Thursday, 5 November 2026
Buku / Review

Bilangan Fu: Spiritualisme Kritis dan Sudut Pandang Menghadapi Modernisme

Oleh : : - Waktu Baca 6 menit
Bilangan Fu
ilustrasi halaman buku Bilangan Fu (dokumentasi pribadi/Dyas)

Judul Buku: Bilangan Fu

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Pengarang: Ayu Utami

ISBN: 978-602-424-398-2

Ukuran: 13,5 × 20 cm

Halaman: 561 hlm

Tahun: Cetakan keempat, Maret 2023

1000199726

Ayu Utami, salah satu sastrawan terkemuka Indonesia, selalu berhasil menciptakan karya sastra berkualitas yang memberikan kontribusi penting bagi perkembangan kesusastraan Indonesia. Sebagai seorang penulis yang dikenal kritis dan penuh pemikiran, setiap karyanya memiliki ciri khas yang kuat dalam mengangkat tema-tema yang sensitif dan relevan dengan situasi sosial maupun politik di Indonesia. Salah satu karya populernya adalah novel Bilangan Fu, yang terdiri dari 561 halaman dan pernah meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2008. Berbeda dengan novel-novelnya sebelumnya, seperti Saman dan Larung, yang ditulis dalam suasana Orde Baru yang represif, Bilangan Fu ditulis pada awal reformasi, ketika polemik terkait isu keagamaan dan toleransi merebak di masyarakat Indonesia yang baru saja mengalami perubahan besar secara politik dan sosial.

Jika melalui karya-karyanya sebelumnya Ayu Utami banyak mengkritik kekerasan militer pada masa Orde Baru, Bilangan Fu muncul dari kegelisahan penulis terhadap maraknya kekerasan atas nama agama, baik di Indonesia maupun di dunia. Ayu melihat bagaimana masyarakat Indonesia, yang sebelumnya dikenal dengan sikap toleransinya, mulai menunjukkan kecenderungan intoleransi yang semakin meresahkan. Situasi ini mempengaruhi hubungan antar kelompok agama yang dulu terjalin dengan damai, kini perlahan memudar. Hal ini ia sampaikan dalam podcast Coming Home With Leila Chudori berjudul “In Conversation with Ayu Utami” pada 22 Januari 2020. Melalui wawancara tersebut, Ayu mengungkapkan bahwa kegelisahan tersebut melahirkan sebuah tema yang disebutnya sebagai “spiritualisme kritis,” sebuah konsep yang berusaha menghubungkan antara spiritualitas dan pemikiran kritis dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Spiritualisme kritis adalah konsep beragama atau berkeyakinan tanpa meninggalkan akal sehat dan sikap kritis. Ayu Utami menggarisbawahi bahwa penting bagi seseorang untuk tetap menggunakan logika dan rasionalitas dalam keyakinan mereka, tidak hanya sekadar mengikuti dogma agama secara buta. “Spiritualisme kritis adalah ketika seseorang bisa percaya sambil ragu,” ungkap Ayu Utami (22/01/2020). Menurutnya, sikap ini penting karena dapat mencegah orang terjebak dalam ekstremisme atau fanatisme beragama yang sering kali berujung pada kekerasan atau tindakan yang merugikan orang lain. Tema spiritualisme kritis dalam Bilangan Fu menekankan pentingnya tetap bersikap kritis, bahkan skeptis, terhadap keyakinan kita agar tidak terjerumus dalam penyimpangan yang bisa berdampak buruk. Konsep ini menjadi tawaran pandangan masyarakat terhadap kehidupan beragama, khususnya dalam menyikapi masalah intoleransi dan kekerasan yang dilakukan atas nama agama.

