Area Taman Perpustakaan Kampus B Universitas Airlangga (UNAIR) dikeluhkan berbau tidak sedap akibat kotoran kucing yang berserakan di mana-mana. Kondisi bau tidak sedap ini diperparah oleh pengelolaan kebersihan dan fasilitas pembuangan kotoran yang kurang memadai sehingga mengganggu kenyamanan mahasiswa yang berkegiatan di sekitar taman. Aroma tak sedap tersebut dilaporkan menyebar di beberapa titik utama taman, seperti area rumput sintetis, bebatuan, bawah pohon trembesi, dan area sekitar gazebo di samping perpustakaan.
“Kalau menurut aku, bau yang paling menyengat tuh di bagian batu-batuan bawah pohon, sih,” kata Michelle, salah satu mahasiswa yang tengah berada di lokasi. Selain itu, bau kotoran ini tercium lebih pekat pada siang menjelang sore hari ketika angin bertiup kencang, serta sesaat setelah hujan turun. Kondisi lingkungan yang kurang kondusif ini menyebabkan mahasiswa lebih memilih untuk berpindah ke lokasi lain, seperti masuk ke dalam gedung perpustakaan, gazebo, hingga kawasan Srikana Food Walk.
“Mungkin karena bau, aku lebih pilih-pilih tempat sih, kayak dalam perpus, terus tempat nongkrong lain seperti Srikana, gitu,” ucap Alex, seorang mahasiswa baru yang tengah duduk di area taman perpustakaan.
Meskipun merasa sangat terganggu, para mahasiswa mengaku belum pernah menyampaikan laporan resmi kepada pengelola kampus karena kebingungan dan ketidaktahuan mereka mengenai alur pengaduan yang tepat.
Di sisi lain, petugas kebersihan UNAIR mengungkapkan bahwa pihak kampus sebenarnya tidak menyediakan pakan maupun fasilitas khusus untuk kucing, sehingga hal ini murni dipicu oleh inisiatif mahasiswa.
“Sebenarnya, kucing-kucing itu datang ya karena mahasiswanya sendiri yang sering ngasih makan. Nah, semenjak itu kucingnya malah kumpul. Sudah sempat dibuang, tetapi malah kembali lagi,” ujar (nama petugas), salah satu petugas kebersihan di sekitar, ketika ditanya tentang pemicu kehadiran kucing-kucing di area taman perpustakaan. Beliau juga menambahkan bahwa masalah kotoran kucing ini sudah di luar tanggung jawab kampus, sehingga petugas kebersihan area taman perpustakaan tidak bertanggung jawab untuk membersihkannya. (Nama) menegaskan bahwa tugas utama mereka adalah membersihkan daun-daun yang gugur serta menanam dan menyiram tanaman di area kampus, bukan menangani kotoran kucing yang terus muncul.
Hingga saat ini, persoalan kotoran kucing belum menemukan jalan keluar yang efektif. Dari pihak mahasiswa, keterlibatan aktif juga masih minim. Mereka hanya sebatas rajin memberi makan tanpa diimbangi dengan inisiatif untuk turut menjaga kebersihan atau mengatasi dampak dari keberadaan kucing tersebut. Tanpa adanya kolaborasi nyata antara kesadaran mahasiswa, tindakan taktis petugas, dan kebijakan tegas dari pengelola kampus, beban pembersihan sepenuhnya menumpuk di pundak petugas kebersihan yang memiliki keterbatasan waktu dan alat kerja.
Penulis: Adellia, Lady, Nivea, Puspita, Quinsha, Zahara
Editor: Balqis, Jaya
