FIBRA Dance sampaikan keluhan terkait pengelolaan komunitas tari modern di FIB ketika
ditemui tim liputan LPM SITUS di Student Center Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Airlangga, Selasa (16/5).
Rosa, ketua FIBRA Dance, menjelaskan bahwa akhir-akhir ini, komunitas dance yang
terbentuk sejak 2016 itu kesulitan mendapatkan akses beberapa ruangan di FIB, salah satunya
hall, untuk keperluan latihan. Keterbatasan dan pembebanan dana pribadi untuk kepentingan
pengelolaan juga menjadi masalah krusial komunitas ini. Hal ini menimbulkan spekulasi
bahwa FIBRA kurang mendapat perhatian dari pihak fakultas.
“Kita gak dikasih dana sama sekali kalau misalnya ada acara gitu, kayak Fesbud. Gak ada
bantuan dana buat latihan, buat kostum itu gak ada sama sekali,” katanya, “semua itu bener-
bener dari uang pribadi.”
FIBRA Dance berupaya menjaga eksistensinya dengan mengikuti berbagai acara dan
perlombaan. Meskipun tidak mendapatkan komisi, mereka akan tetap tampil untuk mem-
branding komunitas tersebut.
Rosa mengatakan alasan terkuat masih mempertahankan FIBRA Dance karena menurutnya
komunitas ini turut berperan dalam melestarikan budaya dalam bentuk dance modern. Selain
itu, keberadaan FIBRA Dance juga dapat menjadi salah satu media branding Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Airlangga.
Menanggapi persoalan FIBRA Dance, Kamis (25/5), Bakdi, presiden BEM FIB, menjelaskan
ketidakbenaran FIBRA yang kurang mendapat perhatian. Komunitas-komunitas di FIB
menjadi wadah minat dan bakat mahasiswa sehingga BEM memberikan ruang untuk tetap
eksis dan mendapatkan apresiasi dengan porsi yang adil.
“Komunitas mereka eksis karena kepentingan dan kesukaan yang sama di FIB, dan
komunitas tidak mendapatkan pendanaan dari fakultas karena data mereka tidak terdata
secara legal di fakultas. Jadi, memang bukan tanggung jawab fakultas,” terangnya,
“perubahan komunitas ke BSO (terdaftar legal) itu mungkin.” Bakdi juga menambahkan
bahwa komunitas dibawai oleh BEM, “jadi kami naungi, kami dengarkan keluh kesahnya.”
Terkait fasilitas ruangan, mesti tidak mendapatkan pendanaan dari fakultas, komunitas tetap
dapat menggunakannya dengan alur yang sama seperti BSO dan BEM. Sedangkan perihal
keperluan biaya, Bakdi menyatakan bahwa pihak BEM akan mengupayakan dana sesuai
kapasitas. “Kami berusaha memberikan porsi yang yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan
teman-teman komunitas, tentu tidak semuanya bisa kami fasilitasi karena dana kami juga
terbatas, tetapi sebisa mungkin kami coba untuk membagi sebijak mungkin,” tuturnya.
Reporter: Syifa, Kamila, Della, Meta, Zahrani
