Pesta demokrasi “Pemira” telah usai dengan membawa beberapa nama kandidat terpilih sebagai ketua ORMAWA (Organisasi Mahasiswa) di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Nama terpilih tersebut diantaranya, Mirasantika Insafilillah sebagai ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), Bakdiyatul Mukaromah sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Keduanya berasal dari program studi Bahasa dan Sastra Inggris. Sedangkan untuk ORMAWA tingkat prodi, ada Jordan Tugan Hutagaol sebagai ketua HMD Bahasa dan Sastra Indonesia, Fahreza Rakha Winatra sebagai ketua HMD Ilmu Sejarah, M. Iqbal Priyatna sebagai HMD Bahasa dan Sastra Inggris, serta Lintang Adiluhung sebagai ketua HMD Studi Kejepangan.
Perayaan demokrasi telah usai, yang tertinggal adalah tanggung jawab para kandidat terpilih selama satu tahun kepengurusan. Pemenuhan kebutuhan perangkat organisasi dan kewajiban mengayomi tentu akan melahirkan raga baru dalam tubuh organisasi serta inovasi program kerjanya. Hal ini memberikan suasana anyar dalam aktivitas ORMAWA. Tantangan dan hambatan tentu akan meliputi selama perjalanan organisasi.
Secara khusus, LPM Situs berusaha menghadirkan gambaran ‘wajah baru’ sejumlah ORMAWA FIB.
Pandemi Usai, Gebrakan Proker Baru Mulai Ramai
BEM menjadi organisasi yang cukup bersinergi dalam membentuk kualitas iklim berorganisasi di tingkat fakultas. Ketua BEM FIB, Bakdiyatul Mukarromah menyebutkan bahwa program kerja kedepannya akan dilaksanakan secara luring mengingat pandemi Covid-19 telah usai. Dirinya menyebutkan pula bahwa BEM FIB kini telah siap untuk lebih meramaikan Fakultas Ilmu Budaya setelah pandemi.
“Perbedaannya bakal cukup signifikan dari tahun kemarin, karena masih separuh daring, sementara tahun ini bakal full luring, jadi FIB bakal lebih rame,” ungkap Bakdi saat diwawancara.
Pihaknya juga mengatakan bahwa akan ada perombakan pada program kerja di kepengurusan ini. Salah satunya adalah dilakukannya kolaborasi proker-proker tertentu agar efisien dan menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan di FIB yang telah lama vakum akibat pandemi.
Hal serupa terjadi pada BLM FIB. Mirasantika, ketua BLM FIB mengatakan akan menghadirkan gebrakan-gebrakan baru di tahun ini.
“Tahun ini ada beberapa program unggulan yang berbeda dari BLM tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Mira.
Mira menambahkan pula bahwa tahun ini akan kembali diselenggarakan Sekolah Legislasi sebagai salah satu program unggulan BLM. Program yang kembali diinisiasi pada tahun 2022 ini akan dimaksimalkan dan diupayakan menjadi program rutin dari BLM sendiri.
Rencana Bonding dan Proker Fresh
Hal yang berbeda terjadi pada ORMAWA tingkat program studi. Jordan sebagai ketua Ketua HMD Bahasa dan Sastra Indonesia mengungkapkan akan terus berusaha membangun hubungan yang erat antar pengurus HMD.
“Saya fokus untuk membangun kedekatan dan keaktifan para pengurus. Dengan tercapainya bonding maka setiap program kerja akan terlaksana dengan tuntas,” pungkasnya.
Selain itu, Jordan berencana akan melakukan pengurangan program kerja yang dirasa tidak memiliki pengaruh besar bagi program studi maupun bagi HMD sendiri. Salah satu tantangan lain yang turut ingin diselesaikan oleh Jordan adalah kurangnya minat mahasiswa terhadap ORMAWA yang dipimpinya.
Jordan menambahkan, “Hal tersebut dapat terjadi karena HMD dianggap kurang merangkul mahasiswa lain. Beberapa mahasiswa beranggapan bahwa ORMAWA itu hanya untuk kelompok-kelompok tertentu saja.”
Beralih ke HMD Ilmu Sejarah, Fahreza sebagai ketua akan menawarkan program kerja baru yang belum ada pada kepengurusan sebelumnya yakni, Olympia dengan konsep perlombaan olahraga dan e-sport seperti futsal, badminton, fotografi, musik, dan mobile legend. Selanjutnya, Fahreza berencana membentuk IKA Ilmu Sejarah UNAIR dan Jelajah Sejarah yang luarannya dapat berupa infografis atau video. Permasalahan minat mahasiswa dalam perekrutan pengurus dan kehati-hatian dalam proses perekrutannya pun menjadi tantangan bagi Fahreza yang harus segera diselesaikan.
Branding External Jadi Prioritas
Berbeda dengan ormawa sebelumnya, Ketua HMD Studi Kejepangan, Lintang, merasa jurusan yang ia pimpin sangat kurang dalam melakukan branding. Sehingga pada kepengurusan tahun ini, ia akan fokus pada aktivitas branding eksternal.
Selain masalah eksternal, Kahima Studi Kejepangan mengungkapkan bahwa juga ada tantangan dari internal ormawa itu sendiri yakni profesionalitas para pengurus.
Melihat HMD Bahasa dan Sastra Inggris atau yang tidak asing disebut EDSA, tidak jauh berbeda dengan HMD Studi Kejepangan. Iqbal, sang ketua mengungkapkan melalui berbagai program kerja unggulan, dirinya dan staff lain akan mampu melakukan branding EDSA kepada masyarakat luas.
“Mungkin, untuk proker yang paling saya dorong itu Shakesperior, Date, dan E-nite. Tiga proker itu merupakan proker unggulan,” pungkasnya.
Terkait upaya menghadapi tantangan kedepan yang cukup beresiko terhadap HMD yang dipimpinnya, sejumlah ketua ORMAWA telah merencanakan taktik praktis untuk meminimalisir resiko. Iqbal berencana akan menyusun konsep dan persiapan matang. Sedangkan Kahima Studi Kejepangan akan melakukan evaluasi dan tindakan preventif masalah pada setiap rapat untuk menciptakan iklim organisasi yang lebih terorganisir.
Administrasi Ruwet Fakultas, Kendala Semua ORMAWA
Banyaknya keluhan terkait birokrasi administrasi dan lambannya pelayanan staf fakultas, menjadi catatan penting bagi pihak Fakultas Ilmu Budaya.
“Semoga untuk birokrasinya bisa diperbaiki lagi dalam segi penanganan persuratan.” ucap Lintang. Hal serupa disetujui oleh ketua ORMAWA lain di Fakultas Ilmu Budaya.
Selain itu, hambatan mengenai anggaran dana juga tentu lumrah dan kerap terjadi dari kepengurusan ORMAWA tiap tahun ke tahun. Hal ini berdampak terhadap beberapa pihak yang terdesak untuk menyelenggarakan program kerja sesuai timeline. Terkadang mereka harus kembali memutar otak untuk mendapat anggaran dana yang sesuai agar acara tetap berlangsung dan mempertimbangkan keberlangsungan program-program kerja berkelanjutan.
Untuk itu, perlunya dilakukan evaluasi kinerja staf agar optimalisasi organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya dapat tercapai secara maksimal dan memberikan dampak yang signifikan bagi eksistensi Fakultas Ilmu Budaya di masa mendatang.
Reporter: Yezalya, Zahrani, Syifa
Editor: Shofiyah Sajidah