Dalam Bilangan Fu, Ayu Utami mengeksplorasi tiga topik utama yang menjadi pokok bahasan dalam novelnya: monoteisme, modernisme, dan militerisme. Ketiga topik ini diangkat secara mendalam dan saling terkait satu sama lain dalam mengkritisi dinamika sosial dan politik Indonesia pada masa reformasi. Topik monoteisme menjadi cerminan kegelisahannya tentang bagaimana salah pemahaman terhadap keyakinan bisa mengarah pada ekstremisme yang merugikan banyak pihak. Intoleransi dan kekerasan dalam beragama yang semakin sering terjadi belakangan ini menjadi hasil dari perilaku beragama yang menyimpang dari esensi aslinya. Hal ini digambarkan melalui tokoh Kupukupu, seorang yang narsistik dan memuja konsep ajaran agama “murni” versinya sendiri. Kupukupu adalah gambaran dari individu yang terlalu fanatik terhadap ajaran agamanya, sehingga menganggap semua bentuk keyakinan lain sebagai salah atau sesat. Berlawanan dengan Kupukupu, ada tokoh Parang Jati, yang mewakili sudut pandang kepercayaan tradisional yang kental dengan tradisi Kejawen. Parang Jati hadir sebagai sosok yang lebih terbuka terhadap keragaman keyakinan, serta menghargai pluralisme yang ada di masyarakat.

Militerisme juga diangkat oleh Ayu Utami sebagai kritik terhadap kekejaman militer terhadap masyarakat kecil. Keberadaan kekuasaan digambarkan sebagai sesuatu yang memabukkan, sehingga mereka yang telah terjebak dalam kekuasaan melakukan tindakan manipulatif dan merugikan demi mencapai tujuan pribadi mereka. Melalui narasi ini, Ayu Utami berusaha menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat merusak moralitas seseorang jika tidak dikontrol dengan baik. Kekejaman militer yang terjadi pada masa lalu menjadi salah satu sorotan penting dalam novel ini, mengingat trauma yang ditinggalkan pada masyarakat Indonesia.

Topik modernisme juga menjadi salah satu elemen utama yang diangkat dalam cerita Bilangan Fu. Pandangan tentang modernisme diwakili oleh dua tokoh sentral: Sandi Yuda dan Parang Jati. Sandi Yuda mencerminkan pandangan masyarakat modern yang menolak takhayul dan mitos sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Masyarakat modern, termasuk Sandi Yuda, cenderung mengagungkan bukti sebagai satu-satunya dasar keyakinan, dan memandang kepercayaan tradisional sebagai bentuk keterbelakangan mental. Sandi Yuda melihat bahwa segala sesuatu harus bisa dibuktikan secara empiris untuk dianggap benar. Sebaliknya, Parang Jati yang lahir dari tradisi Kejawen, menghormati budaya dan keyakinan masyarakat tradisional meski itu bertentangan dengan logika modern. Bagi Parang Jati, nilai-nilai yang terkandung dalam kepercayaan tradisional, seperti mitos dan takhayul, memiliki tujuan penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Mitos sering kali digunakan sebagai cara untuk mengingatkan manusia akan tanggung jawabnya terhadap alam dan sesama manusia.

Pandangan masyarakat modern terhadap spiritualitas menjadi tantangan ketika dihadapkan pada realitas sosial masyarakat Indonesia yang masih memegang erat kepercayaan nenek moyang. Takhayul dan mitos sering kali menjadi bahan ejekan bagi mereka yang percaya akan keberadaannya. Melalui sudut pandang Parang Jati, Ayu Utami menawarkan pandangan bahwa kepercayaan tradisional dapat memiliki nilai yang lebih dalam daripada sekadar takhayul. Kepercayaan tersebut berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk menjaga etika dan moralitas manusia. Dalam masyarakat tradisional, sering kali aturan moral yang tidak tertulis, seperti mitos atau kisah mistis, lebih efektif dalam mencegah perilaku buruk daripada hukum formal yang ada.

Kisah pertemuan, persahabatan, dan perjalanan hidup antara Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja dalam Bilangan Fu menyuguhkan fakta dan kritik terhadap pengaruh modernisme, intoleransi, hingga kekejaman para pemegang kekuasaan. Di dalamnya, terdapat pula referensi sejarah dan teori tentang bilangan serta kisah-kisah pewayangan. Selain itu, novel ini juga memperlihatkan pengaruh besar sejarah dan mitologi lokal dalam membentuk identitas kebudayaan dan spiritualitas masyarakat Indonesia. Meskipun mungkin terasa berat bagi sebagian pembaca, Bilangan Fu adalah salah satu karya penting Ayu Utami yang patut dibaca oleh para penggemar sastra, terutama bagi mereka yang tertarik dengan tema-tema sosial, politik, dan spiritualitas dalam konteks Indonesia.

Penulis: Dyasfitri Fatiha Rahma

Editor: Ayu Saraswati

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *