Pada hari Kamis (17/08/2023), Universitas Airlangga memperingati Hari Kemerdekaan ke-78 Republik Indonesia di depan Gedung Rektorat Kampus C Unair. Upacara tersebut dimulai tepat pada pukul 07.00 WIB dengan dihadiri oleh rektor Unair, yaitu Prof. Dr. Mohammad Nasih, S.E., M.T., Ak.—selaku inspektur upacara, para dekan dan dosen, perwakilan mahasiswa setiap fakultas, termasuk mahasiswa baru angkatan 2023. Para peserta upacara mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia yang merepresentasikan ‘Bhinneka Tunggal Ika’.
Upacara diawali dengan pengibaran bendera merah putih dengan diiringi lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan mengheningkan cipta, pembacaan Pancasila, dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Selanjutnya, ada pidato dari rektor Unair yang membakar semangat nasionalisme mahasiswa tentang arti sebuah kemerdekaan bagi para mahasiswa.
“Terciptanya Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), meski harus melalui perjuangan, tidak hanya diartikan bahwa kita semua mempunyai kebebasan ‘untuk menjadi apa yang kita harapkan’, mimpi-mimpi kita difasilitasi penuh oleh perguruan tinggi. Tapi lebih dari itu, MBKM juga perlu diartikan bahwa kita semua bisa melakukan proses pembelajaran itu dengan aman dan nyaman. Dengan merdeka, kita bebas dari ketakutan,” ujar Rektor Universitas Airlangga.
Di sela-sela pidato, Prof. Nasih mengajak seluruh peserta upacara untuk menyanyikan lagu-lagu nasional seperti Garuda Pancasila dan Hari Merdeka. Selain itu, ada beberapa kuis berhadiah seputar sejarah Indonesia dan sejarah Universitas Airlangga yang diperebutkan mahasiswa.
Sebelum rangkaian upacara ditutup dengan doa, ada prosesi peluncuran logo dies natalis ke-69 Universitas Airlangga yang berlangsung meriah. Dengan gemuruh suara seluruh peserta upacara, balon berwarna biru kuning yang di bawahnya bertulisan 69 melambung tinggi di udara.
Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan rangkaian lomba-lomba yang diikuti oleh mahasiswa baru angkatan 2023.“Seru banget, keren! Nggak cuma bisa lihat upacara kemerdekaan, tetapi juga bisa lihat kostum-kostum adat yang dipakai dosen-dosen. Meriah juga,” kesan Muhimatul Khoiriyah, salah satu mahasiswa FIB. Menurutnya, kemerdekaan adalah di saat mahasiswa bisa mengekspresikan diri sebebas-bebasnya. Mahasiswa diberikan fasilitas yang sepadan, tidak memandang fakultas, adalah kemerdekaan yang sebenarnya.
Reporter : Fadhila Khusnul Na’imah
Editor : Dikta Sumar Hidayah
