Thursday, 5 November 2026
Feature / Kolom

Kekerasan, Perampasan, Pelecehan, dan Ancaman Pembunuhan: Kesaksian Mahasiswa UNAIR di Hadapan Brutalitas Aparat

Oleh : : - Waktu Baca 9 menit
Whatsapp image 2025 09 07 at 10.36.10 1ba482d4
Sumber: YLBHI

Surabaya, 6 September 2025. Selasar depan Gedung Rektorat Universitas Airlangga menjadi mimbar berkabung pada Sabtu malam. Bermandi cahaya rembulan, para civitas akademika duduk sama rata, sama rasa, sama warna, berduka atas situasi sosial dan politik yang sedang melanda Ibu Pertiwi.

“Kabung Duka Airlangga”. Begitulah tajuk aksi simbolik yang diinisiasi oleh BEM Unair dan berbagai elemen civitas akademika lainnya. Agenda ini menjadi wadah bagi civitas akademika untuk menuangkan rasa resah dan amarah terhadap arogansi penguasa yang diperparah dengan vulgarnya represifitas aparat yang nampak selama gelombang protes beberapa hari lalu. 

Pada kegiatan tersebut, beberapa pembicara yang hadir antusias bergiliran memegang mimbar. Salah satunya ialah Rizal Hidayatullah – satu dari sekian banyak demonstran yang mengalami langsung brutalitas aparat selama gelombang protes kemarin. Rizal mendapatkan tempat istimewa dalam forum ini karena ia menjadi contoh betapa kejamnya aparatur negara memperlakukan rakyatnya.

“Jika teman-teman dan rekan-rekan pergerakan saya tidak berisik, mungkin saya tidak berada di sini malam ini. Saya mungkin masih berada di jeruji besi,” ungkap Rizal di hadapan hadirin yang duduk khidmat.

Kami berkesempatan mewawancarai Rizal sebelum bercerita dan mengenang kengerian yang menimpanya. Mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga itu sempat bercakap-cakap terkait kondisi fisik yang belum pulih total pasca peristiwa yang terjadi hampir sepekan lalu.

“Kemarin belum terasa, sekarang seminggu baru terasa,” singkat Rizal diikuti tawa sesaat. Nampaknya memori malam itu masih segar dalam ingatannya.

Selama aksi pada Jumat (28/8/2025) di depan Gedung Negara Grahadi, Rizal bertugas sebagai koordinator lapangan untuk massa gabungan UNAIR dan ITS. Aksi protes pada hari itu berakhir dengan bentrokan antara massa aksi dengan aparat keamanan hingga Brimob diterjunkan untuk memukul dan memecah demonstran.

Sore berganti malam dan kondisi sekitar Gedung Grahadi kian mencekam. Gas air mata tak henti-hentinya ditembakkan. Dentuman demi dentuman menghiasi malam itu. Rizal yang khawatir rekannya tertinggal di belakang kembali menyisir “titik api” untuk memastikan tak ada mahasiswa yang tertinggal.

“Saat sweeping kedua sekitar pukul delapan, saya mulai melakukan sweeping di tiga titik. Pertama di Monkasel (Monumen Kapal Selam) samping Grand City (Mall), kedua di (Monumen) Bambu Runcing, dan ketiga di Jl. Sulawesi daerah pom bensin tempat saya tertangkap. Yang pertama dan kedua itu saya coba cek terakhir kalinya, dan ternyata aman,” jelas Rizal.

Namun, nasib sial menimpanya setelah itu. Ketika sedang melakukan klarifikasi demonstran yang tertangkap, sebuah tangan menggenggam dan merangkulnya dari belakang.

“Pada saat saya nyatat, tiba-tiba sudah ada yang meluk dari belakang. Jadi, ya gimana, nggak bisa lari,” lanjut Rizal menjelaskan, “pas itu tiba-tiba ditendang motor saya. Helm saya juga ditendang sampai hancur. Kemudian saya digeret lah, dibawa kayak anak kucing gitu, terus dibawa ke arah jembatan untuk pertama kalinya.”

Malang bagi Rizal – ia diseret oleh aparat. Selama dalam perjalanan itu ia disuruh untuk mengisi “absen”. Terhitung sebanyak tiga absen yang ia isi. Akhirnya Rizal sampai di destinasi terakhir – Gedung Grahadi. Lapangan depan gedung saat itu dipenuhi aparat yang sedang beristirahat.

Ketika langkahnya sampai di gerbang masuk Grahadi, Rizal mendengar suatu seruan seorang aparat kepada rekan-rekannya yang sedang beristirahat.

“Jadi pas saya baru masuk gerbangnya itu, semua langsung berdiri ngelihat saya, terus ada yang teriak ‘Korlap’. Akhirnya mereka berdiri semua nyamperin motor saya,” tutur Rizal.

Korlap. Satu kata yang menjadi titik awal malapetaka bagi Rizal, yang dilukiskannya dengan sedikit humor sebagai, “moment of the core-nya, MVP-nya di Grahadi.” Laksana sekelompok serigala buas kelaparan yang melihat seekor domba, aparat beramai-ramai meraih Rizal dan memberikan salam sambutan dengan tinju dan tendangan.

“Pas saya turun, nah langsung ‘silaturahmi’ (kekerasan) yang paling parah di situ. Dari pukulan, tendangan, helm melayang, tongkat melayang. Dari kepala sampai kaki. Jadi di hari Jumat malam, ya saya jadi samsak berjalan aja.”

Rizal tak ingat persis siapa yang memukulnya malam itu. Yang ia bisa pastikan hanya jumlah mereka. “Ya lumayan lah, dua sampai tiga atau tiga sampai empat kompi, 50-an lah bisa dibilang,” ungkapnya.

Agaknya tiada ampun bagi Rizal malam itu. Tubuhnya yang sudah letih bergerak dalam gelombang demonstrasi di siang dan sore hari harus menghadapi kebiadaban polisi di malam harinya.

“Terus ada satu orang yang tiba-tiba mukul di muka saya, di kacamata. Sampai kacamata saya pecah dan ada robek kecil di kelopak mata saya yang menyebabkan pendarahan cukup banyak. Dan saya sampai tergeletak lah, tersandar di mobilnya itu (yang membuat) saya pusing. Dan itu tetap kena pukul di sana.”

Nampaknya tak cukup membuat Rizal bermandi darah, para aparat juga melakukan kekerasan verbal dan perbuatan tak senonoh.

“Ya bilang ‘dibunuh aja’ padahal sudah berdarah. Bahkan ada yang megang alat kelamin.”

Malam itu Rizal tak ubahnya seonggok tubuh tak bernilai. Ia dibiarkan begitu saja dengan rasa sakit yang menguasai raganya. Kacamatanya hancur – membuat penglihatannya yang sudah terganggu bertambah buruk.

“Saya kan minusnya lima, jadi selama itu nggak terlalu kelihatan. Jadi setengah buta saya di sana. Apalagi sudah memar. Sudah setengah nutup,” kenang Rizal seraya menunjukkan mata kanannya yang masih meninggalkan corak biru. Mungkin baginya dunia tampak begitu gelap dan keras di saat bersamaan.

Tak ada yang bisa dilakukan oleh Rizal selain berpasrah. Ia hanya terpaku dengan balutan rasa sakit tanpa uluran tangan dari pihak aparat. Barulah setelah 30 menit ia mendapat pertolongan pertama.

“Nggak dapat pertolongan pertama. Cuma habis digebukin dibiarin sekitar setengah jam baru dapat (pertolongan).”

Setelah mendapatkan pertolongan yang setengah hati itu, Rizal dibawa menuju Polrestabes Surabaya. Ia diberikan sebuah ruangan, suatu keberuntungan kecil baginya.

“Kebetulan aku dapat semacam kantor, jadi bukan sel. Jadi lebih manusiawi sedikit daripada yang lain, diperhatikan sedikit.” Ia juga menceritakan pergulatan psikisnya dengan interogator di sana. “Kita perang psikologi antarpenyidik. Apa yang kita sampaikan bisa aja dipelintir, bisa aja nggak sesuai.”

Meski sudah sedikit lega karena terbebas dari kengerian malam sebelumnya, Rizal belum juga mendapatkan keadilan yang semestinya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk mendapatkan bantuan hukum melalui LBH dengan alasan yang tidak jelas.

“Bahkan hak saya untuk menghubungi orang pun nggak ada sama sekali. Bahkan HP saya disita tanpa perizinan saya. Tiba-tiba dibawa ke polda, disuruh tanda tangan surat tanda terima. Apa hak saya yang dipenuhi di sana? Hak saya untuk menghubungi kuasa hukum seperti LBH (Lembaga Bantuan Hukum) aja nggak dikasih. Bahkan saya sudah minta pun nggak dikasih juga.” Ketika ditanya alasan mengapa ia dihalang-halangi seperti itu, pihak kepolisian hanya menjawab, “nanti.”

Setelah 20 jam menanti, akhirnya Rizal dibebaskan pada Sabtu (29/8/2025). Menurutnya, perhatian publik serta kerja keras LBH berkontribusi besar dalam pembebasannya.

“Mungkin ya memang desakan dari publik. Terus kan ya aturannya satu kali 24 jam. Saya total itu 20 jam. Saya masuk jam delapan malam mulai ditangkap, bebasnya jam 16.00 (empat sore). Kurang lebih 20 jam saya ditahan,” ungkap Rizal.

Rizal tak hanya mengalami kekerasan fisik dan verbal, tetapi ia juga dilucuti hak-haknya sebagai masyarakat dalam tatanan demokrasi. Ia mengalami kerugian materiil yang tidak kecil – beberapa barangnya dihancurkan dan direnggut secara paksa oleh aparat.

“Kacamata dan helm saya sih lumayan totalnya satu jutaan.” Dan apakah ada etiket ganti rugi dari kepolisian? Jawab singkat Rizal: “Tidak ada. Sama sekali.”

Di ujung pembicaraan, kami sempat meminta kontak Rizal, tetapi ia segera mengingatkan satu hal, “HP saya belum balik.” Kemudian ia berlalu, melebur kembali bersama civitas akademika dalam Kabung Duka Airlangga.

Pengalaman Rizal mungkin saja bisa menimpa kita semua. Brutalitas aparat agaknya bersifat universal, melampaui batas-batas kota, kabupaten, provinsi, bahkan negara. Brutalitas aparat khususnya di Indonesia belakangan ini memperlihatkan secara vulgar bahwa tak ada sedikitpun keberpihakan aparat kepada rakyat. Dalam Anak Semua Bangsa (1981) – seri kedua “Tetralogi Buru”, Pramoedya Ananta Toer menulis, “Polisi lebih dekat pada pejabat daripada petani, Tuan. Itu Tuan tahu sendiri.” Nampaknya brutalitas aparat kepolisian, khususnya yang dialami oleh Rizal, tak ubahnya penyakit kronis yang tak kunjung sembuh dalam tubuh kepolisian kita hari ini.

Reporter: Deo

Editor: Syifa

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *