Saturday, 7 November 2026
Berita / Luar kampus

Aksi Kamisan Ke-900: Tiada Satupun Suara yang Pernah Didengar

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
Sumber pribadi - Hafidz

(05/03/2026) – Di bawah langit kelabu dan rintik hujan yang menyelimuti Taman Apsari Surabaya, Aksi Kamisan genap berpijak pada angka ke-900. Sejak pertama kali diinisiasi oleh Ibu Sumarsih, tuntutan keadilan bagi korban pelanggaran HAM berat masih belum menemui titik terang. Dengan tajuk “900 Kali Berdiri, Pelanggar HAM Harus Diadili,” massa aksi kembali menegaskan bahwa ingatan tidak akan pernah luntur meski waktu terus bergulir.

Aksi Kamisan kali ini bekerja sama dengan komunitas di Surabaya, yaitu Tim Hindia Surabaya, Teater Penggalih, dan Front Muda Revolusioner; yang juga menggelar lapak baca di sisi kanan mimbar aksi. Kiranya 100 massa umum hadir dalam aksi ini, baik jurnalis,  mahasiswa, maupun masyarakat umum.

Aksi dimulai pukul 16.00 WIB, dengan pembukaan MC menjadi pemanggil massa yang tersebar di Taman Apsari. Lalu, aksi berlanjut dengan sesi mimbar bebas. Sesi ini diisi dengan berbagai penampilan, seperti orasi dan penyampaian puisi. Sesi mimbar bebas dilanjutkan dengan sesi menyanyi bersama, di mana massa dipersilakan untuk berdiri dan menyanyikan lagu yang sudah disiapkan oleh Tim Hindia Surabaya, yakni: “Anak Itu Belum Pulang”, “Kami Belum Tentu”, “Berita Kehilangan”, dan “Gugatan Rakyat Semesta”. Aksi kemudian diakhiri dengan penampilan Teater Penggalih dan penyalaan lilin sebagai bentuk simbolik.

“Jangan cukup datang hari ini saja, datanglah di aksi yang berikutnya. Karena kamisan akan konsisten dibawah payung hitam sebagai simbol perlawanan kami,” harap salah satu bagian dari Aksi Kamisan, saudara Ihsan.

Aksi tetap berlanjut di bawah gerimis yang datang-pergi. Sejumlah massa aksi tetap berdiri sambil merentangkan payung dan mengenakan jas hujan. Selain itu, pihak penyelenggara juga menyediakan sejumlah payung untuk massa aksi.

“Yang paling terlihat perbedaan aksi Kamisan ini dengan Kamisan lain adalah jumlah massa yang hadir, lalu kegiatan yang lebih beragam,” ucap salah satu anggota Tim Hindia Surabaya, Adelia Naumi.

Aksi bersambung dengan sesi foto bersama sebelum akhirnya tim penyelenggara membagikan nasi kotak dan air minum pada 17.54 WIB, menjelang waktu buka puasa. Menurut Adelia, takjil seperti donat, kurma, dan air merupakan hasil kolektif dan donasi.

Reporter: Hafidz, Fey
Editor: Agiesya, Sam

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *