Pertemuan pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-42 ASEAN 2023 tepat dilaksanakan pada hari Rabu (10/5) di Hotel Meruorah, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebelum itu, Indonesia secara efektif telah memulai periode ASEAN chairmanship 2023 per tanggal 1 Januari 2023, setelah dilakukannya serah terima Keketuaan ASEAN dari Kamboja ke Indonesia pada KTT ASEAN ke-42 di Phnom Penh pada November 2022. Ini merupakan kali kelima Indonesia didapuk menjadi ketua ASEAN, juga mengingat kesuksesan Indonesia pada Presidensi G20 menjadikan Indonesia semakin memiliki peran penting di kancah internasional.
Tema yang diusung pada ASEAN 2023 adalah “ASEAN Matters: Epicentrum of Growth“, yang terbagi menjadi dua elemen besar yakni ASEAN Matters dan Epicentrum of Growth. Tema ini bermakna bahwa Indonesia ingin ASEAN tetap berperan penting dan relevan bagi masyarakat ASEAN dan dunia. Baik memainkan peran penting dalam mendorong perdamaian maupun kemakmuran di kawasan. Indonesia juga ingin menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional dan global.
Adapun Indonesia telah menyusun tiga pilar atau isu Priorities Economic Deliverables. Tiga isu tersebut yakni Recovery-Rebuilding, Digital Economy, dan Sustainability. Isu yang dibawah ini juga merupakan keberlanjutan agenda dari Presidensi G20 Indonesia. Usulan upaya atas isu-isu dilakukan melalui Rapat Koordinasi Tingkat Eselon I pada hari Jumat (18/3) secara hybrid untuk menyusun prioritas ekonomi yang akan diusung Indonesia.
Pada Recovery-Rebuilding, isu ini bertujuan untuk mengeksplorasi Policy Mix (bauran kebijakan) yang terkalibrasi, bertujuan untuk fokus pada upaya pemulihan dan menghidupkan kembali perekonomian pasca pandemi Covid-19 yang melanda semua negara, serta memitigasi risiko seperti inflasi dan volatilitas arus modal. Upaya pada isu ini di antaranya: pendirian Sekretariat RCEP di Jakarta yang juga bertujuan menguatkan status Jakarta sebagai the Diplomatic Capital City of ASEAN, finalisasi substansi perjanjian ASEAN–Kanada, serta penyusunan kerangka kerja rantai pasok regional. Selain itu, ekonomi kreatif juga akan menjadi prioritas dengan dibentuknya ASEAN Creative Economy Business Forum Network dan penyelenggaraan KTT ASEAN bidang ekonomi kreatif. Indonesia juga akan mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik pada tingkat ASEAN.
Isu Digital Economy dimaksudkan untuk memperkuat inklusi keuangan dan literasi digital. Negara anggota ASEAN perlu meningkatkan kapasitasnya dalam merumuskan strategi edukasi finansial secara nasional dan meningkatkan interkonektivitas sistem pembayaran regional. Rencana-rencana yang akan diusung Indonesia yakni kewajiban menggunakan e-Form D melalui ASEAN Single Window, persiapan rencana aksi untuk mengimplementasikan ekonomi digital di ASEAN, dan mendigitalkan inklusi keuangan UMKM.
Sementara itu, isu Sustainability merupakan perwujudan persiapan atas dampak dari bencana alam dan perubahan iklim yang dialami kawasan ASEAN. Karenanya, ASEAN perlu merencanakan arah ke tujuan yang sama dalam kaitan transisi menuju ekonomi hijau, diantaranya melalui penyusunan ASEAN Taxonomy on Sustainable Finance dan Study on the Role of Central Banks in Managing Climate and Environment-Related Risk. Indonesia sendiri menyorot beberapa isu penting yakni, penyusunan peta jalan blue economy di ASEAN, penyusunan ASEAN framework for transition finance, serta pengembangan standar ASEAN berbasis pembangunan berkelanjutan.
Penulis: Henik Fuji R
Editor: Maya Ayu
