[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 19/11/2021]
Selasa (16/11) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) menggelar acara Pelatihan Pengembangan Karakter dengan mengangkat tema “Membangun Karakter Mahasiswa yang Berbudaya dan Berselera Kesenian”. Acara ini digelar secara hybrid (luring dan daring) dengan jumlah peserta luring yang dibatasi sebanyak 50 orang. Hal ini dilakukan agar protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah tetap terjaga.
Pelatihan ini dibuka oleh Wakil Dekan 1 FIB, Listiyono Santoso. Pada sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya pengembangan karakter, terutama bagi mahasiswa FIB. Menurut Listiyono, karakter bisa terbentuk dari sebuah keterpaksaan yang akan berubah menjadi sebuah kewajiban hingga berubah menjadi sebuah kebiasaan.
Sesuai dengan motto FIB sendiri, yaitu “Membangun Negeri Berbasis Tradisi”, pelatihan ini dimaksudkan untuk menguatkan karakter mahasiswa FIB, khususnya dalam berbudaya di tengah masyarakat 4.0 menuju 5.0. Mahasiswa FIB sendiri diharapkan bisa menjadi pionir penyelamat krisis kebudayaan yang tengah terjadi di masyarakat.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh pembicara kedua, yaitu Dewi Retno Suminar, Dosen Fakultas Psikologi Unair. Beliau menyampaikan materi terkait bagaimana mengembangkan sebuah karakter positif pada mahasiswa. Untuk memiliki karakter yang positif di lingkungan kampus, mahasiswa sendiri harus memulai dari diri mereka masing-masing. Analisis diri serta pengenalan diri sendiri menjadi kunci utama untuk terhindar dari pengaruh negatif yang ada di lingkungan kampus.

Hal tersebut tentunya sangat dekat dengan masalah-masalah yang ada dalam diri mahasiswa, di mana sering kali menyebabkan kendala selama masa studi berlangsung. Pengaruh dari berbagai macam karakter yang ada pada setiap mahasiswa sering kali membuat diri kita goyah. Misalnya, gaya hidup ataupun pencapaian pada setiap orang sering kali membuat rasa insecure muncul.
Oleh karena itu, mahasiswa haruslah yakin serta percaya diri pada karakter dan diri mereka. Dibutuhkan pengenalan serta analisis diri yang matang untuk mencapai tujuan tersebut. Dewi juga mengatakan bahwa belajar dari pengalaman hidup orang lain juga menjadi sebuah ilmu penting dalam meraih kesuksesan.
“Orang cerdas adalah orang yang belajar dari pengalaman orang lain, terapkan metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) berubah menjadi lebih baik, tetapi jangan lupa be yourself,” ujarnya.
Materi kedua disampaikan oleh salah satu dosen muda FIB, Kukuh Yudha Karnanta. Beliau baru-baru ini memperoleh penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia 2021 pada nominasi Karya Kritik Film Terbaik (10/11). Dengan judul “Mahasiswa FIB Menjadi Apa?”, tema materi yang disampaikan dalam pelatihan kali ini sangat dekat sekali dengan kegelisahan mahasiswa FIB.
Rasa khawatir ketika menjadi lulusan FIB sendiri sering menjadi masalah bagi mahasiswa. Belum lagi cemooh serta perkataan negatif sering kali menggoyahkan kita sebagai mahasiswa FIB yang selalu dianggap sebelah mata.
Kukuh sendiri menceritakan tentang lika-liku hidupnya selama menjadi mahasiswa FIB di Unair. Kegemaran menulis, membaca, menonton, dan membuat film menjadi senjata untuk membuktikan pada semua orang bahwa mahasiswa FIB juga bisa sukses jika mereka mau bergerak.
“Menjadi pendendam yang konstruktif, diremehkan seseorang bisa menjadi senjata kita untuk move on,” kata dosen muda ini ketika bercerita pernah dipandang sebelah mata selama menjadi mahasiswa.
Ia juga menambahkan bahwa hobi yang dimiliki juga sangat penting untuk menentukan arah dan tujuan seseorang. Hal ini seperti apa yang sudah dikatakan Dewi pada materi pertama tentang pengenalan diri, yaitu jika kita kenal dengan diri kita maka akan mudah untuk mengenali bagian mana dari studi kita yang menyambung dengan hobi dan cita-cita. Hobi menulis yang dimiliki Kukuh ini juga menjadi kunci kesuksesannya di kemudian hari. “Kesempatan baik itu tidak hanya satu kali, melainkan berkali-kali, tergantung bagaimana kalian melihat peluang dan memanfaatkannya,” ucap Kukuh sebelum menutup materi.
Reporter: Ini Tanjung Tani
Editor: Salsha Okta Fairuz
