[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 29/12/2021]
KPUR Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) FIB 2021 telah mengumumkan kandidat yang lolos verifikasi untuk calon ketua dan wakil ketua BEM, dan juga calon anggota DLM dan BLM (26/12) melalui laman resmi Instagram mereka @kpur_fibua.
Dari kandidat yang dinyatakan lolos, terdapat satu paslon ketua dan wakil ketua BEM FIB, Irkham Ulumuddin (Sejarah 2019) dan Abdul Rahman Oka (Sasindo 2019). Sementara itu, untuk calon anggota DLM sendiri, yaitu Fitriana Haryanti (Sasindo 2019) dan Aisyah Amelia (Sasing 2019) juga dinyatakan lolos.
Hal yang menarik dari adanya PEMIRA sendiri, yaitu selalu menimbulkan teka-teki dan kejanggalan bagi salah satu pihak yang “merasa” dirugikan. Hal demikian sebenarnya terjadi pada diri saya di tahun lalu.
Sedikit mengusut cerita lama, saat saya dulu tengah mempersiapkan diri untuk mengumpulkan berkas guna mencalonkan maju ke PEMIRA. Terdapat berkas sertifikat yang menjadi syarat pendaftaran, namun tidak saya duga ternyata berkas sertifikat tersebut diambil oleh sejumlah oknum. Sertifikat itu sebelumnya memang masih di kemahasiswaan, tetapi ketika saya mengonfirmasi untuk mengambilnya, pihak kemahasiswaan menyatakan bahwa berkas sertifikat saya sudah diambil oleh sejumlah oknum yang menyatakan atas perintah saya, padahal hal tersebut sebenarnya tanpa sepengetahuan dan seizin saya.
Saya akhirnya mencoba mencari tahu dan mendalami motif oknum tersebut. Seperti halnya sebuah permainan teka-teki, tentu saja motifnya sudah saya temukan. Namun, atas nasihat almarhumah ibu saya, akhirnya saya enggan menindaklanjuti kejadian perkara tersebut. “Politik itu memperlakukanmu habis manis sepah dibuang,” begitulah salah satu kutipan singkat dialog saya dengan beliau.
Kembali mengingat perkataan seseorang yang sering saya dengarkan di perkuliahan, bahwa kita sebenarnya masyarakat yang cacat, tetapi tidak pernah merasa sakit. Suatu kondisi yang mewajarkan kecacatan sebagai hal yang biasa karena dapat menguntungkan pribadi atau golongan. Begitulah konsep terminologi Erich Fromm yang sering kali dipaparkan oleh beliau.
Dari beberapa tahun, sebenarnya dapat ditinjau bahwa ada yang salah dengan konstruksi politik kita. Tetapi, kembali lagi, yaitu pelaku politik cenderung mengelola konstruksi politik untuk kepentingan individu atau golongan. Tentu saja hal ini akan menjadi teka-teki, siapa yang berani mendiagnosa sakit dan membuatkan obat? Mungkin saja para pembaca yang budiman.
Menariknya, di tahun ini kejadian teka-teki semacam itu terulang kembali. Meski entah secara duga atau praduga hal ini merupakan “teka-teki” dari oknum atau bukan. Kejanggalan yang terjadi adalah pencoretan salah satu nama calon pendaftar DLM karena tidak terpenuhinya persyaratan administrasi. Tentu saja hal tersebut mendapat respon dari pihak yang “merasa” dirugikan. Tetapi, saya enggan mengupas lebih dalam mengenai hal tersebut.
Ibarat kata PEMIRA adalah sepak bola, saya di sini hanyalah seorang pandit football yang tugasnya hanya menganalisis. Selebihnya pemain, pelatih, pemilik klub, jajaran direksi, dan tentu saja penyelenggara liga yang menentukan bagaimana kompetisinya berlangsung. Bagi seorang pandit, tentu saja akan menarik melihat bagaimana ajang kompetisi yang saling sikut karena nantinya hal tersebut akan menjadi bahan analisis. Meskipun sebenarnya, mungkin sudah ada hitam diatas putih di kompetisi yang saat ini sedang berlangsung. Tetapi, kembali lagi, saya disini hanyalah seorang pandit yang bertugas menganalisis. Selamat PEMIRA dan selamat mengidam-idamkan proses demokrasi.
Penulis: Fajar Satriyo
Editor: Salsha Okta Fairuz
