Selain Sumiati, ada seorang PKL Srikana bernama C. Rulik Ismiwati (60). Beliau merupakan janda dengan seorang anak yang hanya bisa bergantung padanya. Bagi beliau, warung inilah satu-satunya tempat beliau dan putranya dalam mencari nafkah untuk menyambung hidup. Rata-rata pelanggannya per hari hanya 10 driver ojek online yang semuanya hanya memesan minuman saja. Pendapatan kotor beliau hanya 60 ribu atau 70 ribu ketika ramai. Dengan pendapatan minim, kini beliau harus memutar otak agar bisa mencari nafkah selama setidaknya seminggu ke depan ketika paving di Jalan Srikana dipasang.
“Ini kan lapak kami ada banyak, bahkan satu orang itu ada yang 8 meter atau 11 meter. Ini katanya kemarin lapaknya rencananya akan diberi sekat-sekat pembatas. Per satu tempatnya lebarnya cuma dikasih 3,5 meter saja. Kalau segitu, harusnya cukup buat kita semua yang sudah ada di sini sejak lama, ‘kan? Harapannya, meskipun nanti katanya bakalan ada orang baru yang masuk ngisi lapaknya, kita semua bisa dapat, dan tidak diterapkan sistem shift,” ungkap C. Rulik Ismiwati (60).
Menurut beliau, sistem shift ini hanya akan merugikan setiap PKL. Untuk pendapatan kotor harian yang biasanya beliau dapatkan dengan berjualan hampir 24 jam itu saja sudah minim, apalagi kalau diberikan batas waktu per harinya.
“Ini semisal pas jatah kita berjualan tiba-tiba hujan, biasanya pasti sepi orang. Terus gimana kita bisa dapat uang? Terus kita juga pastinya nggak ada pegangan lagi dengan pendapatan ini. Ini gimana kita bisa makan pas pavingnya nanti dipasang? Soalnya kan pemasangannya itu katanya seminggu. Itu bisa-bisanya pihak Kecamatan bilang ‘Sampeyan berjualan dari dulu itu kok masih gini-gini aja sih, Bu? Masa gak ada pegangan sama sekali?’ Ini saja kami makannya sudah ngirit banget. Makan aja cuma beli pecel 5 ribu buat makan sehari. Itu lauknya juga cuma kerupuk. Mau nabung buat pegangan juga gimana?” tambah C. Rulik Ismiwati (60).
Para PKL Srikana sangat berharap kegiatan penataan ulang dengan mendatangkan kontainer ini bisa terlaksana dengan baik. Sehingga nantinya mereka tetap bisa berjualan. Mereka masih perlu memerjuangkan hidup mereka. Dengan keputusasaan ini, mereka tetap berdoa agar ini semua tidak hanya sekadar janji atau wacana belaka seperti kejadian tahun 2018 sebelumnya, ketika lapak PKL Srikana bagian utara dibongkar dan tidak ada kelanjutan hingga saat ini.
Reporter:
- Dikta Sumar Hidayah
- Zhepryla Devi Tamara Anggita
- Adhrie Ramafadjriyan
