Thursday, 5 November 2026
Opini

Apa Agama Para Agamawan di Bumi yang Rusak?

Oleh : : - Waktu Baca 4 menit
Lukisan "Banjir di Jawa" (Overstroming op Java) karya Raden Saleh. Sumber: Wikipedia

Dikelilingi riuh persoalan bencana yang menyapa keseharian manusia. Ruang kota yang semakin panas udaranya dan masifnya alih fungsi lahan di pedesaan. Lebih luas dari itu terdapat sebab buruk di baliknya perihal krisis iklim. Lihatlah: pohon-pohon mulai kehilangan identitasnya; gunung bak seorang paruh baya yang habis cukur rambut; dan air sebagai denyut nadi kehidupan tercemari hantu nikel. Menyoal realita buruk mengenai di ujung nadirnya nasib lingkungan, posisi manusia kembali dipertanyakan. Apakah mereka diciptakan oleh Tuhan hanya untuk merusak? Apakah akal budi yang diagung-agungkan hanya sebagai simbol eksploitasi dan keserakahan belaka? Oh, jadi pendirian ormas-ormas keagamaan (baca: NU dan Muhammadiyah)  itu hanya untuk rebutan konsesi kepemilikan Izin Usaha Pertambangan?

Pertanyaan tersebut mestinya kita lempar kepada setiap agamawan yang per detik ini masih menghirup udara dari pohon. Kehidupan mereka sebenarnya hasil dari perbuatan baik dari kerja-kerja para pohon. Alam sudah memberi kasih sayang yang tak terhingga seperti ibu kita. Alam sejatinya orang tua para agamawan, sedangkan mereka justru membalasnya dengan kedurhakaan. Dalam realita pahit seperti ini rasa-rasanya sah jika kembali mempertanyakan peran agamawan, “Apa yang sudah mereka lakukan?”. Jika dianalogikan mereka seperti lahir dan tumbuh dalam tempurung yang terpisah dari realita sosial. Tak kurang tak lebih mereka melihat hutan-hutan hanya sebatas komoditas yang siap diperjualbelikan dan seluruh penghuninya layak untuk merasakan arti  kata punah. 

Problem mendasar yang menggerogoti idealisme kaum agamawan bisa dirasakan secara struktural keormasan tingkat pusat hingga para agamawan kampung. Jika di tingkat pusat agama hanya sebagai kendaraan politik dan instrumen pragmatisme oleh figur-figur sentral ormas keagamaan yang bermain mata dengan pemilik kapital, implikasinya mereka gagal menerjemahkan seruan-seruan ilahi ke dalam kebijakan yang berpihak pada lingkungan hidup. Sedangkan dalam praktik tradisional kaum agamawan tingkat desa, agama hanya dijalankan sebatas praktik peribadatan semata. Setiap khutbah-khutbah dan dalil seruan ilahi yang dilantangkan sangatlah jarang menyinggung akar persoalan hari ini, lebih-lebih mengenai kerusakan lingkungan. Untuk siapa mereka hadir? Kalangan borjuasi atau masyarakat yang dibayangi kemiskinan meskipun dalam lingkar wilayah tambang? 

Mengapa dalam menyoal krisis iklim eksistensi mereka dicatut ribuan kali? Yap, terima tidak terima segala sabda yang keluar dari mulut agamawan berarti kebenaran itu sendiri, mereka adalah perpanjangan tangan dari kalam Tuhan. Mereka punya andil yang besar untuk memobilisasi masyarakat keagamaan. Jangankan untuk keberhasilan agenda kurangi plastik, bahkan ketika para agamawan itu berani bersuara atas krisis iklim masyarakat dengan mudah mengamini dan tergerak untuk bersuara. Alih-alih sebagai juru selamat bagi lingkungan hidup dan bisa menggerakkan masyarakat awam agar peduli lingkungan, para agamawan justru menjadi tokoh utama, berdansa ria dengan oligarki di tengah deforestasi, pencemaran lingkungan, dan pelucutan ruang hidup masyarakat adat oleh perusahaan sawit.

Ketika suatu masa anak cucu kita mengelus kepala bayi singa, menyentuh iguana, dan melihat kura-kura hanya hologramnya saja. Hutan-hutan lebat di pelosok Sumatera, Kalimantan, dan Papua hanya tinggal dongeng pengantar tidur. Apakah kita lantas tersadarkan ketika air laut sudah mencapai salib di atas atap gereja? Begitu pula masjid-masjid yang hanya tinggal bulan bintangnya saja. Barulah kita tahu dan menyesali, kekasih sejati kita yang bernana alam sudah habis kesabarannya. Mengutip apa yang dikatakan Cooper di film Interstellar, “manusia memang ditakdirkan lahir di bumi, namun tidak juga mesti ditakdirkan punah di dalamnya.” Jangan sampai kita menjadi spesies terakhir yang dibunuh oleh keserakahan sendiri. Alam adalah orang tua kita, seperti yang digemakan masyarakat papua bahwasannya, “hutan adalah ibu dan laut adalah ayah”. Mari hormati dan junjung tinggi ia selayak-layaknya. Mari kita rawat bumi dengan sepenuh hati sebagai wujud ibadah ekologis. Sebab alam bisa hidup tanpa kita, sedangkan tanpanya manusia akan mati. Jangan sampai hari kiamat berlangsung lebih cepat dari jadwal aslinya karena bumi merasa sudah bosan karena dicampakkan.

Penulis: Hafidz

Editor: Deo

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *