“22 tuntutan!” Tertulis pada sebuah spanduk merah yang berkibar di atas mobil bak terbuka. Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2025 diperingati dengan aksi penyampaian aspirasi di depan Gedung Grahadi (01/05). Aksi ini dilaksanakan melalui beberapa rangkaian acara, seperti konvoi, pembacaan puisi, penampilan teatrikal, hingga live music. Massa yang memulai konvoi dari Kebun Binatang Surabaya sekitar pukul 11.00, tiba di Jl. Gubernur Suryo pada sekitar pukul 14.00.
Konvoi mulai bergerak dari arah barat Jl. Gubernur Suryo. Barisan dibuka oleh sekelompok massa yang bermain oper bola, disusul peserta yang menenteng spanduk-spanduk. Di tengah barisan, diusung patung sosok babi mengenakan jas rapi, dasi, serta menyelempangkan replika senjata api. Mobil komando dengan sound system turut mengiringi aksi, membakar semangat massa. Barisan belakang diisi mahasiswa dari berbagai universitas.
Aksi di depan Gedung Grahadi diawali dengan orasi singkat, dilanjutkan dengan pembakaran patung babi yang sebelumnya diarak. Momen ini menyulut semangat dan keramaian massa dalam aksi May Day pada Kamis sore tersebut. Berbagai orasi dan pertunjukan seni memperkuat seruan ketidaksetujuan terhadap kebijakan yang dinilai merugikan rakyat.
Biyanto – salah satu perwakilan Konfederasi KASBI – menyatakan bahwa aksi ini bukan sekadar peringatan Hari Buruh Internasional, tetapi juga untuk menyampaikan 22 tuntutan kepada pemerintah.
“Kalau tidak ada realisasi dari 22 tuntutan, kita akan lakukan konsolidasi ke daerah-daerah, terutama yang ada di Jawa Timur,” ujarnya saat ditanya soal tindak lanjut dari aksi hari ini.
Topik yang paling disorot dalam May Day kali ini adalah penolakan terhadap RUU TNI dan Omnibus Law yang dianggap menyengsarakan masyarakat sipil, terutama buruh dan pekerja.
“Salah satu tuntutan adalah tolak RUU TNI dan Omnibus Law. Itu tekanan aksi kita—tuntutan kita yang lebih prioritas,” tambah Biyanto.
Jika pemerintah tidak merespons desakan ini, aksi lanjutan yang lebih besar akan digelar.
“Kami mendorong supaya konsep kami dilaksanakan oleh Pemerintah Jawa Timur. Kalau enggak—kami bukan mengancam, tapi ini adalah kekuatan kami. Kami akan mengorganisir daerah-daerah yang tadi kami sebut. Pada akhirnya, kami akan melawan bersama-sama,” ujarnya membara.
Peringatan Hari Buruh Internasional bukan hanya seremoni tanpa makna, melainkan sarat dengan kisah penderitaan dan perlawanan kaum buruh terhadap penindasan. Selain memperingati nasib dan perjuangan mereka, May Day 2025 juga menjadi momentum menyuarakan berbagai kritik dan tuntutan kepada pemerintah.
“Sekali waktu kita akan tunjukkan kekuatan rakyat Jawa Timur melalui jaringan yang sekarang kami bangun ini.” – Biyanto, 2025
Reporter: Aldani, Samuel, Frean, Deo
Editor: Syifa
