Bertabur oleh siluet oranye langit Surabaya pada sore hari pukul 16.30 WIB, Taman Apsari kembali menjadi saksi bisu digelarnya Aksi Kamisan ke-879 di Surabaya pada Kamis (25/09/2025). Bertepatan momen September Hitam, Mimbar Bebas yang digelar bersamaan dengan pameran seni sederhana yang disebut KAWAN (Karya Perlawanan) itu mengusung tema “September Hitam: Rantai Impunitas yang Tak Pernah Puntas”. Aksi damai yang dibawa oleh Salsa dari Aksi Kamisan Surabaya sebagai pemandu acara itu mengenang segala tragedi kelam yang terjadi di bulan September, dimulai dari perjuangan seorang ibu yang hingga kini mencari keberadaan anaknya yang hilang tanpa jejak dan kejelasan dari pihak yang berwenang; pembantaian 1965-1966; Tragedi Tanjung Priok; Tragedi Semanggi II; pembunuhan Munir, Salim Kancil, dan Pendeta Yeremiah; hingga brutalitas aparat yang menjadi salah satu pemantik gejolak amarah masyarakat.
Kehadiran beberapa arapat di area Taman Apsari tidak memadamkan semangat mereka yang tampil di Mimbar Bebas dengan membawakan orasi, puisi, serta lantunan musik perlawanan dihadapan lebih dari 50 massa yang hadir. Pembacaan puisi oleh Sandira dari mereka yang telah mengirimkan karyanya lewat forum submission online menjadi pembuka aksi sekaligus sesi mengenang deretan tragedi kelam di bulan September dan ungkapan rasa kekecewaan terhadap mereka yang berwenang atas birokrasi Indonesia. Kemudian ada Rivan, mahasiswa FISIP UNAIR angkatan 2024 yang secara menggebu-gebu dan penuh akan emosi mengudarakan puisinya yang berjudul Mata Luka Sangkon Karta. Selanjutnya, Zaldi Maulana dari KontraS Surabaya yang menyoroti pergolakan aksi di bulan Agustus dari elemen masyarakat sipil yang menuntut agar negara berhenti berbuat semena-mena dengan membuat rakyat semakin resah melalui tindakan penindasan, penangkapan, pembunuhan, serta penetapan kebijakan-kebijakan yang tidak terarah. Selain itu, Zaldi juga menyoroti rilisan informasi dari Mabes Polri yang menyatakan ada sekitar 1000 orang, termasuk di dalamnya 400 anak di bawah umur, yang dijadikan tersangka dalam deretan aksi dari awal hingga akhir Agustus tahun 2025.
“Negara sekarang suka sekali membuat narasi-narasi yang membenturkan antara masyarakat A dengan masyarakat B dengan narasi bahwasanya mereka yang ditangkap adalah mereka yang anarkis, anarko, maupun penganut anarkisme. Itulah yang menjadi alasan negara untuk mengkriminalisasi kawan-kawan kita yang kini sedang ditahan,” ujarnya.
Aksi kamisan kali ini juga dibersamai oleh lapakan buku yang diselenggarakan oleh Komunitas Rabu Sore dengan beranggotakan mahasiswa sastra yang tidak terikat oleh kampusnya, Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Lokasi lapakan buku berada persis di samping area mimbar bebas, dengan beberapa orang yang berjaga di sekitarnya. Tidak hanya membuka lapak buku, beberapa partisipan dari komunitas Rabu Sore juga turut berorasi di mimbar bebas. “Kami ingin keluar dari teks membersamai teman-teman yang menuntut keadilan,” pernyataan inilah yang menandai bahwa latar belakang keikutsertaan komunitas Rabu Sore dalam mengadakan lapak buku dan turut berorasi adalah sebagai tanda perlawanan mereka sebagai anak sastra yang biasanya hanya mengulas perihal teks.
Bahkan, salah seorang perwakilan lain dari Rabu Sore yang juga turut menggaungkan orasi di depan massa menyoroti kekejaman pembantaian yang dilakukan di Timor Leste (dulunya Timor Timur) oleh militer Indonesia. Ia membeberkan cerita singkat terkait perjuangan kemerdekaan rakyat Timor Leste yang diikuti deretan tragedi mengenaskan yang menelan lebih dari 200 nyawa di depan moncong senjata. Mulai dari Operasi Seroja di tahun 1975 yang terjadi satu tahun setelah kemerdekaan Timor Leste sebagai bentuk penjajahan Indonesia atas Timor Leste, hingga Pembantaian Santa Cruz yang terjadi pada 12 November 1991.
“Karena Timor Leste ini kesannya selalu terlupakan oleh kita. Maka, mari kita rangkul, ingat, serta tanamkan kebesaran hati kita untuk menyertai kepergian mereka,” ucapnya dalam Mimbar Bebas.
Kemudian, acara dilanjutkan oleh beberapa penampil, baik itu berasal dari perwakilan komunitas maupun dari individu. Dari perwakilan Amnesty Chapter Airlangga sendiri, secara perdana menggaungkan puisi yang dibuatnya tepat 2 jam setelah kematian Almarhum Affan Kurniawan, berisi kemarahan dan keprihatinan dengan kondisi saat itu yang dilanjutkan oleh pembacaan puisi karya Wiji Thukul “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”. Beberapa penampil individu juga turut menyumbangkan karya puisi mereka, di antaranya individu dari komunitas Kawan Breng, Nea, Nava, dan diakhiri oleh pembacaan sajak oleh Sandira.
“Kami memilih konsep September Hitam kali ini dengan adanya mimbar bebas, pameran karya, dan lapak membaca karena kami ingin merangkul semua elemen masyarakat sipil sebagai bentuk perlawanan terhadap impunitas dan penolakkan untuk lupa akan tragedi-tragedi yang terjadi di bulan September. Dengan adanya mimbar bebas, teman-teman bisa menyampaikan pendapat melalui orasi publik. Melalui poster, lukisan, penyampaian orasi, dan pembacaan puisi, kami memandang seni sebagai media perlawanan,” jelas Mohammad Ihsan Satria dari Aksi Kamisan Surabaya sebagai koordinator utama aksi damai ke-879 tersebut.
Puncak Aksi Kamisan ke-879 ditutup dengan penampilan gitar akustik oleh Rat Akustik, yang membawakan sejumlah lagu perjuangan seperti “Buruh Tani Mahasiswa”, “Darah Juang”, dan “Negri Negri”. Tepat pukul 18.05 WIB, saat matahari terbenam, alunan gitar dan nyanyian serentak para peserta aksi kamisan menciptakan suasana syahdu yang penuh ketenangan. Momen ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya aksi Kamisan di hari ini, dengan nyala api perlawanan yang terus berkobar melalui setiap orasi, puisi, dan lagu yang disuarakan pada mimbar bebas.
Penulis & Reporter: Agiesya, Dinda
Editor: Deo
