Saturday, 7 November 2026
Berita / Luar kampus

Hujan Deras Tak Padamkan Seruan “Hentikan Eksploitasi Perempuan!”

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
Img 20250319 153837
Sumber : Dokumen Pribadi/Deo

Peringatan International Women’s Day (IWD) Surabaya 2025 digelar dengan tema “Arek-Arek Wani, Lawan Patriarki dan Diskriminasi!” pada Rabu (19/03). Aksi digelar sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan gender dan eksploitasi perempuan. Aksi ini diinisiasi oleh berbagai organisasi dan komunitas masyarakat sipil di Surabaya yang peduli terhadap isu demokrasi dan hak asasi manusia.

Rangkaian aksi dimulai pukul 14.46 WIB dari Hotel Tunjungan Surabaya. Massa aksi menggarisbawahi isu diskriminasi gender dalam dunia kerja. Khususnya terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan secara sepihak oleh manajemen Hotel Tunjungan terhadap pekerja perempuan, termasuk pekerja yang sedang hamil sembilan bulan. Massa menyoroti bahwa kasus ini mencerminkan bentuk ketidakadilan yang dialami perempuan di tempat kerja. Oleh karena itu, mereka menuntut adanya keadilan serta perlindungan bagi pekerja perempuan.

Meskipun hujan mengguyur sampai aksi selesai, massa tetap berjalan dengan penuh semangat dan terus menyuarakan tuntutan. Dari hasil wawancara dengan beberapa massa aksi, mereka mengungkapkan alasan ikut berpartisipasi karena dorongan kekecewaan dan kemarahan terhadap diskriminasi gender yang masih terjadi. Perasaan itu memotivasi mereka untuk turut berkontribusi dalam upaya pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.

Salah seorang peserta aksi, Valleri Archam Tristany, menegaskan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan gender tidak hanya tugas perempuan saja, tetapi juga tanggung jawab semua pihak. “Laki-laki yang mengatakan bahwa urusan kesetaraan gender adalah urusan perempuan, tidak ada bedanya dengan anggapan bahwa perempuan tempatnya hanya di dapur,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa manusia harus saling menghargai dan melindungi satu sama lain, termasuk kesetaraan gender terhadap perempuan yang merupakan bagian dari masyarakat.

Setelah melakukan orasi di depan Hotel Tunjungan, massa aksi melakukan longmarch menuju Taman Apsari di depan Gedung Grahadi Surabaya. Di lokasi ini, tuntutan IWD Surabaya 2025 kembali disuarakan melalui berbagai bentuk ekspresi seperti teatrikal puisi, monolog, dan orasi yang menyoroti hak-hak kaum yang mengalami diskriminasi. Valeri juga menilai bahwa aksi ini cukup inklusif karena terbuka untuk semua kalangan masyarakat. Menurutnya, teatrikal yang ditampilkan membuktikan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk menyuarakan tuntutan mereka, tanpa harus memiliki privilese tertentu.

Aksi berlangsung hingga pukul 17.35 WIB dan mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk lembaga pers yang turut hadir untuk meliput jalannya acara. Aksi ini digelar dengan harapan dapat membuka mata banyak pihak agar kesetaraan gender dan perlindungan bagi kelompok rentan benar-benar menjadi perhatian dalam kebijakan pemerintah dan kehidupan sosial masyarakat.

Reporter : Syifa, Samuel, Izzad, Frean, Maulinda Carrisa, Nijma

Editor : Disty

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *