(Surabaya, 2 Juni 2025) – Lampu redup yang terus berkedip. Tanda “Sedang dalam perbaikan” dipajang pada salah satu urinal. Pintu jebol dan hilang sebagian. Begitulah kenampakan toilet pria di lantai 1B, Gedung Warna-Warni Kampus B Universitas Airlangga. Ini masih lebih baik bila dibandingkan dengan nasib toilet wanita di lantai yang sama yang tidak bisa diakses karena sedang dalam perbaikan hingga entah kapan nantinya.
Tidak hanya pada lantai 1B, kondisi serupa juga dapat ditemukan pada toilet-toilet di lantai-lantai di atasnya. Air yang tidak mengalir. Lampu redup atau bahkan tidak bisa menyala. Grendel pintu, kepala pancuran, dan dudukan jamban yang lepas. Ada pula peralatan kebersihan seperti ember, tongkat pel, sikat, dan botol sabun yang bergeletakkan. Semua itu pun masih lebih baik bila dibandingkan dengan nasib toilet khusus penyandang disabilitas di seluruh lantai yang semuanya sama-sama tidak bisa diakses.
Memprihatinkannya kondisi toilet Gedung Warna-Warni acap kali menuai respon negatif dari para sivitas akademika. Bagaimana tidak, fasilitas yang seharusnya menunjang kesejahteraan warga kampus itu dinilai tidak memenuhi standar yang sebagaimana mestinya. Penasaran dengan respon mahasiswa, pada Rabu (28-05-2025), tim LPM SITUS turun langsung ke lapangan dan mewawancara beberapa mahasiswa. “Lampu toilet pencahayaannya nggak terang dan dinding juga toiletnya itu kotor kehitaman, jadi saat masuk di toilet itu kita ngerasa gelap”. Begitu ujar Iman Ibnu Mukhlis–seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang pernah singgah di toilet Gedung Warna-Warni.
Hal senada juga disampaikan oleh Chesta Leilani – sesama warga FIB, katanya: “Menurut saya pribadi kurang nyaman, karena toilet berada di pojok, jadi gelap karena kurang penerangan. Dan hawanya juga terasa suram”. Chesta juga menyoroti aspek keamanan dengan kondisi kunci pintu toilet yang tidak berfungsi dengan baik. “Kunci (kamar mandinya) kurang safety, jadi rawan dibuka, apalagi kondisi parkiran ramai. Kita tidak pernah tahu jika tiba-tiba kamar mandinya terbuka”.
Kekhawatiran terhadap kurangnya keamanan pada toilet Gedung Warna-Warni juga disuarakan oleh Valleri Archam Tristany–seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). “Saya sebagai seorang laki-laki merasa aman. Namun, jika kondisi seperti pintu yang rusak dan tidak bisa dikunci juga ada di toilet perempuan–itu dia yang berbahaya. Walaupun pelecehan bisa terjadi kepada kedua jenis kelamin, tetapi hal itu lebih sering terjadi pada perempuan”. Mahasiswa Ilmu Politik semester dua itu menyayangkan kondisi tersebut dan mempertanyakan citra universitas. “Masa kampus top 2 se-Indonesia toiletnya kayak gini? Ini kampus top 2 lho ya, bagaimana kampus lain yang di bawahnya? Ini tidak hanya memberikan citra yang jelek bagi UNAIR sendiri, tapi ini juga memberikan citra yang jelek bagi universitas di Indonesia pada umumnya”.
Kurang idealnya fasilitas toilet ini menimbulkan keresahan di kalangan sivitas akademika. Keresahan itu timbul baik dari aspek kenyamanan, kebersihan, hingga keamanan. Seluruh warga kampus hanya menginginkan supaya kebutuhan mendasar mereka dipenuhi oleh universitas. Ini semua tentu dengan harapan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di Kampus Jawa Dwipa yang mereka banggakan ini.
Reporter: Aldani, Dea, Carissa
Editor: Samuel
