Thursday, 5 November 2026
Opini

Jangan Takut Dianggap FOMO, “All Eyes On Rafah” Adalah Sikap!

Oleh : : - Waktu Baca 5 menit
Picture All Eyes On Rafah 1

Tak lagi asing di mata dan benak kita soal slogan “All Eyes on Rafah” yang tersebar luas secara digital di media sosial akhir-akhir ini. Slogan berbentuk gambar digital yang dibuat dengan AI tersebut pertama kali dipublikasikan oleh akun Instagram seorang netizen Malaysia bernama “shahv4012”. Upayanya untuk berbagi melalui Instastory akunnya tersebut akhirnya diikuti oleh banyak orang di seluruh dunia. Hingga saat ini, ada lebih dari 47 juta orang yang mengunggah dan membagikan poster digital “All Eyes On Rafah” tersebut.

Publikasi dan pengunggahan slogan “All Eyes On Rafah” yang begitu masif tentu saja bukanlah sebuah sensasi media sosial tanpa sebab yang berarti. Slogan tersebut merupakan respons rasional atas rangkaian serangan udara berskala besar yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Imperialis Israel atas kawasan kamp pengungsian warga Palestina yang terdampak konflik. Kawasan pengungsian Rafah tersebut adalah satu-satunya area yang terhubung secara langsung dengan saluran bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi.

Rangkaian serangan brutal secara terang-terangan yang disebut oleh PM Israel Netanyahu sebagai sebuah “kesalahan yang tragis” tersebut telah banyak merenggut nyawa para pengungsi serta membuat banyak lagi dari mereka terkatung-katung dan kehilangan harapan untuk mendapatkan tempat tinggal yang aman. Berangkat dari situ, solidaritas lintas negara tidak hanya dilakukan secara konvensional tetapi juga digital untuk bersimpati dan menyuarakan situasi tragis tersebut.

Namun, polemik yang seharusnya tidak perlu tetap muncul di tengah gelombang solidaritas kolektif lintas negara tersebut. Upaya pengunggahan slogan “All Eyes On Rafah” yang dilakukan secara masif tersebut diwarnai oleh berbagai nyinyiran netizen atau publik yang enggan bersimpati dengan cara melabeli mereka yang ikut bersimpati mengidap fenomena sosial FOMO atau Fear of Missing Out.

Dikutip dari halodoc.com, Fear of Missing Out (FOMO) adalah fenomena psikologis yang ditandai dengan ketakutan melewatkan momen, pengalaman, atau aktivitas yang sedang populer dilakukan di sebuah lingkungan. Fenomena ini berdampak buruk bagi mereka yang terjangkiti karena potensi kemunculan berbagai perasaan takut dan cemas berlebih yang kemudian berdampak kurang baik pada situasi fisik dan psikologis. Fenomena ini kemudian semakin marak berkat kehidupan media sosial kita hari ini yang melaju begitu cepat dan masif. Berbagai fenomena sosial yang marak mampu tersebar dan diketahui oleh banyak orang. Dengan demikian, fenomena FOMO sebagai sebuah gejala psikologis begitu sering menjangkiti publik kita hari ini.

Namun dalam sudut pandang lain, tidak semua tindakan yang marak dilakukan mampu dianggap sebagai sebuah gejala FOMO. Ada banyak bentuk tindakan yang dilakukan secara kolektif didasari atas beragam motivasi lain, seperti simpati, peduli, serta solidaritas. Terlebih, bentuk-bentuk tindakan yang muncul tersebut juga disebabkan oleh suatu peristiwa maupun tragedi yang tragis dan menyakitkan, serta bertentangan dengan nilai kemanusiaan, moral, serta sosial.

Begitu kiranya duduk perkara yang berkaitan dengan fenomena solidaritas kolektif “All Eyes On Rafah” yang membanjiri timeline media sosial kita hari ini. Tragedi kemanusiaan yang terjadi di kawasan Rafah khususnya serta di Palestina umumnya adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang mampu dipandang secara adil sebagai sebuah tragedi tragis yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan universal. Rangkaian serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer asimetris yang merupakan sebuah upaya pembantaian dan penumpasan sebuah etnisitas atau entitas sosial-politik tertentu atau yang jamak disebut sebagai sebuah genosida.

Dengan pengertian serta duduk perkara yang telah diuraikan di atas, suara serta sikap solidaritas yang kita gaungkan melalui pengunggahan pamflet digital “All Eyes On Rafah” maupun dengan bentuk-bentuk lainnya tidak bisa serta merta dianggap sebagai sebuah bagian dari gejala psikologis FOMO. Lebih jauh, akar dari tindakan yang kita semua lakukan merupakan pilihan sadar serta komitmen kita atas nilai kemanusiaan dan perjuangan kedaulatan negara terjajah bernama Palestina. Apa yang kita lakukan juga merupakan bagian dari aktivisme media sosial yang marak dipilih di era hari ini sebagai sebuah upaya paling sederhana atau “selemah-lemahnya iman” kita dalam berpartisipasi untuk menyuarakan isu sosial yang ada.

Akhir kata, melalui tulisan ini, penulis hendak menyampaikan seruan kepada pembaca dan semua yang masih memiliki nurani kemanusiaan untuk menggaungkan slogan “All Eyes on Rafah” serta seruan kemerdekaan Palestina lain dalam bentuk serta cara apa pun yang mampu kita lakukan. Tindakan kita menjadi sebuah bukti konkret atas komitmen kemanusiaan dan keberpihakan kita pada perjuangan pembebasan revolusioner di mana pun berada. Palestina bersama dengan banyak negeri dan wilayah lain yang hingga kini masih terus berjuang adalah bentuk keterjajahan nyata yang hingga kini masih terus terjadi. Perjuangan yang mereka lakukan adalah perjuangan yang perlu kita lakukan juga sebagai individu merdeka yang percaya bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Tindakan kita tidak akan pernah sia-sia. Apa yang kita lakukan adalah sikap nyata dan jauh lebih baik daripada diam seribu bahasa atas berbagai persoalan kemanusiaan dan kemerdekaan yang ada.

Penulis: Syahirul Gama Afghani

Editor: Ayu Saraswati

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *