Thursday, 5 November 2026
Berita / Luar kampus

Aksi Mahasiswa di DPRD Jatim: 30 Tuntutan Dibacakan di Tengah Hujan dan Kawat Berduri

Oleh : : - Waktu Baca 4 menit
Img 20250819 wa0045

Dua hari setelah Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80, Gedung DPRD Jatim dihadiri oleh BEM SI Kerakyatan Wilayah Jawa Timur bersama Aliansi Nakama Bergerak untuk menggelar aksi demonstrasi pada Selasa (19/08). Aksi digelar sebagai respons dari kondisi Indonesia yang masih stagnan hingga sekarang, seakan-akan para penguasa sudah tidak peduli dengan seluruh kabar buruk yang beredar. Mulai dari sekian banyak undang-undang yang tidak memihak rakyat, masalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tak kunjung selesai, dan represifitas aparat. Oleh karena itu, massa aksi membawa 30 tuntutan terhadap Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur untuk dimintai pertanggungjawaban.

Pada pukul 13.29 WIB, polisi mulai keluar memenuhi area depan kantor DPRD. Dua truk water cannon juga telah disiapkan di dua titik masuk kantor DPRD. Kawasan depan gedung dibatasi dengan kawat berduri, seakan-akan memisahkan massa aksi dengan penguasa yang ada di dalam. Tepat pada pukul 13.50 WIB, massa yang berjumlah kurang lebih 300 hingga 400 orang, mulai bergerak mendekati bagian depan kantor DPRD. Massa aksi, yang kompak mengenakan almamater kampus mereka, lantas berkumpul sesuai arahan koordinator lapangan.

Aksi dimulai dengan orasi singkat dari beberapa kalangan mahasiswa. Sebagian besar dari orasi berisikan kekecewaan terhadap kondisi Indonesia yang mengenaskan di Hari Kemerdekaannya yang ke-80. Orasi terus berlanjut hingga hujan pun turun, mengguyur para massa aksi. Hujan terus mengguyur deras, tetapi tidak mampu melunturkan semangat idealisme para demonstran.

Orasi mahasiswa diakhiri dengan massa aksi meminta untuk bertemu dengan Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur. Pada pukul 15.35 WIB, pihak kepolisian berupaya menjalin komunikasi dengan massa. Mereka ingin mengakomodasi kebutuhan massa dengan mempersilahkan pembacaan tuntutan yang telah disiapkan. Akan tetapi, di sisi lain massa aksi telah menyampaikan secara jelas keinginan mereka. Mereka ingin Ketua DPRD untuk bertemu langsung dengan massa aksi, turut berdiri di atas mobil komando, dan membacakan daftar tuntutan secara lantang. Perwakilan massa aksi berulang kali mengutarakan keinginan mereka agar dapat berbicara secara langsung kepada Musyafak selaku Ketua DPRD, tetapi aparat yang bertugas menolak permintaan massa aksi.

Hujan yang mengguyur menjadi semakin deras, akan tetapi massa aksi tetap bersikukuh pada keinginan mereka. Negosiasi yang telah dilakukan berjalan cukup alot, di mana massa aksi akhirnya memberikan dua pilihan, yakni kehadiran langsung dari Ketua DPRD bersama mereka di atas mobil komando, atau dibukanya akses bagi massa aksi untuk masuk ke dalam dan berdiskusi. Kedua opsi tersebut awalnya ditolak oleh pihak kepolisian dengan dalih menjaga keamanan dan keselamatan kedua belah pihak.

Massa aksi yang tidak sabar terus mendesak hingga akhirnya Ketua DPRD bersedia turun langsung dan menemui mereka. Permintaan massa aksi agar Musyafak selaku Ketua DPRD untuk naik ke mobil komando tetap ditolak oleh aparat. Alhasil massa menerima agar pembacaan dilakukan, walaupun ada sekat besi berduri yang memisahkan kedua belah pihak.

Memberikan secarik kertas, massa aksi lantas meminta Ketua DPRD untuk membacakan tuntutan-tuntutan mereka. Mulai dari kaji ulang RKUHAP hingga mengusut tuntas dan mengadili pelaku pelanggaran HAM serta 28 tuntutan lainnya. Setelah Ketua DPRD membacakan tuntutan, massa aksi langsung meminta jaminan dari tuntutan yang telah dibacakan.

Kawat berduri yang melintang membatasi Gedung DPRD dengan massa aksi menjadi saksi penandatanganan kertas yang berisikan tuntutan-tuntutan Aliansi Nakama Bergerak. Aksi hampir selesai ketika Ketua DPRD menyampaikan pernyataan yang telah ditunggu-tunggu.

“Jadi gini, sudah kita siapkan surat pengantarnya dan saya teken hari ini, dan besok insyaallah sudah terkirim ke Jakarta. Apa yang saya teken ini dan surat pengantar atas nama DPRD sudah kita siapkan untuk juga sebagai pengantar kirim surat ke Jakarta.” terang Musyafak. “Dan juga bukti pengirimannya sekaligus ke mana ditujukannya sudah disiapkan oleh sekwan (sekretaris dewan) dan kami persilakan panjenengan semua datang ke sini lagi ketika tidak ada bukti bahwa kita sudah menindaklanjuti. Buktinya nanti di IG (Instagram).” pungkasnya.

Reporter: Izzad, Luvian, Freean, Afghan, Nazila

Editor: Deo

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *