Cacar Monyet, atau Monkeypox, merupakan virus yang belakangan ini mulai dikenal oleh masyarakat. Virus ini pertama kali terdeteksi di Denmark pada tahun 1958, ketika dua kasus mirip cacar ditemukan pada monyet yang digunakan untuk penelitian. Penularan virus ini dapat terjadi dari hewan ke hewan dan dari hewan ke manusia, terutama melalui cakaran atau gigitan. Cairan tubuh hewan terinfeksi juga dapat menjadi sumber penularan jika masuk melalui luka terbuka. Sementara itu, penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan darah dan cairan tubuh penderita.
Di Indonesia, kasus pertama Monkeypox dilaporkan pada 20/08/2022, Jakarta mencatat jumlah kasus terbanyak, yaitu 88. Menurut data dari WHO, terdapat sekitar 99.000 kasus Monkeypox di seluruh dunia, dengan 807 kematian yang dilaporkan.
Dampak virus ini dapat beragam, termasuk risiko kebutaan, luka pada kulit, dan infeksi. Gejala awalnya mirip dengan penyakit lain, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Setelah 1 hingga 3 hari, ruam kulit muncul dan berkembang menjadi benjolan berisi cairan yang kemudian mengering dan mengelupas. Proses ini biasanya berlangsung 2 hingga 4 minggu dan dapat sembuh dengan sendirinya.
“Cacar monyet memiliki kesamaan dengan cacar manusia. Ciri utamanya adalah munculnya bintik berisi nanah di berbagai bagian tubuh, terutama pada anggota gerak. Jika tidak ada bintik, kecurigaan terhadap cacar monyet sangat rendah. Cacar monyet umumnya lebih ringan dibandingkan cacar manusia, yang selalu meninggalkan bekas dan dapat menyebabkan kematian,” jelas Dr. Dominicus Husada, SpA(K).
Untuk mencegah penularan Monkeypox, penting untuk melakukan langkah-langkah berikut:
1. Menghindari kontak fisik dengan penderita atau hewan terinfeksi.
2. Tidak menyentuh barang yang tercemar oleh penderita atau hewan terinfeksi.
3. Mencuci tangan setelah bersentuhan dengan penderita atau hewan terinfeksi.
4. Mendapatkan vaksin Jynneos jika berisiko.
Dr. Kurnia Dwi Artanti, dr., M.Sc, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, menekankan pentingnya menjaga kebersihan.
“Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas di tempat umum dan menggunakan masker dapat menjadi langkah pencegahan yang efektif,” ungkapnya.
WHO dan CDC juga merekomendasikan vaksinasi bagi petugas laboratorium, tenaga kesehatan di rumah sakit rujukan, dan populasi berisiko. Dengan kewaspadaan dan tindakan pencegahan yang tepat, kita dapat melindungi diri dan orang lain dari penularan virus Cacar Monyet.
Penulis: Nuriyatul Muslimah
Editor: Galuh Nestiya
