Saturday, 7 November 2026
Berita / Luar kampus

Rakyat Surabaya Menolak Tunduk dan Diam: Aksi Organik Solidaritas Dibalas Represifitas Brutal Aparat

Oleh : : - Waktu Baca 5 menit
Sumber: dokumen pribadi - Freean

Tanpa basa-basi, tanpa karangan kata-kata, lemparan benda-benda keras menghiasi langit Surabaya, tepatnya di depan Gedung Grahadi. Sorak-sorak perjuangan menggema bersama dengan massa aksi yang terus bertumpahan di jalan. Semua mengenakan satu identitas: pakaian hitam. Semua membawa satu aspirasi: “usut tuntas brutalitas Polri”.

Mereka menuai apa yang mereka tanam. Pada Jumat (29/08/2025), aksi besar pecah sebagai akibat dari akumulasi kekecewaan terhadap para dewan rakyat serta centeng-centeng berseragamnya: polisi. Semua bermula dari tragedi di malam sebelumnya, yaitu Kamis (28/08/2025), yang telah membunuh seorang pemuda—calon tulang punggung keluarga—seorang pengemudi ojek online di Jakarta. Pemuda tersebut bernama Affan Kurniawan, meregang nyawa di atas aspal jalanan Ibu Kota setelah terlindas oleh kendaraan Brimob. Tragedi ini lantas memantik amarah masyarakat luas, dan menjadi bahan bakar aksi-aksi yang terjadi di beberapa kota besar, salah satunya di Surabaya.

Pukul 14.47, peserta aksi sudah terpantau meluapkan kekesalan akibat tindakan kesengajaan oleh kepolisian. Peserta aksi melakukan tindakan bukan atas koordinasi atau paksaan dari pihak lain, melainkan tumbuh organik atas nama solidaritas masyarakat yang terkena represifitas aparat. Pada awalnya, aparat hanya menyediakan mobil water cannon di Gedung Negara Grahadi bagian selatan sejumlah dua unit. Di sisi lain, water cannon pun juga disediakan di pintu bagian utara serta di Jalan Gubernur Suryo dekat SMA Trimurti. Ditambah beberapa aparat yang menggunakan atribut pelindung diri berupa tameng dan alat pukul di dalam area Gedung Grahadi. Peserta aksi awalnya hanya berfokus di pintu selatan serta melakukan pembersihan kawat berduri.

Tindakan represifitas aparat pertama ditunjukkan dengan tembakan water cannon di pintu selatan Grahadi. Tembakan langsung menuju peserta yang berada di depan pagar. Peserta aksi membalas tindakan tersebut dengan melempar kerikil, kayu, dan merusak hiasan pagar di Gedung Grahadi. Aparat kembali membalas tindakan tersebut dengan menembakkan water cannon ke arah peserta. Pola tersebut terus terjadi secara berulang. Ketika sebagian peserta fokus ke pintu selatan, dari arah Embong Malang terdapat tambahan peserta mengenakan atribut ojek online. Kedatangan tersebut disambut meriah oleh peserta aksi. Peserta tambahan tersebut langsung melebur ke peserta aksi yang sudah ada di depan Gedung Negara Grahadi. Setelah kedatangan peserta tambahan, fokus peserta beralih ke pintu utara. Dibuka dengan pembongkaran hiasan pagar dan melempar kayu, batu, dan kerikil sebagai akibat tindakan represifitas aparat di gerbang selatan. Setelah itu, fokus peserta kembali ke arah pintu selatan Gedung Grahadi. Secara tiba-tiba, pasukan kepolisian dari arah Gubernur Suryo (dekat SMA Trimurti) mengeluarkan water cannon dan dilengkapi dengan barikade aparat berpelindung diri. Amukan massa seketika beralih ke pasukan tersebut, dan amukan tersebut dibalas dengan tembakan water cannon kepada peserta. Tidak hanya peserta, tembakan tersebut mengenai pujasera Taman Apsari, posko medis, pos logistik, dan beberapa teman media.

Jam menunjukkan pukul 15.00, aparat menambah sifat represifnya dengan menembakkan gas air mata ke arah peserta. Tembakan pertama diarahkan ke peserta aksi yang berada di pintu selatan. Tembakan tersebut menyebabkan beberapa peserta mengalami iritasi mata dan pernapasan serta mengenai teman media. Tidak hanya itu, tembakan tersebut juga masuk ke area sipil yaitu SDN Airlangga 1. Tembakan kedua diarahkan oleh aparat menuju Taman Apsari. Represifitas aparat benar-benar terbukti di sini, di Taman Apsari terdapat posko medis dan posko logistik peserta yang tidak seharusnya diserang oleh aparat. Setelah menembakkan gas air mata kedua, aparat mulai memukul mundur massa ke arah simpang empat air mancur. Di sini, aparat lagi dan lagi menggunakan cara represif. Ribuan liter air dari water cannon dan beberapa gas air mata ditembak ke arah peserta untuk memukul mundur massa menjauhi Grahadi. Tampak tidak cukup dengan water cannon dan gas air mata, aparat membuat kacau psikologis peserta aksi dengan menembakkan senapan berisi peluru yang bisa meletus dan menghasilkan suara ledakan. Hal tersebut cukup membuat peserta aksi kewalahan. Setelah pukul 16.30, fokus aksi bukan lagi di depan Gedung Grahadi melainkan di depan SMAN 6 Surabaya. Polisi dan peserta terus saling menuangkan amarahnya di sini. Tampak beberapa tembakan gas air mata diluncurkan hingga mengenai Gedung Tembakan gas air mata diluncurkan hingga mengenai Gedung OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Pukul 17.18, aparat terus melangsak maju dan memukul mundur peserta ke arah simpang empat air mancur. Di sini, peserta aksi terbelah menjadi tiga arah: ke arah Balai Kota, simpang empat Bambu Runcing, dan ke arah Panglima Sudirman. Peserta yang terpecah pun tidak menyurutkan aparat untuk menunjukkan sifat arogannya. Aparat terus menembakkan gas air mata, dan pistol, untuk memaksa mundur peserta. Terbukti, aparat menembakkan gas air mata hingga ke depan Plaza Surabaya dan simpang empat Bambu Runcing. Tempat yang jauh dari lokasi aksi dan tempat masyarakat sipil beraktivitas pun kena tindakan represif dari aparat.

Sampai berita ini rampung, aksi massa terus berlanjut di kota-kota besar, tak terkecuali di Surabaya. Di Surabaya, titik api terus meluas hingga ke Stasiun Gubeng dan tempat-tempat lainnya. Dari informasi terbaru, massa mulai menargetkan pos-pos para centeng kekuasaan berseragam cokelat. Nampaknya, perlawanan di Surabaya belum lagi padam. Apakah hari ini adalah titik awal suatu perubahan?

Penulis: Deo, Afghan, Yongki, Freean

Editor: Syifa

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *