Saturday, 7 November 2026
Berita / Luar kampus

Aksi Jatim Menggugat: Tuntutan Tak Terpenuhi, Massa Direpresi

Oleh : : - Waktu Baca 6 menit
Aksi

Di tengah riuh kegaduhan isu pemangkasan anggaran di berbagai sektor dan carut marut 100 hari kerja pemerintahan Prabowo-Gibran turut menimbulkan kemarahan yang berbuah gejolak demonstrasi di sejumlah wilayah. Gelombang protes meramaikan media sosial hari-hari ini. Hal itu pula yang memantik api perlawanan dari kampus-kampus, termasuk Universitas Airlangga.

Pada Jumat malam, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNAIR menggelar konsolidasi pertamanya di Amphitheater. Berbagai ruang diskusi tercipta dan nada protes satu per-satu disuarakan mahasiswa UNAIR. Selanjutnya pada minggu malam, BEM UNAIR Bersama BEM beberapa kampus di Surabaya yang tergabung dalam BEM SI JATIM mengadakan konsolidasi lanjutan untuk membahas substansi dan teknis aksi. Akhirnya dalam pertemuan itu, diputuskan akan menggelar aksi pada hari senin dengan membawa 10 poin tuntutan yang telah disepakati,antara lain:

  1. Menolak efisiensi anggaran di sektor pendidikan karena mengancam investasi masa depan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
  2. Memberikan hak-hak dosen yang mangkrak, seperti tunjangan kinerja (TUKIN) bagi dosen ASN dan memastikan kesejahteraan tenaga pendidik.
  3. Menuntut peninjauan ulang terhadap program Makan Bergizi Gratis dengan mempertimbangkan efektifitas, transparansi, serta dampak kebijakan terhadap masyarakat luas.
  4. Menolak penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di lingkungan kampus, yang berpotensi merusak lingkungan akademik, mencederai independensi perguruan tinggi, serta bertentangan dengan prinsip keberlanjutan.
  5. Menolak revisi Tata Tertib DPR RI Nomor 1 Tahun 2025, khususnya Pasal 288 A Ayat 1, karena berpotensi membatasi peran serta masyarakat dalam pengawasan terhadap kinerja legislatif serta melemahkan prinsip demokrasi.
  6. Menolak Rencana Revisi UU KUHP & UU Kejaksaan agar tidak menciptakan tumpang tindih hukum dalam proses peradilan serta mencegah terciptanya “absolute power” kejaksaan karena adanya pelebaran wewenang kejaksaan dalam peradilan perkara.
  7. Menuntut kejelasan dan evaluasi keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Sekaligus menuntut untuk evaluasi anggaran pemerintahan di kuartal pertama.
  8. Wujudkan Reforma Agraria dengan mencabut Proyek Strategis Nasional (PSN) yang justru merugikan masyarakat, termasuk Surabaya Waterfront Land. Cabut Hak Guna Bangunan (HGB) ilegal di beberapa daerah Jawa Timur.
  9. Melakukan evaluasi terhadap instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 sehingga adanya peraturan turunan dari Inpres tersebut.
  10. Hapuskan Multifungsi TNI/Polri dalam sektor sipil karena melenceng dari cita-cita Reformasi Indonesia.

Senin (17/2) ketika jam menunjukkan pukul 13.00 WIB di depan kantor Dewan Perwakilan Daerah Jawa Timur massa aksi mulai berdatangan. Mereka datang dengan membawa atribut lengkap dengan corak almamater kampus masing-masing. Tak berlangsung lama dari detik kedatangan, 20 menit setelahnya satu per-satu perwakilan organisasi menyampaikan orasinya. Namun, setelah massa aksi menunggu cukup lama dan satu per satu orator turun dari mimbar, tak ada respon yang baik dari pihak DPRD. Ban pun dibakar sebagai wujud pelampiasan kekecewaan. Apalagi ketika mendengar kabar ketua DPRD sedang melakukan kunjungan tugas di Jombang, kemarahan massa aksi pun kian tersulut. Mereka dengan semangat mencoba melewati kawat berduri yang malang melintang sepanjang jalan sehingga beberapa kali anggota DPRD yang ada mencoba mendinginkan suasana dengan memberi kabar bahwa ketua DPRD sedang dalam perjalanan menuju Surabaya.

Dengan dikawal beberapa ajudan, ketua DPRD akhirnya tiba. Ia melewati barisan massa dan langsung menaiki mobil komando. Selanjutnya ia secara normatif membacakan untaian poin-poin tuntutan. Setelah 10 poin selesai terbaca, massa aksi pun seperti tidak puas. Dengan cepat, Aulia Thariq Akbar selaku Presiden BEM UNAIR, meminta Ketua DPRD untuk segera menelpon Prabowo Subianto agar tuntutan aksi benar-benar disampaikan. Sayangnya tawaran itu tidak diterima dengan dalih ketiadaan nomor kontak. Pada momen itu juga ada anggota DPRD lain secara spontan memberikan smartphonenya dan segera menelpon Mayor Teddy. Sayangnya, berkali-kali panggilan dilakukan dan berakhir dengan penolakan. Momen lucunya bukan malah memberikan respon yang baik, ketua DPRD justru meninggalkan mobil komando. Massa pun geram dan mempertanyakan sikap DPRD dan sejumlah anggotanya.

Tak lagi mendapatkan kepastian, barisan massa yang terdiri dari beberapa kampus di Surabaya mencoba memberikan tekanan dengan mencoba menerobos kawat berduri. Tampak juga puluhan aparat dengan atribut pengamanannya terus memberikan kawalan. Hingga pada akhirnya sampai pada titik aparat kepolisian menganggap barisan massa sudah melewati batasnya dan melakukan serangkaian tindakan anarkis, ketika itu aparat yang sebelumnya bersiaga di dalam ikut keluar dan gas air mata ditembakkan. Serangan  gas air mata turut memecah barisan massa. Di barisan terdepan ada 5 mahasiswa yang diringkus di tempat oleh aparat dan dibawa ke dalam area DPRD, menurut Aulia Thariq Akbar ia mengatakan, ”Totalnya 5 orang, dari UINSA 2 dari UNESA 1.” sehingga sisanya belum teridentifikasi dengan baik.

Kabar hilangnya 5 mahasiswa itu pun terdengar di mana-mana, hal itu akhirnya membuat aliansi Badan Eksekutif  Mahasiswa melalui Aulia Thariq Akbar mengeluarkan statementnya, “Kami melihat ada beberapa kawan kita yang diambil dan kami menegosiasikan dengan baik-baik, tetapi polisi tidak mau memberikan, bahkan terkesan tidak mau mendengarkan kita.” Selanjutnya ia kembali menegaskan, “Sampai sekarang kami akan bertahan demi kawan-kawan kita yang diambil tadi.” Dalam pernyataan itu menggambarkan sikap represifitas yang ditunjukkan oleh aparat dengan meringkus beberapa demonstran. Beberapa mahasiswa mengalami luka-luka di sekujur tangan, lutut, dll. Menanggapi hal itu barisan massa pun merasa perlu untuk tidak membubarkan diri sampai titik kejelasan 5 mahasiswa yang diringkus. Pada sore harinya, kekhawatiran mereka terbayarkan ketika kawan seperjuangan dibebaskan walaupun terdapat beberapa luka di tubuhnya. Akhirnya barisan massa membubarkan diri secara perlahan dan disertai beberapa kekecewaan yang tak berujung, hal ini yang membuat memunculkan kemungkinan-kemungkinan akan ada aksi lanjutan yang lebih besar.

Reporter : Hafidz, Nazila

Editor : Deo

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *