Thursday, 5 November 2026
Opini

Indonesia di Bawah Bayang-Bayang Gempa Megathrust

Oleh : : - Waktu Baca 6 menit
Titik Megathrust
ilustrasi titik megathrust di Indonesia (bmkg.go.id)

Pada (8/8) kemarin, gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Miyazaki Jepang. Dikutip dari cnnindonesia.com gempa bumi tersebut berasal dari zona megathrust Nankai. Palung Nankai merupakan zona gempa megathrust. Dikutip dari antaranews.com gempa Nankai ini mempunyai periode pengulangan 90-200 tahun. Sebelumnya Jepang pernah mengalami gempa bermagnitudo 9,1 Tohoku di sepanjang megathrust palung Jepang. Dengan besarnya guncangan gempa tersebut, pemerintah Jepang sudah memprediksi potensi kerusakan gempa bumi Nankai ke depan akan jauh lebih merusak dari gempa 2011 silam. Dari kejadian tersebut bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia sendiri juga merupakan daerah yang rawan gempa atau merupakan wilayah ring of fire, hal ini karena Indonesia merupakan wilayah tempat dilaluinya tiga lempeng tektonik yaitu: Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Dengan kondisi demikian, potensi gempa akan selalu membayang-bayangi Indonesia, demikian dengan potensi gempa megathrust ini.

Soal potensi gempa megathrust ini pernah disampaikan dan menjadi viral di pemberitaan dan media sosial oleh Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono. Ia menyampaikan bahwa Indonesia harus waspada potensi gempa dari zona megathrust yaitu megathrust Selat Sunda dan megathrust Mentawai-Siberut. Dalam keterangan itu, Daryono juga menyebut gempa ini tinggal menunggu waktu. Hal ini dikarenakan di kawasan tersebut sudah lama tidak dilanda gempa ratusan tahun lamanya. Potensi ini sudah lama dibahas sejak sebelum gempa dan tsunami di Aceh pada 2004 silam. Dari sisi sejarah Indonesia sudah pernah mengalami gempa ini. Seperti yang dikutip dari okezone.com gempa megathrust dengan magnitudo lebih dari 8 di Indonesia ini sudah terjadi sejak tahun 1600-an sebanyak 20 kali.

Lalu, apa itu gempa megathrust dan apa dampaknya? Dikutip dari Kompas.com, gempa megathrust adalah gempa di zona subduksi yang berenergi besar. Di zona subduksi ini satu lempeng tektonik bumi akan terdorong ke dalam lempeng tektonik lainya. Dampak dari gempa megathrust ini terbilang besar karena mempunyai energi yang besar dan guncangan gempanya juga akan berpeluang merusak bangunan bangunan di daerah terjadinya gempa. Gempa bumi megathrust ini juga berpotensi menghasilkan tsunami akibat dari pergerakan vertikal dasar laut saat berlangsungnya gempa bumi. Raul Perez Lopez, ahli geologi Spanyol dari Geological and Mining Institute, menggambarkan kekuatan gempa ini seperti yang dikutip dari laman detik dari live science “satu gempa megathrust ini setara dengan energi yang dilepaskan oleh 32.000 bom nuklir Hiroshima”.

Dengan potensi dan dampak yang akan ditimbulkan dari gempa megathrust ini, sudah sewajibnya pemerintah mengambil langkah preventif untuk meminimalisir dampak dari gempa megathrust. Oleh karena mempersiapkan untuk sebuah bencana adalah sebuah tantangan di tengah banyaknya urusan pemerintah dan bayang-bayang akan bencana ini dapat terjadi kapan saja, karena itulah pemerintah harus sedini mungkin mempersiapkan keadaan atau skema jika terjadi gempa megathrust.

Salah satu tantangan ini datang dari karakteristik gempa megathrust sendiri, yaitu tidak dapat diketahui persis kapan terjadinya. Dikutip dari detik.com masalah ketidakmampuan ini pernah disampaikan oleh David Bressan, kolumnis sains Forbes, ia mengatakan ini sangat sulit diprediksi ini terjadi dari patahan tiba-tiba bebatuan di kedalaman. Oleh karena itu, sangat sulit untuk benar-benar mengetahui tingkah bebatuan dengan bebatuan dengan temperatur dan tekanan di sana. Ketidakjelasan ini menjadi tantangan karena ini dapat terjadi kapan saja. Strategi dan skema harus dipersiapkan untuk menghindari kemungkinan terburuk. Tidak ada yang mengetahui bencana ini akan bersamaan dengan masalah lain yang dihadapi negara. Ketidaktahuan ini dapat menjadikan kita terlena untuk tidak bersiap karena tidak jelas dan lama kelamaan akan melupakan masalah ini. Permasalahan seperti bagaimana penggantian kerusakan dan perbaikan ekonomi itu harus dikalkulasikan karena itu merupakan hal penting pasca terjadi gempa, sehingga ekonomi warga yang terdampak tidak terpuruk. Selain pasca gempa, pemerintah juga harus  rutin menggelar simulasi saat terjadi gempa selama sebulan 2 kali atau lebih, dan lebih menggencarkan sosialisasi bagaimana cara evakuasi. Dengan melakukan hal tersebut, diharapkan saat terjadi tidak meminimalisir kondisi buruk. Oleh karena itu, strategi sudah harus dirumuskan untuk menghadapi situasi tersebut agar penanganan cepat dan tidak berlarut larut.  

Tantangan selanjutnya yaitu masalah otonomi daerah antara BMKG dan pemerintah daerah. Hal ini disampaikan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, yang dikutip cnbcindonesia.com dari cnnindonesia.com, ia mengatakan bahwa dalam bekerja BMKG tidak bisa mengerjakan dari hulu ke hilir. Hal ini dikarenakan terbentur dengan kewenangan atau otonomi daerah masing-masing. Permasalahan yang terjadi di sini yaitu ketidakberlanjutan instruksi dan tidak dirawatnya sarana prasarana dari BMKG, atau dengan kata lain instruksi dan sarpras tersebut berhenti atau tidak terawat di pemerintah daerah. Instruksi evakuasi saat bencana yang disosialisasikan BMKG ke pemerintah daerah tidak diteruskan ke Masyarakat, dan juga ketidaktegasan pemerintah daerah dalam menjaga tata ruang, jalur evakuasi, dan persyaratan bangunan. Dwikorita juga mengatakan yang menjadi tugas lainya yaitu jika pergantian kepala daerah, karena ini dapat terjadi ketidaksinambungan program pemerintah penanganan bencana pemerintah sebelumnya. Jadi, penyelarasan BMKG dan pemerintah daerah penting untuk meminimalisir dampak gempa bumi ini.

Namun sejauh ini sudah ada beberapa daerah yang mulai menyadari potensi gempa ini. Kesadaran tersebut direalisasikan dengan menggelar simulasi gempa. Salah satu daerah tersebut yakni Mentawai yang merupakan zona rawan. Hal itu dikutip dari mediaindonesia.com masyarakat belajar melakukan penyelamatan diri dasar saat terjadi gempa seperti berlindung di bawah meja dan menghindarkan diri saat gempa berlangsung dari bangunan yang mudah roboh dan material yang bahaya seperti kaca. Selain itu, simulasi saat dibutuhkannya evakuasi juga dilakukan dengan masyarakat memukul kentongan dan mendahulukan kelompok rentan seperti ibu hamil dan lansia untuk dibawa ke tempat pengungsian. Selain di Mentawai, apel siaga dan simulasi juga di Pandeglang, Pangandaran, dan Cilacap.

Penggelaran simulasi ini merupakan respon yang positif dari pemerintah. Ini merupakan langkah awal yang baik bagi masyarakat untuk mengenali cara menyelamatkan diri saat gempa berlangsung dan mempererat kerja sama warga dan BNPT dalam evakuasi. Dengan demikian ini dapat mengurangi resiko banyaknya korban yang tidak selamat. Harapannya, simulasi semacam ini diselenggarakan di daerah lain terutama daerah yang rawan gempa dan juga dilaksanakan sesering mungkin mengingat gempa ini tidak dapat diprediksi.

Penulis: Muchammad Nasrulloh Assidiqi

Editor: Maya Ayu Nur Aini

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *