“Cerita Loka hadir dan milik kita bersama, milik mahasiswa Universitas Airlangga, masyarakat Indonesia, menjadi garda terdepan” adalah slogan yang dilontarkan bersama-sama oleh Pasangan Calon (Paslon) 1, Senja dan Shintya, sebagai penutup dari pemaparan Grand Design program kerja yang telah berlangsung selama kurang lebih 25 menit. Beberapa detik kemudian, suara tepuk tangan pengunjung memenuhi ruangan sebagai bentuk apresiasi. Namun, selang beberapa detik kemudian, hening tercipta, menggantikan suara ramai tepuk tangan dalam sekejap. Hening ini lahir dari tanda tanya besar yang tiba-tiba berlabuh di kepala pengunjung yang hadir. Tanda tanya besar yang hinggap karena dipancing oleh informasi grand design paslon tunggal ini. Mereka tidak sabar menunggu sesi berikutnya.
Hening pecah, kresek-kresek, terdengar Master of Ceremony (MC) menggoyangkan mikrofon, tanda akan berbicara.
Sebelumnya, pada jam 14.03 WIB, paslon tunggal ini berdiri dengan gagah berani, naik ke atas panggung menggunakan busana adat khas Aceh yang katanya sebagai simbol belasungkawa atas musibah yang menimpa mereka. Mikrofon dipegang kedua paslon, layar yang tadinya menayangkan video profile Paslon kini mati, menyala kembali dan memperlihatkan salindia Visi dan Misi program kerja paslon 1 yang memakai nama Cerita Loka. Narasi besar menjadi awal untuk mengenal apa itu Cerita Loka yang nantinya membawa para hadirin untuk mengenal Spirit Pancaloka sebagai tempat untuk bertumbuh dan membangun narasi perjuangan bersama. Sejak mereka memperkenalkan Cerita Loka, 25 menit telah tergerus perlahan demi perlahan, menuju 00:00:00. Paslon tunggal tersebut berdiri di atas panggung dengan mikrofon yang menggemakan suara mereka dari utara hingga selatan ruangan. Terkadang, mikrofon berdengung nyaring, tetapi itu bukan masalah besar. Suhu ruangan aula begitu sejuk, ketegangan yang samar dapat dirasakan oleh sekelibat orang yang nantinya, ketegangan tersebut akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan kritis setelah pemaparan materi yang terakhir, yaitu evaluasi dan kontrol.
Pukul menunjukkan 14.30 WIB, sang mentari telah berganti singgasana, sekarang berada 45° barat daya di atas cakrawala. MC mulai membuka sesi tanya jawab dan menjelaskan mekanismenya. Beberapa saat kemudian, setelah aba-aba dari MC, ramai pengunjung mengangkat tangan, tidak sabar untuk memuaskan hasrat penasaran mereka. MC membuka 2 sesi tanya jawab, dengan masing-masing memuat 3 penanya.
Program “Swara Warga”, Apakah hanya Program Formalitas Populis?
Berangkat dari salah satu program unggulan: Swara Warga, seorang mahasiswi berdiri, meraih mikrofon dan mulai berbicara. Mahasiswi itu mempertanyakan keseimbangan antara kritik dan fungsi program Swara Warga sebagai wadah menampung aspirasi. Yang ditakutkan adalah: bagaimana jika Swara Warga menjelma sebagai program formalitas yang diusung hanya agar terlihat populis, alih-alih murni sebagai wadah penampung kritik? Segala kritik ditolak dengan alasan dianggap terlalu keras dan tidak diterima, sehingga tidak terjalin dialog sehat antara mahasiswa dan kampus. “Bagaimana Swara Warga dapat menjaga keseimbangan antara fungsi kritik sebagai agent control dan tanggung jawab, dan membangun dialog yang sehat sebagai pemangku kebijakan kampus?” ujarnya.
Senja menjawab bahwa untuk hari ini, masyarakat masih mampu mempertahankan solidaritas dan membentuk pergerakan bersama. Menurutnya, BEM UNAIR sebagai organisasi pergerakan, memiliki kredibilitas yang tinggi tentang keadvokasian dengan selalu tampil dengan jelas sebagai pihak yang menjadi wadah untuk menjaga stabilitas, solidaritas dan pergerakan masyarakat. Untuk lebih menggaet kepercayaan bahwa program unggul ini ‘benar-benar’ berada di sisi mahasiswa dan masyarakat, Senja juga bercerita tentang dirinya yang pernah mendapat represi saat menjadi korlap suatu aksi di Surabaya, dia juga menceritakan tentang represi-represi lain yang dialami oleh aktivis-aktivis.
“Masyarakat hari ini masih bisa solid dan masih bisa membentuk gerakan bersama dan secara standing mempunyai tampilan bahwa BEM UNAIR akan selalu mengadvokasi dan juga menjaga stabilitas, solidaritas masyarakat, dan pergerakan di Surabaya, Jawa Timur, dan nasional.”
Di Mana Posisi Konkret BEM UNAIR di Peta Pergerakan untuk Kedepannya dengan Adanya Program Swara Warga?
Dirasa mendapat jawaban yang kurang memuaskan, seorang mahasiswa berinisial D lanjut berdiri seusai diberi izin MC, bertanya tentang posisi pergerakan BEM UNAIR untuk ke depannya dengan adanya program Swara Warga. Pengunjung yang berinisial D ini merasa bahwa paparan terkait Swara Warga dan jawaban untuk pertanyaan pertama dirasa masih belum menunjukkan arah konkret dan langkah yang jelas terkait posisi BEM UNAIR dalam peta pergerakan.
“Kalau kita lihat saat ini, BEM UI, BEM UGM, seakan-akan menjadi pusat pergerakan nasional. Bahkan presiden BEM UGM berani melakukan debat dengan menteri hingga menantang presiden. Dengan adanya Swara Loka ini, BEM UNAIR ingin memposisikan diri sebagai apa?” Tanyanya di depan mikrofon pada sesi tanya jawab.
Menanggapi pertanyaan itu, Senja pertama-tama menjelaskan bahwa program Swara Warga lahir dari keresahan terhadap kondisi sosial masyarakat – khususnya warga Surabaya. Dia menekankan bahwa langkah awal dari sebuah pergerakan adalah memahami latar belakang dan posisi organisasi sebelum menentukan bentuk implementasi program. Menurutnya, BEM UNAIR berpotensi menjadi kendaraan untuk mengakomodasi gerakan di Surabaya agar terlihat di kancah provinsi hingga nasional.
“Ketika kita bicara mengenai BEM UNAIR, sebetulnya BEM UNAIR memiliki potensi untuk mengeskalasi gerakan di Surabaya untuk berada di kancah Jawa Timur ataupun nasional,” tambahnya.
Selain itu, Senja menjelaskan target posisi yang harus dicapai BEM UNAIR periode 2026, yaitu tampil sebagai organisasi yang progresif dan punya andil besar. “Standing position” dari BEM UNAIR nantinya di tahun 2026 adalah bagaimana mengangkat UNAIR agar berada pada posisi yang diperhitungkan, bahkan ditakuti oleh penguasa.”
Masih dalam pembahasan pergerakan, Senja beropini bahwa implementasi pergerakan tidak melulu harus lewat strategi demonstrasi: aksi massa turun lapangan, namun juga bisa melalui bentuk-bentuk lain seperti lewat jalur hukum.
“Demonstrasi adalah salah satu jalan dan bukan satu-satunya mode; salah satu yang bisa dilakukan adalah judicial review (proses pengujian peraturan perundang-undangan terhadap peraturan yang lebih tinggi oleh lembaga peradilan, untuk memastikan tidak ada aturan hukum yang melanggar konstitusi), untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar,” cetusnya.
Untuk mewujudkan target dan potensi sebagaimana yang direncanakan paslon 1, Shintya selaku cawapres paslon 1 menambahi, bahwa ia dan Senja tidak bisa mewujudkan semua itu tanpa bantuan mahasiswa UNAIR sendiri. Diperlukan keaktifan mahasiswa UNAIR untuk menciptakan eskalasi gerakan—percuma jika sudah diberi wadah, tetapi tidak ada yang memanfaatkannya dengan baik. “BEM UNAIR tidak akan menjadi eskalasi gerakan mahasiswa jika tidak ada partisipasi dari seluruh mahasiswa UNAIR.” Ucapnya sebagai penutup jawaban.
Kekhawatiran Nyata: “Swara Warga” dan “Tjokroaminoto Project” Cuma Panggung Diskusi Perawat Ingatan Kolektif Tanpa Perubahan Konkret
“Menurut Situationist International di Prancis, banyak institusi termasuk organisasi mahasiswa yang akhirnya hanya memproduksi citra kepedulian sosial tanpa berani mengubah relasi kuasa di masyarakat. Jika selama satu tahun kepengurusan kalian nanti, konflik agraria di Jawa Timur tetap terjadi, warga tetap berhadapan dengan negara atau korporasi, dan program kerja kalian seperti Swara Warga maupun Tjokroaminoto Project hanya menghasilkan diskusi dan panggung merawat ingatan kolektif tanpa adanya perubahan konkret, apakah Anda bersedia mengakui bahwa program kerja tersebut (Swara Warga dan Tjokroaminoto Project) gagal dan bahwa BEM hanya menjadi bagian dari spektakel politik kampus?” adalah pertanyaan yang kemudian diikuti oleh tepuk tangan para hadirin serta Senja dan Shintya. Pertanyaan tersebut turun karena keresahan nyata yang secara tidak langsung dipupuk oleh pemerintah saat ini, bahwa program hanya kuat pada kalimat dan tutur lisan saja, tetapi lemah sekali dalam penerapan secara konkret.
Swara Warga lahir dari gagasan Shintya-Senja yang mengedepankan ekspresi keresahan masyarakat tentang isu-isu regional yang menggunakan panggung seni dan budaya sebagai sarana ruang dialektika yang tidak kaku. Sedangkan Tjokroaminoto Project dirancang untuk mengembalikan persatuan, nasionalisme, dan self-help (kemandirian) dengan membuka ruang untuk berdiskusi secara interaktif. Secara tidak langsung, kedua program ini ditujukan untuk mengawal komitmen bersama dalam menghadapi isu-isu yang sedang atau akan terjadi. Namun, kembali lagi, bagaimana bila dua program unggulan ini hanya sebatas hasil ketikan di salindia?
Senja menyatakan bahwa apabila masyarakat kecil masih berhadapan dengan para cukong pengambil kebijakan, para tuan tanah, dan menghadapi konflik agraria, dan BEM UNAIR 2026 diam tak berkutik, tidak melakukan advokasi, maka dapat dipastikan bahwa BEM UNAIR 2026 gagal dalam bidang Kajian dan Aksi Strategis. Komitmen BEM UNAIR di tahun 2026 adalah terus berikhtiar, mengawal setiap kebijakan dan kepentingan masyarakat yang diikuti dengan ajakan kepada para mahasiswa Universitas Airlangga agar turut mengawal dan mengawasi pergerakan “Swara Warga” dan “Tjokroaminoto Project”.
“… Kita tidak perlu menambah konflik-konflik horizontal pada masyarakat ….”
Seolah-olah Senja mengajak warga Universitas Airlangga untuk tidak memperkeruh suasana ketika isu politik sedang memanas dan berdampak langsung kepada masyarakat Indonesia, apalagi ketika demo sedang tumpah ruah dari barat sampai timur Indonesia. Senja menekankan bahwa BEM UNAIR 2026 tidak akan terpisah dari mahasiswa Universitas Airlangga dan masyarakat Indonesia, sebagai rumah dan kompas gerakan untuk mengawal bagaimana setiap kebijakan yang nantinya akan merugikan kepentingan masyarakat itu sendiri.
Sebagai penambah, Shintya bertutur bahawa langkah ke-10, ke-100, atau ke-1000 tidak akan pernah tercapai apabila tidak ada langkah pertama. Maka, apabila menggunakan aktivisme digital sebagai langkah pertama, justru itu adalah peluang untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat Indonesia terhadap isu yang sedang marak saat ini.
Pandangan Senja-Shintya terhadap Rangkap Jabatan dan Bagaimana Upaya Mereka Mendukung Meritokrasi di BEM UNAIR 2026
Berangkat dari pertanyaan yang muncul setelah melihat video company profile, seorang hadirin yang berasal dari Fakultas Hukum menyoroti sebuah kalimat yang menyinggung “membawa kepentingan mahasiswa dan bukan kepentingan organisasi tertentu” sembari mengaca pada kepemimpinan BEM beberapa waktu lalu. Ia mengamati bahwa kepemimpinan yang sebelumnya menunjuk menteri atau direktur jenderal BEM fakultas untuk juga menjadi menteri atau direktur jenderal BEM universitas. Oleh karena itu, ia meminta pandangan Senja-Shintya terhadap fenomena ini.
Dua kepribadian adalah bagaimana cara Senja menganalogikan rangkap jabatan yang terjadi di organisasi-organisasi mahasiswa. Rangkap jabatan sudah seperti rahasia umum yang terkadang digenggam dengan kencang, namun juga digenggam dengan renggang sehingga tidak sedikit yang mengetahui fenomena ini di dalam sebuah organisasi mahasiswa. Rangkap jabatan akan melahirkan kepentingan konflik yang kompleks. Senja memberikan contoh: seorang ketua BLM di sebuah fakultas yang secara bersamaan menjadi direktur jenderal di BEM UNAIR. Ketika terjadi sebuah permasalahan, ia akan dipenuhi oleh kebingungan yang berujung pada “entah mau memihak ke mana”. Ketika hal tersebut terjadi, profesionalitas akan diuji sebagaimana menaruh kesetiaan pada salah satu pihak yang sedang diduduki. Senja bertutur bahwa, sekali lagi, rangkap jabatan dianggap hal yang normal asal bisa profesional. Namun, pada akhirnya akan menimbulkan potensi konflik kepentingan sebagai seorang pemimpin yang memimpin organisasi dan yang memimpin dirinya sendiri. Oleh karena itu, BEM UNAIR 2026 berkomitmen untuk berusaha meminimalisir adanya konflik kepentingan dan tetap menjaga profesionalitas kerja di dalam BEM UNAIR. Pesan terakhir dari Senja adalah bahwa meritokrasi akan selalu diusahakan untuk terus berjalan.
Sementara itu, Shintya menyoroti citra BEM UNAIR yang akan terpengaruh apabila terjadi rangkap jabatan. Kepemimpinan selama satu tahun berarti memegang amanah besar ketika BEM UNAIR menjadi representasi mahasiswa Universitas Airlangga sembari mementingkan kepentingan bersama dan mengabaikan kepentingan suatu golongan tertentu.
BEM UNAIR 2026 Gagas ‘Parlemen Hukum’ dan Kolaborasi Riset Strategis Lintas Fakultas
Menanggapi keresahan mahasiswa mengenai minimnya aksi hukum yang dilakukan secara institusional, pasangan calon BEM UNAIR 2026 secara resmi menyatakan komitmennya untuk melakukan reformasi strategi pergerakan.
Keresahan tersebut mencuat ketika dalam sesi tanya jawab, penanya menyoroti kondisi internal kampus yang dinilai tertinggal. “Saya melihat—kan di BEM UNAIR ini sendiri, di lingkungan UNAIR ini sendiri sangat jarang ya kita terkait ulas hal terkait judicial review dan lain-lain,” ungkap salah seorang mahasiswa. Ketertinggalan ini terasa kontras jika dibandingkan dengan tren pergerakan BEM UI maupun BEM UGM yang secara konsisten menempuh jalur konstitusional di Mahkamah Konstitusi.
Menjawab tantangan tersebut, Paslon BEM UNAIR 2026 menegaskan langkah konkret melalui rencana strategis yang mengintegrasikan seluruh elemen keilmuan di UNAIR. Paslon BEM UNAIR 2026 merespons positif dengan menjanjikan komitmen untuk membuka ruang kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam melakukan advokasi kebijakan, baik di tingkat universitas maupun nasional. Strategi ini tidak lagi menempatkan advokasi hanya sebagai tanggung jawab satu fakultas, melainkan sebuah kerja kolektif universitas.
“Salah satu fokus utamanya adalah pengajuan judicial review sebagai metode advokasi yang melibatkan berbagai latar belakang keilmuan, di mana mahasiswa Fakultas Hukum berperan sebagai penerjemah bahasa hukum sementara fakultas lain memberikan kontribusi analisis sesuai bidangnya,” tegas pihak Paslon dalam keterangannya.
Guna memastikan pergerakan ini memiliki landasan ilmiah yang kuat, Paslon mengusulkan kerangka kerja sama yang sangat teknis dan substansial. Mereka mengusulkan kerja sama yang konkret, seperti melibatkan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dalam kajian strategis, Fakultas Psikologi untuk program kesehatan mental, serta fakultas rumpun saintek dan teknologi dalam pengembangan riset.
BEM UNAIR 2026 Hadir Bukan Hanya Sebagai Lembaga Politik, tapi Sebagai Teman Bicara
Dalam upaya memperkuat sistem pendukung bagi mahasiswa, Paslon BEM UNAIR 2026 memperkenalkan program unggulan bernama “Teman Loka”. Program ini dirancang khusus untuk merespons isu krusial terkait mental health dan gender equality yang menjadi perhatian besar di lingkungan kampus saat ini.
Menjawab rasa penasaran mahasiswa mengenai implementasi teknologi dalam program ini, pihak Paslon memberikan penjelasan detail mengenai alur kerja digitalnya. Mas Senja menegaskan bahwa Teman Loka memiliki 3 fokus utama: kesehatan mental, kesetaraan gender, dan kesejahteraan mahasiswa.
Inovasi utama dalam program ini adalah pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai garda terdepan pelayanan. Dalam operasionalnya, AI akan digunakan sebagai jembatan awal bagi mahasiswa sebelum diarahkan kepada bantuan manusia. Platform Teman Loka ini akan aktif di media sosial Line dan WhatsApp, sehingga sangat mudah dijangkau oleh mahasiswa dalam keseharian mereka.
Sistem ini bekerja secara otomatis untuk memetakan kebutuhan pengguna yang nantinya akan disambungkan melalui Person in Charge (PIC) dari masing-masing kementerian terkait. Para PIC ini akan memposisikan diri mereka sebagai seseorang yang dapat menjadi teman bicara bagi mahasiswa yang membutuhkan ruang aman untuk bercerita atau mengadu.
Program Teman Loka tidak hanya berhenti pada tahap percakapan ringan. Bagi mahasiswa yang ingin lebih jauh, selain pendampingan, juga bisa mendapatkan bantuan yang lebih intensif. Hal ini dimungkinkan melalui integrasi dengan unit universitas, di mana Satgas PPKPT kini bukan lagi hanya menangani kekerasan seksual, tetapi juga kekerasan yang lain secara luas.
Sebagai penutup, Mas Senja menegaskan bahwa BEM UNAIR akan menjamin kualitas advokasi dengan memfasilitasi pendampingan dari praktisi-praktisi ahli jika kasus yang dihadapi memerlukan penanganan profesional. Melalui Teman Loka, BEM UNAIR berkomitmen untuk menciptakan ekosistem kampus yang lebih sehat secara mental dan inklusif bagi seluruh mahasiswa.
Menjelang sore, mikrofon kembali diletakkan; sesi tanya jawab diakhiri oleh MC. Kursi-kursi mulai bergeser, dan percakapan kecil antarmahasiswa mulai terdengar. Musik mulai diputar oleh panitia sebagai apresiasi kecil atas kelancaran yang terbangun dari awal hingga akhir acara. Dengan suara lagu dan bisik percakapan kecil yang terdengar, para pengunjung mulai meninggalkan ruangan satu per satu. Yang nampak jelas cuma satu: tidak semua orang pulang dengan jawaban yang tuntas—beberapa membawa optimisme tinggi, sebagian lainnya menyimpan keraguan—sebuah hal yang wajar dalam ruang demokrasi dan mahasiswa.
Program-program yang diperdebatkan seperti: Swara warga, Tjokroaminoto Project, hingga Teman Loka dalam sesi tanya jawab, kini telah dilemparkan kembali di hadapan publik kampus. Mereka bukan sekadar kata-kata kosong dalam salindia Grand Design, melainkan sebuah komitmen yang kelak—bila terpilih sebagai presiden dan wakil presiden BEM UNAIR—akan diuji oleh waktu, partisipasi, dan keberanian untuk benar-benar berpihak kepada mahasiswa dan masyarakat. Sebab dalam sejarah pergerakan mahasiswa, gagasan besar tidak pernah hidup hanya pada selembar kertas pidato atau salindia presentasi, namun bertahan dan hidup dari keterlibatan banyak orang yang percaya bahwa perubahan layak diperjuangkan.
Kini, setelah tepuk tangan, kritik, dan dialog panjang sore itu mereda, satu pertanyaan masih menggantung di udara ruang diskusi:
Apakah program unggulan Cerita Loka akan benar-benar menciptakan kisah indah di tanah Universitas Airlangga, atau menjadi kisah yang hanya berakhir di layar salindia?
Reporter: Aldani, Arya, Dinda, Rani
Editor: Balqis
