Judul : Babel
Penulis : R. F. Kuang
Penerjemah : Siska Nurohmah
Penyunting : Puput Alvia
Penerbit : Shira Media
Tebal : xvi + 640 hlm; 14 x 21 cm
ISBN : 978-602-7760-81-3
- Sebermula
Kisah dimulai bukan di selasar istana apalagi di taman bunga indah bagai firdaus, melainkan di gang-gang perkampungan kumuh kota Kanton yang bergelimpangan mayat, dimana seorang bocah bersua dengan takdir barunya di ujung maut (hal. 3-4). Begitulah pertemuan awal Robin dan Profesor Lavell sekaligus menjadi sebermula kisah dari novel Babel yang ditulis oleh R. F. Kuang.
Dengan bahasa yang indah penuh metaforis, R. F. Kuang menghadirkan sebuah kisah epik yang tak hanya menonjolkan corak kesastraannya, tetapi juga corak historisnya. Satu hal yang menonjol dari karya ini adalah penggunaan catatan kaki yang berfungsi terutama untuk memberikan detail-detail informasi terkait istilah asing atau fakta-fakta sejarah yang mengilhami cerita. Oleh karena itu, meskipun karya ini adalah sebuah kisah fiksi, konteks kesejarahannya tidak begitu saja lenyap walaupun memang terdapat sedikit distorsi terhadap beberapa hal, seperti yang penulis katakan di bagian prakata (lihat catatan penulis, hal. 1-2).
2. Gelanggang
Berlatar di Britania Raya pada abad ke 19, pembaca akan diajak berkenalan dengan karakter utama cerita, Robin yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Oxford pada Institut Penerjemah Kerajaan. Robin mendapati dirinya berada dalam dunia yang begitu asing, tetapi di saat yang bersamaan begitu indah. Di awal cerita, Robin yang diasuh oleh Profesor Lovell ditempa laksana sebuah bilah pedang untuk menjadi ahli penerjemah ulung.
Bersama ketiga sahabatnya, Ramy, Victoire, Letty serta mahasiswa Babel lainnya, Robin menjalani kehidupan mahasiswanya. Petualangan Robin dan kawan-kawannya bukan sekedar kisah muda-mudi perkuliahan yang penuh dengan geliat masa muda, melainkan sebuah kisah mengenai mereka yang tercerabut oleh identitasnya. Institut Penerjemahan berisi mahasiswa yang berasal dari negeri lain di luar Britania sehingga Robin bukanlah satu-satunya orang asing di Oxford.
Sebagaimana orang kulit berwarna lainnya, Robin dan kawan-kawan menjadi sasaran rasisme dan diskriminasi oleh para Britons kulit putih. Selain menghadapi penghinaan, menghadapi tugas perkuliahan, Robin juga menghadapi suatu hal yang menjadi turning point kehidupan masa mudanya: kebenaran; kebenaran seputar identitasnya; kebenaran terkait masa lalunya; dan kebenaran terkait dunianya. Robin mendapati dirinya terjebak dalam dilema, dihadapkan oleh dua persimpangan jalan, harus memilih salah satu dan membuang yang satunya. Robin harus bertempur dengan dirinya sendiri sebelum bertempur melawan musuh sebenarnya.
Setelah membuang surganya, Robin menapaki jalan terjal dalam membongkar satu per satu kebenaran; mengapa Institut Penerjemahan getol mencari mahasiswa asing? Mengapa cipta-perak hanya terkonsentrasi di Britania? Mengapa hanya Britania saja yang menikmati tetesan berkah dari cipta-perak? Dan mengapa ia dan rekan-rekannya harus teralienasi dari identitas kulturalnya? Semua akan bermuara pada satu hal: kolonialisme.
Melawan kolonialisme sama artinya dengan mendurhakai segala nikmat yang diterima Robin selama ini. Ia harus membuang satu per satu kenangan-kenangan manisnya, berjibaku dengan kehidupan perkuliahan sembari berkecimpung dalam pergerakan bawah tanah, dan menyadari ikatannya terhadap orang-orang terdekatnya kian longgar.
Kisah ditutup oleh akhir yang terpenggal. Pembaca tidak akan menemukan karakter utama yang berakhir terjerembab dalam kubangan pasifisme, melainkan karakter utama yang berpegang teguh pada prinsip revolusionernya. Melalui karakter utama, Kuang seolah menampar para kaum kompromis. Secara implisit, penulis mengatakan jika jalan konfrontasi adalah satu-satunya jalan melawan kolonialisme.
3. Gelanggang
Kolonialisme senantiasa menjadi diskursus yang menggugah lagi menarik. Sebagai sebuah sistem dominasi, kolonialisme sejatinya tak hanya bekerja pada dimensi material, tetapi juga bekerja dalam dimensi non-material. Kolonialisme sudah pasti dijiwai oleh spirit kapitalisme, di mana aliran komoditas menjadi denyut yang memompa detak jantung imperium. Untuk tujuan itulah, imperium kolonial berusaha keras mencari cara ampuh guna menjaga sirkulasi kapital sekaligus unjuk kekuatannya terhadap bangsa-bangsa yang dicap uncivilized. Salah satu caranya adalah melakukan praktik mengeksploitasi.
Selain kolonialisme yang menjadi tema besar, terdapat topik yang lebih khusus, yaitu bahasa. Kuang menjadikan bahasa sebagai contoh objek eksploitasi kekuatan kolonial. Karena cerita ini dikemas dalam bentuk sastra, Kuang bisa lebih leluasa dalam berkisah, suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh historiografi ilmiah. Bahasa digambarkan sebagai prasyarat guna mengaktifkan sesuatu perangkat mekanis yang disebut cipta-perak, dan cipta-perak sendiri merupakan sumber energi penggerak teknologi di penjuru imperium (hal. 183-187). Dengan penggambaran tersebut, Kuang sukses memberikan imaji konkret akan komodifikasi bahasa yang abstrak kepada para pembaca. Meskipun fiksi, penggambaran tersebut tidak lantas menghancurkan kekuatan utama dari kisah ini.
Cipta-perak juga bisa dimaknai sebagai analogisasi dari logam mulia yang kala itu menjadi nilai utama kekayaan suatu negara dalam sistem ekonomi merkantilisme. Oleh karena itu, negara imperialis berusaha keras menumpuk logam mulia, dan salah satu caranya adalah dengan membangun koloni. Dalam kisah Babel, cipta-perak sendiri didapatkan melalui serangkaian praktik kolonial serta politik ekspansionis Inggris sehingga cadangan cipta-perak dunia terkonsentrasi di Britania. Dalam melakukan politik ekspansionis lah distorsi bahasa berperan penting seperti membuat perjanjian yang menguntungkan pihak imperium.
Selain itu, bahasa juga kerap kali dihiraukan dalam narasi sejarah arus utama. Historiografi konvensional selalu saja menaruh perhatian pada sesuatu yang nampak, alih-alih terhadap suatu mekanisme tak kasat mata yang mengendalikan yang nampak, seperti bahasa. Padahal, bahasa adalah cerminan dari identitas masyarakat, seperti yang dikatakan oleh Wilhelm von Humboldt bahwa, “pandangan hidup dan budaya masyarakat ditentukan oleh bahasa masyarakat itu sendiri.”
Senada dengan Humboldt, Hirmar Farid juga mengatakan jika bahasa bukan sekadar baris-baris aksara yang dihiasi tanda baca, terapi suatu medan tempur di mana setiap kekuatan sosial saling berbenturan tiada henti. Dalam konteks Indonesia, bahasa adalah prasyarat dari bangkitnya kesadaran nasional. Munculnya bahasa universal yang mampu menerjemahkan kondisi sosial sekaligus melampaui sekat-sekat horizontal dan vertikal, nantinya akan digunakan oleh aktor-aktor pergerakan sebagai kontra-hegemoni melawan kuasa kolonial. Untuk menangkal hal tersebut, penguasa kolonial melakukan serangkaian distorsi serta menciptakan kontrol terhadap bahasa. Oleh karena itu, Babel menjadi sangat relevan untuk dibaca karena mewakili bangsa-bangsa yang memiliki kenangan kelam terhadap kolonialisme.
4. Akhiran
Sekali lagi, Babel merupakan karya sastra yang berhasil menghadirkan pengalaman ilmiah dengan cara yang menarik dan penuh dengan fantasi seperti karya fiksi pada umumnya. Namun, yang menjadikannya berbeda ialah bagaimana konteks historis dalam dunia nyata bisa hidup beriringan dengan konteks fiktifnya, seolah semua novel ini sendiri merupakan hasil rekayasa cipta-perak di dalam semesta ceritanya. Buku ini adalah bacaan tepat bagi mereka yang baru melangkah dalam semesta diskursus sejarah kolonialisme dan sejarah penerjemahan.
Penulis : Deo
Editor : Orchy
