Perbedaan pendapat adalah salah satu bentuk kebebasan berpendapat dalam dunia akademis dan praktis merupakan keniscayaan dalam ranah intelektual.
Kamis (04/06) pukul 12.00 WIB di depan gedung Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, gabungan dari elemen dokter, mulai dari mahasiswa kedokteran tingkat sarjana dan spesialis, dosen, guru besar, ikatan alumni, dan mantan civitas yang sudah purna tugas berkumpul menggelar sebuah aksi sebagai respons terhadap pemecatan sepihak dekan Fakultas Kedokteran, Prof. Budi Santoso, oleh rektor yang dinilai tanpa alasan yang jelas.
Pemecatan Prof. BUS ditengarai oleh kritiknya terhadap kebijakan pendatangan tenaga dokter asing untuk menutupi kekurangan dokter di tanah air. Dilansir dari wawancara Prof. BUS dengan Detik, pihaknya mengatakan jika alasan pemecatannya berkaitan dengan kritik tersebut. Padahal menurut Prof. BUS, kritik tersebut tidak hanya didasarkan dari pandangan pribadi semata,tetapi juga diamini oleh institusi terkait (FK Unair). Dilansir dari Detik, sebelum dipecat pada Rabu (3/7) malam, Prof. BUS sempat bertemu dengan rektor pada hari Senin (1/7).
Keputusan sepihak rektor sontak memantik kekecewaan di kalangan akademisi FK dan elemen civitas lainnya. Pemecatan Prof. BUS dinilai tidak berlandaskan asas-asas yang tercantum dalam undang-undang. Selain tidak sah secara konstitusi, pemecatan Prof. BUS juga tidak sesuai dengan etika akademik.
Penegasan disampaikan oleh Abdul Hafid Bajamal yang juga merupakan guru besar FK Unair. Ia mengatakan bahwa kasus Prof. BUS adalah refleksi terhadap kondisi akademisi di Indonesia yang seolah-olah diabaikan di masyarakat. “Selama ini, civitas academica dijadikan ‘katak dalam tempurung’,” lanjutnya, “hingar bingar demokrasi, hingar bingar di luar kampus, tidak ada satupun aktivitas civitas academica yang bisa dilakukan. Kenapa? Karena kita dijadikan ‘katak di dalam tempurung’.”
Prof. Budi Santoso, atau akrab dipanggil Prof. BUS memulai karirnya sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada 2020 hingga 2025. Menurut penuturan dari rekan-rekan sejawat, Prof. BUS telah menyumbangkan sumbangsih besar bagi perkembangan FK Unair sehingga FK Unair mampu mengukir prestasi-prestasi luar biasa dan secara tidak langsung menaikkan ranking Unair secara keseluruhan.
Aksi ini dilaksanakan dengan penuh antusias dari kalangan civitas FK Unair dengan berpakaian kemeja putih dan seragam hijau mahasiswa kedokteran. Selain itu, media-media arustama juga turut meliput aksi ini. Selasar depan FK dipenuhi dengan rangkaian bunga yang memuat ucapan keprihatinan dan pesan-pesan lain yang bernada kritik. Acara ditutup dengan melantunkan lagu Bagimu Negeri oleh semua peserta aksi.
Reporter: Deo Ramdani, Maulana
Editor: Syahirul Gama Afghani
