Surabaya – Rangkaian acara ICAS 13 (13th International Convention of Asia Scholars) berakhir pada Selasa (1/8), setelah lima hari berlangsung, mulai 28 Juli hingga 1 Agustus 2024.
Konferensi yang diselenggarakan oleh International Institute for Asian Studies (IIAS) dari Leiden, Belanda, bekerja sama dengan Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC) ini menghimpun lebih dari 1.500 peserta dari 66 negara untuk hadir di Surabaya.
ICAS 13 mengadakan konferensi yang bertujuan untuk menghubungkan akademisi dengan masyarakat. Agenda ini bertujuan agar konferensi tidak hanya menjadi wadah bagi akademisi untuk berdiskusi di lingkungan kampus saja, tetapi juga untuk merasakan langsung kehidupan masyarakat setempat.
Kegiatan ini diselenggarakan di berbagai lokasi, termasuk kampus Universitas Airlangga (Unair): Gedung Sekolah Pascasarjana, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Airlangga Shari’a and Entrepreneurship Education Center (ASEEC) Tower, Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian, Museum Kesehatan serta di luar kampus, meliputi Kampung Tambak Bayan, Kampung Plampitan, Peneleh, dan beberapa lokasi penting lainnya, seperti De Javasche Bank dan Taman Sejarah Pasar Pabean. Acara ICAS 13 terbagi menjadi tiga rangkaian utama: konferensi, festival, dan pameran, yang dirancang untuk memfasilitasi interaksi antara peserta akademis dan masyarakat lokal.
Philippe Peycam, Direktur IIAS, menyatakan apresiasinya terhadap upaya Surabaya dalam menghidupkan potensi sejarah kota tersebut. Namun, ia juga menekankan pentingnya memastikan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada sektor pariwisata, tetapi juga pada pelestarian budaya dan sejarah lokal. Ini adalah kali pertama ICAS diselenggarakan di Indonesia dengan Surabaya sebagai lokasi pilihan karena kekhasan budaya dan sejarahnya.
Dalam konferensi pers yang diadakan pada 27 Juli 2024, Peycam menyebutkan bahwa Surabaya memiliki sejarah yang dinamis dan merupakan pintu menuju bagian timur Indonesia, menjadikannya lokasi yang ideal untuk ICAS 13. Selain itu, Unair dipilih karena memiliki Center for African Studies (Pusat Kajian Afrika) yang unik di Indonesia, tepatnya di FISIP.
Tim media ICAS 13, Edgar Allan Stefan, dalam wawancara bersama LPM SITUS, mengungkapkan kepuasan terhadap antusiasme peserta, meskipun menyadari adanya kekurangan dalam persiapan dan pelaksanaan acara. Pihaknya berharap agar agenda berikutnya dapat belajar dari pengalaman ini dan penyelenggara dapat mempersiapkan acara yang lebih baik di masa depan.
Ia mengatakan, “Harapanku sendiri, semoga ICAS 14 dan seterusnya bisa menjadi lebih baik lagi dan bertransformasi terus seperti selama ini.”
Edgar berharap agar konferensi ini terus berkembang untuk mendukung persebaran dan pengajaran pengetahuan alternatif secara global, sesuai dengan tujuan ICAS dan IIAS.
“Semoga tujuan mulia ICAS dan IIAS bisa tercapai dan semoga AIIOC sebagai bagian dari Universitas Airlangga dapat berkembang lebih lanjut hingga taraf internasional,” sambung Edgar.
Reporter: Hurun`in Kamila, Muhamad Maulana Saputro
Editor: Henik Fuji
