Di Ujung Jari Baja: Balada Mesin dan Manusia
Di bawah langit menggerinda, tangan-tangan tulus
menyulam pagi dengan peluh yang teronggok di angka jam
Negeri berdiri di punggung luka,
tapi suara mereka cuma gema di lorong istana.
Palu jadi bunga, arloji menjelma borgol,
menawar waktu dengan napas ringkih dan modal kecil.
Buruh tak meminta mahkota atau tahta,
hanya ingin pulang sebagai dirinya yang utuh.
Di Balik Papan Tulis yang Retak
di balik papan tulis yang retak,
guru menggenggam kapur, seperti lilin doa—
menyala perlahan, habis dalam sunyi;
di luar, bangku kosong jadi lambang—
belajar tak selalu soal hadir,
kadang soal siapa yang hilang.
di lorong-lorong kelas yang kelam,
pelajaran terhenti di tengah kalimat,
anak-anak yang tak pernah kembali
jadi bayang-bayang yang terlupakan,
seperti angin yang tak pernah singgah,
di rumah yang tak pernah ada
dari mulut guru, kata-kata jatuh seperti biji,
ditanam dengan harapan tumbuh di tanah yang keras,
namun yang tumbuh kadang hanya duri—
karena tanah itu lelah menunggu hujan yang tak kunjung datang.
Piring-Piring yang Diberkati Kamera
hari ini, sendok tak lagi mengais malu
klek… klek… sendok menolak suapan,
di dapur yang dingin,
negara datang dengan kotak-kotak nasi,
mengajari rakyat cara bersyukur di depan lensa:
tiga suapan, satu senyum,
senyum mereka di-crop hingga pas di bingkai kebijakan,
Klik.. cekrek…
anak-anak belajar makan dari selebaran,
tahu dari baliho mana yang layak disisihkan,
karena tak semua lauk
lahir dari cinta,kadang dari proposal,
kadang dari rapat yang tak selesai sebelum Maghrib.
di meja plastik itu,
bangsa ini menyantap harap
pakai serbet subsidi,
dan minum air dari gelas yang setengahnya
adalah jargon.
klep… klep… sendok mengetuk piring—
suara bisu kegelisahan,
seakan tanya: “cukupkah ini untuk kita?”
syukur di depan lensa,
tapi di balik jendela, ada tatap hampa,
bayang anak yang menahan lapar
lebih berat dari seluruh kata dalam pidato.
Doa di Bawah Jemuran
Ia sembunyikan revolusi di balik bra yang dijemur,
angin sore mengeja harapan dari benang kusut.
Kartini bicara pada kucing berdasi,
sementara bra-bra basah bergantung seperti bendera revolusi
tentang sunyi, sepatu hak tinggi, dan pelangi dalam nasi.
Ia tulis petisi dengan kuku yang luntur,
di bawah jemuran, suara jeritan terendam hujan asam.
Malam bertanya: “siapa yang akan menyelamatkan tubuhnya itu?”
Tapi pagi menjawab dengan secangkir kopi pahit
dan daftar jemuran yang belum kering.
Misteri
Di balik tinta yang menari, ada kata terperangkap tersiksa—
pena mengukir sunyi, jejaknya jadi kabut di layar para jurnalis.
Bayang melayang di antara feed dan fakta,
jurnalis menenun kabut dari kode yang terenkripsi.
Langit menunduk lirih, mendengar desah di sela huruf;
setiap kalimat bagai cermin retak yang memantul rahasia.
Keheningan terhampar penuh makna—
sementara matahari berpura-pura buta,
menyisakan keraguan sebagai arsip yang tak terbaca.
Surabaya, 2025
