Saturday, 7 November 2026
Seputar kampus

Dramaturgi XIX: Sebuah Kritik atas Ketidakadilan Sosial

Oleh : : - Waktu Baca 5 menit
Semar Gugat
Pementasan drama Semar Gugat oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Sabtu (22/6/2024). (LPM SITUS/Kamila)

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Basasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) suguhkan pementasan drama Semar Gugat di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (22/6).

Dramaturgi XIX menghadirkan masyarakat umum untuk menyaksikan pementasan drama dengan membuka sistem ticketing berbayar. Pagelaran kesembilan belas oleh mahasiswa Basasindo ini merupakan sebuah agenda tahunan sebagai bentuk pemenuhan tugas akhir mata kuliah Dramaturgi. 

“Mastaka dan nirmala” menjadi tema pementasan tahun ini. Mastaka dimaknai sebagai mahkota, sedangkan nirmala diartikan suci/zuhud sehingga maksud dari kesatuan tema ialah mahkota yang suci. Mengusung slogan “keputusasaan dan kemurkaan berbuah pada ketidakberdayaan”, Dramaturgi XIX meriahkan malam di Taman Budaya dengan menghadirkan para lakon yang mementaskan salah satu naskah drama karya Nano Riantiarno. Jargon “menyelam kisah, menyemai keabadian” turut menyambung interaksi antara pembawa suasana panggung dengan pengguna kursi penonton. Ni Luh Tu Novia selaku sutradara berharap agar persembahan ini dapat memberikan hiburan dan menjadi bagian kecil dari langkah mengapresiasi kesenian yang ada di Indonesia.

Dibuka mulai pukul 17.00 WIB, pengunjung dimanjakan dengan alunan instrumen tradisional Jawa oleh Surya Laras ketika memasuki venue juga semarak panggung oleh penampilan mahasiswa Basasindo tiga angkatan sebelum dipertemukan dengan lakon wayang Semar, Arjuna, Srikandi, serta pemain sandiwara lainnya. 

Angkatan 2023 membawakan puisi “Sihir Sunyi” karangan Fina Sato dan “Elegi” ciptaan Toeti Heraty. Musikalisasi puisi dua buah karya Sapardi Djoko Damono, “Sajak Kecil tentang Cinta” dan “Gadis Kecil” ditampilkan oleh mahasiswi angkatan 2022. Perwakilan angkatan 2021 membacakan “Sajak Matahari” milik WS Rendra sebagai penutup tampilan pembuka. 

Lantas setelah pembuka, acara memasuki inti, yakni pementasan. Pementasan berlangsung sekitar dua jam yang dimulai pukul 20.00 WIB. 

Drama mengisahkan upaya Semar dalam membalaskan dendam kepada Arjuna dan Srikandi yang telah mempermalukannya di depan umum sebelum keduanya melangsungkan pernikahan dengan memotong sejumput kuncung di kepalanya saat Srikandi kesurupan Batari Durga, sang ratu iblis. Padahal, gombak tersebut adalah simbol kehormatan bagi belahan jiwa Sutiragen.

Harga diri Semar hancur. Ia bertekad untuk membalaskan dendamnya kepada Arjuna dengan datang kepada dewa dan meminta perubahan wujud. Akhirnya, Semar berubah menjadi Prabu Sanggadonya yang gagah dan tampan lantas menantang pasutri yang telah menginjak-injak harga dirinya itu. Namun, Semar gagal memenuhi misinya untuk mempermalukan Arjuna dan Srikandi, bahkan keadaan yang terjadi justru sebaliknya.

Pementasan Semar Gugat dalam Dramaturgi XIX menyinggung konflik sosial masa kini berkaitan dengan relasi kuasa—rakyat yang menderita dan tidak bebas berpendapat di negeri sendiri sebagaimana diuraikan oleh Talita Hariyanto sebagai pembawa acara.

“Melalui pementasan teater dengan tema ini, dapat diperlihatkan bahwa kehormatan dan kemurnian yang seharusnya menjadi mahkota bagi setiap individu dapat dengan mudah tercabik-cabik oleh ketidakadilan sosial dan penghinaan. Ini adalah sebuah panggilan untuk merefleksi secara mendalam tentang perlunya menjaga martabat dan menghormati setiap individu dalam masyarakat,” terang Talita.

Berkenaan dengan penyelenggaraan acara, Puji Karyanto selaku dosen pengampu mata kuliah Dramaturgi menyampaikan kritik yang relevan berkaitan dengan “drama” selama proses menyuguhkan drama.

“Semar adalah danyang tanah Jawa yang merupakan contoh konkret betapa Semar sebagai seorang danyang Jawa sudah berusaha untuk menjadi rakyat yang baik, selalu husnudzon dengan maunya pemerintah, dengan maunya penguasa. Tetapi, terkait dengan iklim kesenian di Jawa Timur dan di Surabaya, ternyata mahasiswa yang berproses kreatif harus membayar empat belas juta,” ungkap Puji.

Pernyataan tersebut didukung oleh wakil dekan I FIB Unair, Listiyono Santoso dalam sambutannya.

“Ini bukan kegiatan bisnis. Ini kegiatan pembelajaran. Kegiataan menghidupkan ruang berkesenian bagi masyarakat di Kota Surabaya yang saat ini mungkin sudah mengalami krisis tentang bagaimana anak-anak muda di Surabaya dekat dengan selera berkesenian sehingga kegiatan-kegiatan seperti ini seharusnya diberikan ruang seluas-luasnya, fasilitas senyaman-nyamannya, dan kalau perlu, ya, gratis. Kami sedang mengomunikasikan dengan pihak provinsi, mudah-mudahan nanti kegiatan-kegiatan yang sifatnya pembelajaran ada fasilitasi dari pemerintah provinsi Jawa Timur sehingga tiap tahun tidak perlu ada ‘drama’,” terang Listiyono.

Mochtar Lutfi selaku ketua prodi Basasindo memberikan apresiasi dan motivasi kepada mahasiswa dalam berproses ke depan. “Apa pun ceritanya, inilah bagian dari tantangan yang kita hadapi,” kata Lutfi.

Reporter: Hurun’in Kamila, Nimaswati Fatmawidya

Editor: Henik Fuji

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *