Saturday, 7 November 2026
Feature / Kolom

Kisah Sajak Perlawanan: Fido dan Sajak “Seragam dan Meja” pada Aksi Kamisan ke-856 Surabaya

Oleh : : - Waktu Baca 6 menit
Img 20250323 wa0034

RAKYAT BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN

RUU TNI! NDASMU!

RUU TNI! JANCOK!

Seruan-seruan itu beradu, bersama dengan sumpah serapah dan angkara murka massa. Mereka bergerombol dalam jumlah yang tak seberapa, tapi keberanian dan kemarahan mereka berlipat-lipat lebih besar. Mereka, massa Aksi Kamisan ke-856 Surabaya berdiri tegak kembali dengan jumlah yang tak seperti biasanya pada Kamis (20/3). Berderet kendaraan taktis dan panser serta beratus-ratus barisan tentara, polisi, aparatur sipil, dan pejabat daerah menghadap tepat dengan massa aksi. Kali ini, entah disengaja atau tidak, Aksi Kamisan berbarengan dengan gelaran seremoni apel Operasi Ketupat 2025.

Setiap raung orasi, tiap tinju dan telunjuk tangan mereka, serta luapan emosi tertuju untuk menyikapi satu persoalan; disahkannya UU TNI yang membangkitkan bayang-bayang dwifungsi ABRI Orde Baru. Trauma militerisme berpuluh tahun lalu itu kembali menghinggapi setiap benak masyarakat.

Sekian orator berseru dan berteriak, silih berganti memegang megafon dan menguasai panggung. Tiba gilirannya bagi Fido, pemuda bertubuh ceking dengan raut wajah tegas dan tatapan nanar untuk mengisi podium orasi. Perlahan ia bergerak menuju panggung orasi yang berada di hadapan massa, menunjukkan isyarat kepada orator sebelumnya untuk memberikan kesempatan padanya. Tanpa menunggu lama, ia melepas baju dengan percaya diri. Senyum gugur dari wajahnya, berganti rupa dengan kemarahan yang nyata.

Tubuhnya menggeliat dan bergerak lincah, ia bermonolog dengan membaca puisi gubahannya sendiri berjudul “Seragam dan Meja”. Disaksikan oleh setiap kelopak mata massa serta para perwira dan serdadu yang berjaga mengelilinginya. Ia melantangkan bait demi bait dengan lugas. Semua merasakan kemarahan nyata atas tentara yang direpresentasikan dengan “seragam” serta pejabat dan pemerintahan yang direpresentasikan dengan “meja”. Dua objek kritik tersebut dirangkai dalam berbagai peristiwa yang disajikan pada puisinya, pada tiap jengkal baris bait yang dipenuhi metafora.

Penampilannya berakhir dengan begitu dramatis, disambut dengan riuh tepuk tangan dan seruan massa. Monolognya menyulut ekspresi massa, mengundang lebih banyak orasi-orasi dari massa aksi. Setelah kembali menjadi bagian dari massa, ia menemui kami pada sudut lokasi aksi yang tampak lebih kondusif. Kepada kami, ia bercerita banyak mengenai dirinya, monolognya, serta alasan dan proses penciptaannya.

Kesediaan dirinya bercerita kepada kami begitu tampak, tatapan dan gelagatnya penuh antusias. Ia, bertutur mengenai latar belakang penciptaan sajaknya. “Saya di sini ingin menyuarakan atas tanah-tanah petani yang dirampas oleh tentara. Apalagi di timur sana terlalu banyak tanah yang lapang dan langsung diambil alih oleh tentara,” selorohnya.

Wawancara kami terhambat, karena secara tak terduga situasi lalu lintas di sekitar titik pertemuan kami dengan Fido menjadi tidak kondusif. Klakson dan teriakan massa bersahut-sahutan, kendaraan-kendaraan gagal ditertibkan polisi yang berjaga. Situasipun berakhir kacau, kami beralih tempat walau hanya sedikit bergeser dari titik awal.

Fido melanjutkan penuturannya kepada kami. Ia menjelaskan kegemarannya atas sastra dan seni membuat penyampaian kritiknya menjadi jauh lebih kreatif. Latar ketertarikan ini yang melahirkan puisi, sajak, serta monolog-monolognya yang dipenuhi dengan kritik. Seperti halnya dengan puisi “Seragam dan Meja” ciptaannya kali ini. “Untuk membuat karyanya tidak lama, sekitar dua jam-an. Baru, ini barusan dibuat dua jam menjelang Aksi Kamisan hari ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, “Seperti di dalam naskah saya tadi; mereka tak pernah lahir dari rahim rakyat, mereka hanya mengakuisisi sebagai pelindung rakyat. Jadi saya ingin menyuarakan bahwa omongan mereka itu hanya sebatas formalitas. Mereka ingin dianggap sebagai pelindung rakyat, tetapi mereka sebenarnya malah yang menyengsarakan rakyat,” cakapnya.

Mula-mula, sajak ini adalah sajak biasa. Tetapi karena aksi kamisan dan situasi yang memuakkan ini, sajak itu ia gubah menjadi naskah monolog yang menceritakan kisah seorang petani dan seorang tentara. Kisah dalam naskah ini menggambarkan dengan jelas keangkuhan para “seragam” atau para tentara serta para pejabat pemerintahan yang berlindung di balik “meja” dalam merampas tanah dan hak petani. Keangkuhan ini dipenuhi intimidasi dan kekejian. Bagi Fido, fenomena ini memperjelas bahwa kehadiran mereka tidak lebih dari sekadar penderitaan rakyat. Seharusnya rakyat bisa hidup dengan lebih baik tanpa kehadiran mereka.

Fenomena-fenomena konflik agraria yang terjadi selama ini yang seringkali beririsan dengan militerisme menjadi dorongan atas karyanya. “Tentunya, tentang tanah Papua yang diintimidasi. Seakan kita taunya Papua yang salah, tetapi Papua ingin merdeka karena Papua tanahnya dirampas. Yang kedua adalah petani Pakel yang semua orang tahu,” tegasnya pada kami.

Bagi Fido, semua yang ia tampilkan telah mampu menggambarkan kekejian institusi militer. Hal itu relevan dengan keresahan mengenai UU TNI ini. Ia menyatakan kepada kami bahwa kritiknya mampu menjadi aktualisasi nyata atas kekhawatiran publik mengenai isu militerisme negara ini. Narasi patriotisme dan nasionalisme yang membalut institusi militer saat ini hanyalah ilusi, dibalik itu semua terdapat banyak hal buruk yang perlu diingat masyarakat.

Lebih lanjut, Fido menambahkan pandangannya atas hubungan seni dan sastra dengan kesadaran politik. Baginya yang seorang pelaku, seni dan sastra secara khusus mampu menjadi medium kritik sosial yang ampuh. “Pertama karena saya hidup di sana. Kedua saya ingin “menusuk” mereka dengan cara yang estetis. Sehingga ketika mereka merasa bahwa itu semua hanyalah bualan yang indah, padahal itu adalah kritik-kritik yang tajam,” ungkapnya dengan percaya diri.

Dalam pandangannya, seni merupakan benda tajam yang akan menghujam lebih dalam dan menyakitkan. Publik mungkin akan melihat bahwa seni semata-mata mengandung keindahan. Padahal dibalik buaian estetikanya, seni akan melontarkan serangan yang tak terduga kepada kesewenang-wenangan dan kuasa yang menindas.

“Secepatnya memutus jeratan Orba ini, secepatnya diputus. Tidak bisa disambungkan terus-menerus karena mau dilihat dari penjuru mata angin manapun tidak ada untungnya. Harapan saya, TNI akan kembali ke jalan yang sesungguhnya, walaupun saya tidak tahu apakah mereka pernah di jalan yang sebenarnya atau tidak,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penutup pada perjumpaan kami kali ini. Terang dan jelas, bahwa penolakannya atas militerisme negara dilandasi atas fenomena-fenomena penindasan yang terjadi selama ini. Jabat tangannya kepada kami begitu erat, menandakan keteguhan pandangan dan sikapnya.

Kami berpisah dan membiarkan ia, Fido, kembali menyatu dengan barisan masa untuk melangsungkan aksi hingga akhir. Keberanian-keberanian yang dimiliki Fido dan massa aksi lainnya tak akan pernah surut sedikitpun. Perlawanan yang ia dan massa miliki akan senantiasa membayang-bayangi keangkuhan negara dan alat-alat penindasnya.

Reporter : Afghan

Editor : Disty

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *