Saturday, 7 November 2026
Opini

Polarisasi Massa: Lawan Api Dengan Api, Biar Semua Rata Dengan Tanah

Oleh : : - Waktu Baca 8 menit
Screenshot 2023 09 30 at 1.25.02 PM
Sumber: freepik.com

Bagi Indonesia, September merupakan bulan yang kelam dan gelap dengan banyak sekali malapetaka. Tanpa disadari, terhitung sejak September 1965 sampai September tahun ini tidak ada kejelasan soal-menyoal tragedi dan malapetaka itu sendiri. Bahkan, saking buruknya, malapetaka ataupun tragedi yang pernah terjadi di negara ini malah dipolitisasi dengan sangat masif, alias sebagai senjata pamungkas.

Di lain hal, masyarakat hari ini yang kerap kali dianggap sebagai masyarakat terdepan dalam masalah informasi, nyatanya tetap melanggengkan warisan Orde Ba(r)u perihal ingatan masa lalu terutama dalam membicarakan malapetaka 1965. Banyak sekali cerita soal pembunuhan para kyai yang dilakukan oleh partai terlarang tersebut, hingga masalah soal “komunisme berkaitan dengan atheisme”. Padahal saja, banyak sekali literatur yang bertebaran bahkan rilis baru-baru ini soal sisi lain dari malapetaka tersebut.

Tentu, tulisan ini setidaknya hanya akan membicarakan soal malapetaka 1965-1966 sebagai salah satu dosa terbesar dari negara yang sampai hari ini belum meminta maaf kepada korban yang sangat bejibun banyaknya. Ditambah lagi dengan momen hari ini yang mendekati pemilu, yang kemungkinan saja malapetaka ini kembali mencuat ke permukaan sebagai bentuk black campaign.

Bersih-Bersih Dan Lantai Penuh Darah

Pembersihan komunis di Indonesia merupakan bagian dari suatu kecermelangan coup d’etat. Tidak hanya mengkudeta dan menghabisi jiwanya, namun juga menghabisi seluruhnya, mulai dari karya ilmiah hingga kebudayaan yang sebenarnya merupakan bagian dari proyek dekolonisasi sekaligus kemandirian Indonesia.

Di lain hal, dapat dikatakan bahwa kepandaian menata intrik ini dengan cepat menjadi sebuah metode paling mengerikan. Dalam tulisan Bevins yang berjudul “Metode Jakarta”, ia menyebutkan bagaimana Amerika menghasut negara-negara pasca-kolonial untuk menghancurkan komunisme hingga ke akar-akarnya. Hal ini selaras dengan guyonan yang dibawakan oleh Vijay Prashad dalam buku “Peluru Washington: Peran CIA dalam Pembunuhan dan Kudeta di Berbagai Negara” yang baru saja diterbitkan dalam Bahasa Indonesia. Prashad berkata,

“Ada sebuah lelucon lama, mengapa tidak pernah terjadi kudeta di Amerika Serikat? Karena di sana tidak ada Kedutaan Besar AS”

Bahkan saja praktek genosida dan campur tangan Amerika Serikat ini bertindak lebih jauh lagi. Operasi Jakarta atau Metode Jakarta dicontoh oleh banyak negara dunia ketiga, karena dapat dibilang efektif nan dahsyat. Bagaimana tidak? Operasi atau Metode Jakarta ini telah menghabiskan seluruh komunis, baik itu yang memang setia pada komunis atau hanya merupakan orang papah yang mengharapkan messiah.

Di Asia Tenggara sendiri, menurut tulisan Ramon Guillermo yang berjudul “Blood-Brothers: The Communist Party of the Philippines and the Partai Komunis Indonesia” dalam buku bunga rampai yang berjudul “Kiri Asia Tenggara” menjelaskan bahwasanya kelompok konservatif kanan di Filipina sangat mendambakan pembasmian komunis yang terjadi di Indonesia.

Perlu digarisbawahi sebelumnya – terutama untuk masyarakat dan pemerintah yang ingin menihilkan peran komunisme yang merupakan bagian dari roda sejarah Indonesia, bahwasanya komunisme telah membawa angin baru soal imajinasi masyarakat tanpa kelas di Indonesia sejak masa pergerakan nasional. Bahkan kalau melihat lebih jauh lagi, menurut Tjipto Mangunkusumo menyebutkan bahwa gerakan Samin merupakan bagian dari komunalisme purba. Imajinasi anti-kolonial tersebut bukanlah milik kaum borjuasi nasional seperti Sukarno, Sutomo, dan lain-lain, tetapi juga dimiliki oleh kaum proletar sekaligus intelektual kiri seperti Semaun, Tan Malaka, hingga Darsono.

Tak terlupa juga, bahwasanya kita kehilangan segalanya tetapi darah-darah tetap membekas di lantai bangsa ini. Bagaimana tidak, riset-riset ilmiah yang dilakukan oleh institusi naungan PKI merupakan sebuah modernitas seperti yang dikatakan McVey. Ditambah lagi, banyak intelektual Indonesia yang menjadi eksil ataupun dipenjara dapat dikatakan menjadi generasi intelektual yang (dipaksa) hilang. Padahal saja, karya-karya yang sudah ataupun belum dipublikasikan akan menjadi pondasi pengetahuan untuk kemajuan Indonesia.

Mempolarisasikan Rakyat Dengan Hantu

Dalam kenyataan politik hari ini, nampaknya Indonesia terutama kelompok konservatif-kanan masih menganggap bahwasanya komunisme masih eksis di Indonesia. Kadang kala, mereka (konservatif-kanan) mengada-adakan hantu tersebut dengan ritual-ritual aneh terutama saat menjelang pemilu seperti dengan membuat bendera palu-arit lalu membakarnya, ataupun yang lain.

Sesuatu yang aneh dan lucu terkadang yang sering menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Siapa itu Neo-PKI? Seberapa kuat mereka? Tentu, secara nalar tidak akan pernah kita gapai, karena mereka hanya memunculkan fakta-fakta yang tidak terbukti kebenarannya. Bisa dikatakan lebih jauh lagi, bahwasanya pemunculan hantu-hantu komunis ini tidak lain hanyalah digunakan sebagai umpan mendulang suara dan menjatuhkan lawan politik.

Pernah ingat kasus Jokowi yang katanya pernah menghadiri pidato Aidit yang lebih tepatnya masuk frame foto “LIFE Magazine”? Sangatlah lucu sekali jika melihatnya. Memang, bisa dikata bahwasanya masih banyak masyarakat kita ini masih tidak dapat membedakan mana yang disebut hoax, dan mana yang disebut sebagai fakta atau secara singkat, masyarakat kita masih buta soal kritik data.

Di lain hal, pemerintah dari masa ke masa seakan tidak memiliki suatu keniatan untuk menuntaskan masalah HAM berat tersebut, dan malah memilih untuk memeliharanya sebagai trauma, pelajaran, dan alat politik yang sangat ampuh. Tentunya inilah yang akhirnya membuat masyarakat awam ataupun konservatif kerap tersulut dengan hantu yang keberadaannya tidak akan pernah ditemukan walaupun mereka mencari sampai ke ujung bumi.

Menertawakan Malapetaka

Tak berhenti di situ, kita harus menyoroti peran intelektual dalam perihal ini. Salah satu yang dapat disoroti adalah sebuah ironi yang malah dihadirkan oleh Neo Historia sebagai platform yang katanya menyediakan media baru dalam pembelajaran sejarah yaitu melalui meme – sebuah bentuk budaya populer yang terus hidup di tengah masyarakat siber.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Leopold Von Ranke, sejarah merupakan ilmu sosial yang melandaskannya pada objektivitas. Maka secara sederhana bisa dikatakan bahwa sejarah merupakan ilmu yang objektif. Namun sayangnya, dalam beberapa segmen terutama dalam masalah G30S yang dihadirkan oleh Neo Historia nyatanya malah cenderung condong sebelah ketimbang mendekati objektif.

Memang dapat diakui bahwa yang dibawa oleh Neo Historia adalah angin segar dalam dunia sejarah, akan tetapi keterbatasan akan selalu ada terutama ketersediaan meme yang memang bersifat satu arah. Namun lagi-lagi, Neo Historia tetap saja tidak menyediakan meme lain untuk membicarakan sisi lain dari suatu peristiwa itu sendiri.

Tampaknya, Neo Historia membuat hal tersebut karena segmentasi penontonnya yang bukan dari orang sejarah (akademisi, sejarawan, ataupun pegiat sejarah), dan kebanyakan dari pengikutnya adalah masyarakat siber yang cenderung terkotakkan secara ideologis – kebanyakan memang adalah kelompok konservatif-kanan. Pada akhirnya narasi yang dibawa sangatlah subjektif. Bahkan dalam beberapa waktu, seorang pegiat sejarah dan akademisi yang kompeten pun akhirnya turun tangan untuk melawan narasi-narasi Neo Historia yang dianggap cukup aneh.

Hal ini bahkan diutarakan oleh petinggi Neo Historia, Daniel Limantara, yang mengucapkan di laman X bahwa:

“Itulah sebabnya ketika beberapa orang menuduh Neo Historia dibayar oleh ini, dibayar oleh itu karena kami menyajikan narasi sejarah yang kurang cocok dengan perasaan mereka, kami tidak pernah mengambil pusing hal tersebut.”

Bagaimana bisa, menyajikan sejarah dengan dilandasi kecocokan perasaan. Lantas, jika berbicara soal malapetaka 1965, apakah harus dicocokkan dengan perasaan para pengikutnya, ketimbang menyajikan narasi yang objektif? Sehingga narasi yang dibawa pun adalah narasi anti-komunis dan menihilkan korban pasca-malapetaka 1965.

Memang, penulis bukanlah pengikut Neo Historia secara intens, tapi kerap kali postingan yang panas soal 1965-1966 sering muncul di beranda facebook, sehingga membuat beberapa kawan akademisi dan pegiat sejarah menjadi geram dibuatnya karena, kerap mengundang kontroversi ketimbang gelak tawa sebagaimana sasaran Neo Historia yang terkandung dalam mottonya “Menghadirkan sejarah dengan menyenangkan”. Ya, memang bagaimana caranya menertawakan sebuah malapetaka sekaligus peristiwa kelam kemanusiaan yang pernah hadir di Indonesia. Mungkin beberapa orang tertawa soal hal tersebut, tetapi bagaimanapun sebagai akademisi sejarah akan tampak seperti suatu upaya mengolok-olok sebuah tragedi kemanusiaan.

Catatan penulis:

Jika ada sesuatu yang membuat pembaca tidak terima dengan pernyataan yang penulis lontarkan, pembaca dapat melontarkan pernyataan tandingan ataupun membuka suatu debat ilmiah. Memang, penulis tidak dapat mengumpulkan banyak data, tetapi setidaknya tulisan ini menjadi ajang untuk membahas kembali tragedi kemanusiaan yang pernah ada di Indonesia agar masyarakat muda kembali ingat bahwa negara pernah membuat kejahatan luar biasa tersebut.

Penulis: Alfian Widi Santoso
Editor: Annisa Nabila

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *