Saturday, 7 November 2026
Luar kampus

10 November Membara, Mengingat Kemegahan Sejarah yang Pernah Ada

Oleh : : - Waktu Baca 4 menit
21
Perayaan hari pahlawan yang diselenggarakan oleh PASKAS. (Alfi/LPM SITUS)

[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 12/11/2021]

Menjelang bulan November, nuansa Surabaya tiap tahunnya selalu saja membara. Tak pelak lagi, bulan November menjadi satu momentum yang akan terus diingat oleh siapa saja yang merasakan kemegahan identitas bangsa ini. Tepatnya, 10 November menjadi peringatan Hari Pahlawan bagi bangsa Indonesia.

Pada 10 November, kita semua tahu bahwasanya negara ini (terlebih Surabaya) didatangi lagi oleh Inggris yang diboncengi oleh NICA, yang mana hal tersebut merupakan sinyal bahaya mengenai invasi. Ditambah lagi dengan kematian seorang jenderal Inggris, AWS Mallaby ditangan arek-arek Suroboyo. Peristiwa itu bisa saja menjadi satu kemegahan atau satu citra buruk bagi satu bangsa—tercatat, dalam koran-koran barat yang sezaman bahwasanya kaum republik adalah kumpulan ekstremis atau penjahat perang karena telah membunuh seorang komandan perang. 

Tak mungkin juga jika warga Indonesia akan mengiyakan surat-surat kabar barat yang membawa hasrat politik di dalamnya. Pastinya warga Indonesia akan menganggap bahwa itu adalah satu kemegahan sejarah yang tidak akan pernah terlupa. Jika saja warga Indonesia sekarang memercayai hal tersebut sebagai satu kejahatan perang, maka tak akan lagi ada gelora riuh warga untuk memperingati Hari Pahlawan.

Nyatanya, semangat juang ’45 pun tetap menggelora di mana-mana. Pada 9 November 2021 kemarin, Kayoon Heritage, salah satu kafe yang ada di Surabaya ikut memeriahkan Hari Pahlawan dengan aksi teatrikal yang berkolaborasi dengan PASKAS (Paguyuban Sepeda Kuno Arek Suroboyo), salah satu pionir dari pembentukan festival Surabaya Membara. Suasana begitu membara, ditambah lagi dengan kondisi tempat yang telah membawa kita ke dalam suasana pergolakan pemberontakan yang disampaikan melalui teatrikal. 

“PASKAS adalah salah satu penggerak dari Surabaya Membara. Sederhananya, PASKAS ikut andil sejak awal dalam bagian pemain dan aktornya,” ucap Ikhsan yang telah menggeluti dunia sepeda ontel selama 18 tahun. 

Biasanya, anggota PASKAS ini tampil di Tugu Pahlawan setiap 10 November. Namun, adanya pandemi menyebabkan mereka tidak bisa lagi tampil seperti tahun-tahun sebelumnya. Teatrikal kali ini mengangkat salah satu adegan saat tentara Inggris datang menyerang arek-arek Suroboyo pada pertempuran 10 November.

Pementasan yang digelar di halaman Kayoon Heritage ini terbilang cukup sederhana. Dengan menggunakan latar belakang bangunan Belanda yang sudah runtuh, kesan artistik yang dihasilkan membuat suasana teatrikal ini terlihat hidup. Walaupun tempat pementasan terbilang cukup sederhana, tetapi tidak mengurangi sedikit pun kesakralan suasana perang yang digambarkan pada teatrikal.

Kegiatan Teatrikal untuk memperingati hari pahlawan oleh PASKAS. (Alfi/LPM SITUS)

Para pemain sudah sangat menantikan gelora teatrikal ini. Kegiatan ini juga memiliki arti ekstrinsik sebagai simbol untuk menyambut dunia yang sudah lelah berperang dengan pandemi selama kurang lebih dua tahun.

“Tak lain, ini adalah kegiatan yang benar-benar diinginkan pada pasca-pandemi,” tutur salah satu pemain teatrikal dari kelompok PASKAS, Aftian.

Bukan bermaksud menjadi satu glorifikasi, akan tetapi gerakan teatrikal ini juga ikut bersumbangsih dalam pembentukan identitas bangsa. Selain dalam pembentukan identitas bangsa, teatrikal ini menjadi satu bentuk edukasi yang menyenangkan, bahkan kita pun tidak merasa bahwa kita sedang belajar sejarah. 

“Hal ini membuat kita untuk terus mengenang jasa para pahlawan pada masa perang,” ungkap Raka, salah satu kaum muda yang ikut berperan dalam teatrikal ini.  Sebagai pamungkas, kiranya sangat tepat untuk memperingati hari Pahlawan ini dengan ungkapan yang diutarakan oleh G.W.F Hegel, “Perlakuan paling konyol yang sering diterima sejarah adalah manusia tak pernah mau belajar darinya”. Pada artian, kita dapat belajar mengenai nilai yang dapat kita petik maupun sebagai pembelajaran agar bangsa ini tetap berdiri tegak dengan identitasnya di antara hantaman dunia yang sewaktu-waktu bisa merobohkan bangsa ini sehancur-hancurnya seperti penjajahan yang telah nenek moyang kita rasakan dahulu.

“Historia Magistra Vitae”
-Cicero.

Penulis: Alfian Widi Santoso
Editor: Salsha Okta Fairuz

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *