Saturday, 7 November 2026
Kolom / Opini

Bayang-Bayang AI: Ketika Kecerdasan Buatan Membajak Suara Rakyat

Oleh : : - Waktu Baca 4 menit
Sumber: iStock - Wanan Yossingkum

Kejadian memanas pada Agustus lalu tidak hanya memantik demonstrasi di berbagai daerah, tetapi juga banjir informasi di media sosial. Di awali isu tunjangan DPR, kasus tragis kematian pemuda ojek online, hingga tuntutan 17+8, publik dengan cepat memperoleh kabar melalui gawai mereka. Namun, kecepatan informasi tidak selalu berarti kebenaran.

Produksi berita tanpa dibatasi ruang dan waktu memberikan kecepatan akses persebaran informasi. Media sosial yang menjadi wadah berbagi informasi kemudian mampu menggerakan massa dengan berbagai bentuk penyajiannya. Akses persebaran informasi tidak hanya memberikan kemudahan bagi masyarakat mengetahui situasi di berbagai daerah, tetapi juga menimbulkan sebuah bias pada berita-berita tertentu. Fenomena ini diperkuat sebagai apa yang disebut sebagai echo chamber (ruang gema), yaitu kondisi ketika masyarakat hanya terpapar informasi yang sejalan dengan keyakinan kelompoknya. 

Dalam lingkup media sosial, algoritma menyajikan visual-visual sesuai dengan keyakinan penggunanya. Maka, kepercayaan individu yang diperoleh secara subjektif terus mendapat validasi oleh lingkungan sosialnya. Hal ini menimbulkan kepercayaan bahwa keyakinannya adalah kebenaran. Akibatnya, berita yang belum tentu benar bisa terdengar berulang-ulang hingga dianggap sebagai fakta. Lebih jauh lagi, ketika keyakinan tersebut diadopsi oleh mayoritas, maka konstruksi sosial yang terbentuk dapat seolah-olah menggeser mitos menjadi fakta. 

Di tengah maraknya demo, masyarakat juga disuguhi konten menyesatkan. Salah satunya ialah video tentang Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan. Dalam konten yang tersebar di media sosial, Sri Mulyani memberikan pernyataan kontroversial tentang guru adalah beban. Setiap masyarakat mengetahui bahwa guru merupakan tenaga pendidik yang berperan besar dalam dunia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentunya, fenomena tersebut menciptakan kebencian besar dari masyarakat, karena dinilai tidak pantas diucapkan oleh seorang Menteri. Akan tetapi, setelah ditelusuri sumber videonya, berita tersebut adalah hoaks yang diciptakan oleh AI (Artificial Intelligence). 

Fenomena perihal hoaks yang diciptakan oleh AI juga menjadi perdebatan pada video yang memuat seorang ibu berkerudung merah muda, seorang warga yang aktif mengikuti demo sehingga menjadi sorotan. Pada awalnya, masyarakat menyanjung kehadirannya karena dianggap pemberani dan menjadi simbol perlawanan. Akan tetapi, kemudian muncul konten-konten yang memperlihatkan ibu tersebut mengatakan ujaran kebencian kepada pihak tertentu. Hal tersebut menimbulkan bias dan perdebatan. Esensi demo untuk menuntut keadilan seketika berubah sebagai demo untuk menjadi samsak buzzer pihak tertentu. Hingga saat ini, masih menjadi perdebatan di kelompok masyarakat, perihal sebagian mempercayai bahwa konten tersebut adalah hasil dari AI. Akan tetapi, adapun yang mempercayai bahwa konten tersebut nyata. Dalam artian sulit sekali bagi masyarakat membedakan antara hoaks dan fakta.

Media sosial telah menjadi bagian dari hidup masyarakat, sehingga konten yang dihasilkan oleh media sosial dikonsumsi secara masif. Sayangnya, saat ini media sosial tidak dapat seutuhnya dipercaya sebagai sumber informasi yang kredibel karena ganasnya AI dalam memodifikasi sebuah fakta. Ketiadaan jarak antara media sosial dan masyarakat menjadikan media sosial sebagai senjata untuk memengaruhi pola pikir masyarakat melalui polarisasi yang muncul antara kelompok masyarakat.

Tujuan masyarakat yang pada mulanya menuntut sebagai bentuk protes atas ketidakpuasan kinerja pemerintah dalam membangun bangsa, menjadi berbelok fokusnya untuk saling menyerang antar kelompok masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat perlu membekali diri dengan literasi digital agar tidak mudah terprovokasi oleh rekayasa teknologi. Tanpa literasi digital, masyarakat akan terus terjebak dalam manipulasi, dan suara rakyat yang sejatinya murni bisa dimanfaatkan oleh kepentingan politik sempit hingga merugikan masyarakat itu sendiri.  

Penulis : Orchy

Editor : Agiesya

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *