Populasi kucing di lingkungan kampus Universitas Airlangga seringkali menimbulkan pemandangan seperti tersebarnya feses yang kerap menjadi “ranjau” bagi pejalan kaki. Kelakuan kucing-kucing tersebut kerap mengganggu penikmat kuliner dan keberadaan kucing yang penuh luka juga mengundang rasa jijik bercampur iba. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serta pro dan kontra di kalangan mahasiswa. Opini dan rasa ingin tahu ini telah kami tampung pada sebuah survey Google Form yang kami sebarkan pada tanggal 31 Oktober 2025 lalu. Tidak luput pula kami telah berbincang-bincang dengan pihak Universitas Airlangga Peduli Hewan (UAPH), yakni sebuah komunitas independen yang diklaim peduli akan kesejahteraan mahluk-mahluk berbulu ini.
Dari Google Form yang kami sebar, opini publik terhadap kucing-kucing ini lebih condong ke sisi positif. Meski mayoritas mengakui bahwa beberapa tindakan serta keberadaan hewan domestik yang satu ini terkadang mengganggu, publik lebih mengedepankan aspek positif yang dihadirkan kucing-kucing ini atau justru tidak memedulikan dan mewajari kelakuan mereka sebagai hewan pada umumnya. Sisi negatif yang kerap dikeluhkan seperti tersebarnya feses, perilaku meminta atau bahkan menjarah makanan, hingga keberadaan beberapa kucing yang penuh luka seringkali ditutupi oleh aspek yang dianggap positif seperti “penghilang stress”, “mood booster”, serta preferensi pribadi responden. Berikut adalah tautan Spreadsheet daftar lengkap jawaban responden Google Form kami: https://docs.google.com/spreadsheets/d/1x4Gn6NHcsKG9xNffvB81n7Bq2E1hIxMWow6U6PUgg-Y/edit?usp=sharing
Terdapat pula aspek positif dan negatif yang lebih signifikan dari aspek-aspek yang sebelumnya telah disebutkan, namun tidak kasat mata dan hanya sedikit dari responden yang menyebutkannya. Dari total 47 responden Google Form, terhitung hanya ada 2 responden yang menyebutkan bahwa salah satu aspek positif keberadaan kucing-kucing ini adalah sebagai pengendali hama tikus, dan hanya ada 1 responden yang prihatin akan potensi over populasi kucing sebagai salah satu aspek negatif.
Banyak dari responden tidak tahu pasti akan siapa yang bertanggung jawab atas populasi Felis catus penghuni kampus ini. Beberapa berasumsi bahwa kucing-kucing ini adalah bagian “resmi” dari kampus UNAIR dan merupakan tanggung jawab pengelola universitas. Ada pula yang beranggapan bahwa kucing-kucing ini adalah milik bersama dan merupakan tanggung jawab seluruh warga kampus. Beberapa responden sadar akan segelintir individu yang kerap menyediakan makanan dan minuman bagi mahluk-mahluk berbulu ini, namun responden tidak tahu pasti siapa mereka. Terhitung terdapat 6 responden yang menyebut nama komunitas UAPH, meskipun begitu mereka masih tidak yakin akan peran komunitas ini.
Universitas Airlangga Peduli Hewan (UAPH) adalah komunitas berbasis media sosial yang sejauh ini masih hanya memfokuskan kepeduliannya pada kucing-kucing penghuni Kampus B UNAIR. Kegiatan yang mereka lakukan antara lain menyediakan tempat makan & minum, street feeding, rescue, hingga perawatan penyakit. UAPH merupakan komunitas independen yang sumber dananya bukan dari pihak universitas, melainkan dari donasi yang tautannya dapat ditemukan pada akun Instagram mereka: @unairpedulihewan. “Sumber dana kita dari donasi aja ya, mas. Karena memang kita komunitas yang independen, bukan di bawah naungan kampus,” ujar Awan selaku Humas UAPH ketika kami wawancarai pada 28 Oktober 2025 lalu.
UAPH sadar akan perilaku kucing-kucing kampus ini yang kerap mengganggu. “Kalau semisal temen-temen mengkritik keberadaan kucing di kampus dan merasa kurang puas dengan itu, menurutku kita bukan tempat untuk berkeluh kesah, sih. Karena kita kan sebagai komunitas yang peduli, maksudnya merawat mereka, kemudian menjaga mereka. Bukan kayak, kita harus ngapain gitu, lho? Masa kita ngebuang mereka?,” ujar Awan ketika ditanya terkait apa posisi UAPH jika dimintai pertanggungjawaban
UAPH sadar akan isu potensi overpopulasi, namun menurut Awan keterbatasan dana masih menjadi penghalang. “Dari angkatan-angkatan sebelumnya itu sebenarnya kita ada keinginan untuk melakukan birth control dan mensterilisasi kucing. Namun, satu kendala yang kita hadapi itu dananya, sih. Dari tahun ke tahun, tuh, kita keterbatasan dana,” tegas Awan.
Sebagai tambahan, Awan meluruskan bahwa litter box dan rumah kucing yang dapat ditemukan di sekitar halaman Perpustakaan Kampus B UNAIR bukanlah milik UAPH. “Orang-orang ngiranya itu rumah kucing sama litter box punya UAPH, tapi itu bukan punya kita. Kita sampai sekarang aja nggak tau itu dari siapa. Apakah milik sarpras atau siapa nggak tau. Dari UAPH kami cuma menyediakan pet-feeder aja,” pungkas Awan.Tingkah laku hewan memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada manusia atau pada hewan itu sendiri. Bagi individu yang terdampak untuk bersikap tak acuh atau mewajari kelakuan kucing-kucing ini adalah sebuah coping mechanism yang tergantung pada pribadi itu sendiri.
Reporter: Samuel & Agiesya
Editor: Disty
