Saturday, 7 November 2026
Berita / Seputar kampus

Filologi di Mata Dosen dan Para Mahasiswa: Masihkah Relevan?

Oleh : : - Waktu Baca 6 menit
Sumber: dokumen pribadi - Freaan

Surabaya, 14 Juni 2025 – Peminatan Filologi pada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR), tengah menghadapi tantangan serius. Fasilitas yang terbatas dan jumlah mahasiswa yang memilih peminatan ini tetap sedikit, membuat filologi kurang mendapat perhatian di tengah arus digitalisasi dan modernisasi.

Pada Selasa (4/6/2025), Tim Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SITUS melakukan peninjauan langsung ke ruang filologi yang terletak di lantai 3 Gedung FIB UNAIR dan melakukan wawancara dengan dosen kepala peminatan filologi serta beberapa mahasiswa dari berbagai angkatan. Liputan ini bertujuan mengajak pembaca untuk menyelami kembali peran penting filologi, khususnya dalam lingkup Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di kampus. 

Filologi bukan sekadar mempelajari aksara dan naskah kuno. Lebih dari itu, Ia merupakan jendela untuk menelusuri jejak peradaban dan memahami nilai-nilai yang tertanam dalam warisan literasi masa lampau. Di tengah dominasi teknologi dan budaya serba instan, filologi justru hadir sebagai ruang kontemplatif yang menantang mahasiswa untuk kembali pada ketekunan, ketelitian, serta rasa ingin tahu.

Abimardha Kurniawan, dosen Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus Ketua Peminatan Filologi FIB UNAIR saat ini, menjelaskan bahwa pada jenjang Strata 1 (S1), mahasiswa difokuskan pada pengenalan dasar-dasar filologi. “Mahasiswa diajarkan mengenali anatomi naskah, membaca aksara, serta menerjemahkan teks ke dalam bahasa Indonesia. Di tahap ini, yang paling penting adalah menumbuhkan minat terlebih dahulu,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa filologi merupakan bagian dari identitas akademik FIB UNAIR. “Filologi itu salah satu branding fakultas. Meski peminatnya belum banyak, minat mahasiswa terhadap kajian naskah terus cukup menunjukkan adanya peningkatan. Yang penting bukan soal jumlahnya, tapi bagaimana ketertarikan itu tumbuh perlahan dan dinikmati prosesnya tanpa paksaan oleh para mahasiswa,” tambahnya.

Dukungan terhadap pengembangan kajian filologi pun tak lepas dari perhatian pihak fakultas. Laboratorium filologi, misalnya, telah menerima hibah berupa perangkat digitalisasi naskah yang memungkinkan proses alih media ke format digital. Teknologi ini membantu membuat naskah dan objek kajian filologi lainnya menjadi lebih mudah diakses dan portabel. Meski demikian, keterbatasan koleksi naskah asli dan objek kajian lain masih menjadi tantangan tersendiri.

“Referensi dari dosen memang bisa diakses dengan mudah, tapi untuk praktik langsung dengan naskah asli, kami masih terbatas. Naskah itu rentan rusak dan butuh biaya besar untuk perawatannya,” jelas Pak Abi. Oleh karena itu, mahasiswa biasanya diperkenalkan pada contoh naskah, seperti naskah dari daun lontar atau naskah suku Batak, sebagai media awal untuk mengenal dunia pernaskahan.

Ruang filologi sendiri pernah mengalami beberapa kali perpindahan lokasi karena persoalan kelembapan dan keamanan ruangan yang tentunya sangat memengaruhi kelestarian objek-objek kajian filologi yang ada. “Awalnya ada di lantai satu, lalu pindah ke lantai tiga, terus sempat balik lagi ke lantai satu, dan sekarang akhirnya menetap di lantai tiga,” ungkapnya. Walaupun belum ideal, fakultas tetap menunjukkan dukungan, terutama saat menerima kunjungan mahasiswa asing yang datang untuk mempelajari naskah-naskah nusantara.

Akses mahasiswa untuk mengikuti kajian naskah relatif terbuka dan tidak begitu dipersulit. Bahkan, tim dosen peminatan filologi kerap memaksimalkan sesi-sesi Praktik Kuliah Lapangan (PKL) untuk mengenalkan mahasiswa secara langsung pada objek-objek filologis. “Biasanya kita maksimalkan sesi PKL untuk menunjukkan langsung objek kajian ke mahasiswa. Itu bisa jadi pengalaman yang lebih membekas,” tuturnya.

Namun, tantangan tetap ada. Eross, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2022,mengungkapkan bahwa minat terhadap filologi di angkatannya memang mengalami penurunan, meskipun tidak signifikan. Ia juga menyoroti keterbatasan dan keberagaman naskah yang tersedia untuk mendukung kajian filologi. “Naskah yang dimiliki oleh Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia ini cenderung fokus pada naskah-naskah pesantren atau bernuansa Islam. Jarang sekali tersedia naskah dengan genre lain, seperti naskah Jawa berjenis babad dan lain sebagainya,” jelasnya.

Sebagai bentuk evaluasi dan saran, Eross menyarankan agar peminatan filologi dapat lebih dikenalkan melalui strategi branding yang relevan dengan zaman. “Mungkin perlu adanya upaya untuk rebranding ulang filologi. Selama ini, filologi dikenal sebagai studi yang rumit dan identik dengan hal-hal kuno. Padahal, filologi masih sangat berkaitan dengan masa depan. Bagaimana kita bisa melihat ke depan jika tidak belajar dari masa lalu?” pungkasnya.

Wiwit, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, menyatakan bahwa filologi merupakan bidang yang menarik karena berkaitan dengan naskah-naskah kuno serta penelitian. Namun, ia mengakui tantangan seperti kesulitan membaca aksara dan pembelajaran yang kurang memadai membuat banyak mahasiswa enggan memilih peminatan ini.

“Kalau aku tanya temen-temenku banyak yang bilang filologi itu susah,” ungkapnya. Meski begitu, ia mengambil peminatan ini karena masih relevan dengan pengembangan pendidikan dan penelitian. Ia yakin dengan pendekatan yang kekinian seperti digitalisasi dan pelatihan dapat meningkatkan minat mahasiswa.

Senada dengan Wiwit, Pingkan, mahasiswa angkatan 2024, menilai filologi penting dalam menjaga warisan intelektual masa lalu. Ia tertarik dengan peminatan ini dan menyatakan kemungkinan besar akan memilih filologi saat memasuki semester peminatan.

Pandangan dari dosen dan mahasiswa menunjukkan bahwa meskipun jumlah peminat filologi masih terbatas, kesadaran akan pentingnya kajian ini mengalami peningkatan. Dukungan teknologi, kemudahan akses, serta upaya pengenalan yang lebih inovatif menjadi faktor penting dalam membuka peluang bagi filologi untuk kembali berkembang. Meski tantangan masih ada, langkah-langkah kecil yang diiringi kolaborasi erat antara dosen, mahasiswa, dan pihak fakultas dapat menjadi pondasi kuat untuk menjaga keberlanjutan kajian filologi. Dengan upaya bersama, filologi dapat tumbuh menjadi ruang belajar yang relevan dan membanggakan bagi generasi masa kini, karena melestarikan warisan literasi Nusantara adalah tanggung jawab bersama. Sebab, menjaga dan menghidupkan warisan literasi Nusantara adalah tanggung jawab bersama yang tidak boleh terabaikan.

Reporter: Arum, Chesta, Freean,

Editor: Kesya

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *