[Telah dimuat dalam lpmsitus.fib.blm.unair.ac.id pada 14/5/2022]
Hari kemenangan, dan semua ingin menang. Ayah kami menelepon. Katanya dia mengajak kami untuk menemui sanaknya di Perak. Kampung tersebut lumayan jauh dari Sidoarjo, dan Ayah baru berangkat dari kosnya di Pandaan pukul 10 pagi.
Sejam berlalu dan dia tiba bersama mobil Nissan megahnya dengan hanya mengenakan jeans pendek dan kaos oblong selagi menghisap rokoknya hingga mengasapi seluruh ruangan mobilnya. Di dasbornya terdapat sebuah foto kecil perempuan yang dia cintai; dijepitkan di semacam aksesoris mobil. Kami masuk ke dalam mobil dengan busana Muslim dan celana panjang, lalu kami berangkat. Separuh perjalanan diisi dengan kesunyian dan kata-kata yang jarang membentuk kalimat. Ini bukanlah kecanggungan; hal lain mencegahku memulai dialog dengannya. Salah satu dari kami lalu menyalakan radio. Kulihat adik-adikku bersenandung di bangku belakang, terlepas musik yang diputar 98,8 FM adalah lagu kuno.
“Kamu udah mulai nyari kerjaan lagi tah, kak?” kata Ayah tiba-tiba.
“Engga.” jawabku secara pasif.
“Nyario.”
“Aku masih mahasiswa lho. Susah nyempati waktu dan ruang buat kerja.”
“Aku dulu lho juga mahasiswa, yo kerja sisan.”
“Mahasiswa biyen ya beda, pa, sama mahasiswa sekarang. Banyak hal di luar matkul. Lagian aku juga mahasiswa studi budaya, matkulku masyarakat.” Sunyi menyambut responku.
Ayahku kemudian menghisap tembakau yang dia bakar di gerbang tol sebelumnya. Dia mengarah-arahkan AC mobil ke dirinya dan menaikkan powernya dari satu ke tiga. Mentari semakin bersinar selama kami menuruni Jawa
“Kalo kerja dapet pengalaman banyak.”
“Iyaaa~” kataku, “aku kan pernah jadi guru lesnya anak SD sebelum jadi mahasiswa, kamu lak ngerti sih?”
Aku tidak bercerita kalau aku ikut komunitas persma di kampus, termasuk waktu yang kugelontorkan untuk mereka. Seproduktif apa pun, dia tidak suka kalau aku ikut sesuatu yang dia tidak mau membayarnya. Maka diam-diam kupakai beberapa uangnya.
Dulunya aku tidak tertarik dengan jurnalistik. Persma lah yang mengantarkan aku pada dunia media massa. Aku diajarkan jenis-jenis kepenulisan. Mereka juga menunjukkan cara bersosial; lumayan untuk bahan-bahan tulisanku. Mereka sangat rendah hati, sedang ekspektasi ayahku sangat tinggi. Kudengar adzan dari masjid-masjid berkumandang sejenak setelah kami keluar dari jalan tol. Kami mulai menyusuri jalan biasa di Surabaya. Yang tidak biasa adalah jalanannya yang tidak ramai. Sekali kami melewati gapura selamat datang Sunan Ampel. Sesekali kami menghentikan roda di Alfamart untuk membeli camilan dan minum. Kami melanjutkan perjalanan ke rumah sanak.
Setibanya saat pukul 12 siang, sudah banyak kerabat di dalam. Sebelumnya lebih banyak. Beberapa sudah pulang lantaran sibuk dengan hal lain. Kepulangan mereka sedikit melegakan jika melihat ruangan yang kecil ini dan betapa panasnya Surabaya. Yang tersisa adalah tujuh sepupuku. Empat dari mereka adalah anak dari adik ayahku.
Kulihat ayahku memberikan beberapa lembar uang ke salah seorang sepupu dan menyuruhnya membeli minum. Sepupuku bilang Bibi sudah membuatkan es cincau, tapi ayahku bersikeras memintanya membeli beberapa botol Coca-Cola seolah-olah hal tersebut diperlukan.
Ayahku terlihat akrab dengan kerabat-kerabat di sini. Suatu waktu dia menanyakan kegiatan salah satu sepupu.
“Aku kerja jadi kasir di mall.” jelas sepupuku.
“Kerja?”
“Iya, aku kerja di mall.” ulangnya dengan santai.
Ayah menatapku seolah-olah hendak menyindir. Dia lalu memekik pada adik-adikku, “Ini lho Lena masih sekolah, tapi wis kerja.” Tidak ada balasan melainkan senyum canggung si Lena.
Adik ayahku pulang setelah belanja. Singkat setelah dia meletakkan barang bawaannya di dapur, dia menyuruh salah satu anaknya untuk memutarkan film; berpikir orang-orang akan menontonnya. Film yang diputar di layar adalah film psychological baru Batman. Tidak ada yang peduli dengan layar TV-nya; semua anak bermain kartu UNO sedangkan yang dewasa sedang bergurau. TV itu tetap menyala.
Ayahku aktif mengobrol dengan sanaknya. Aku hanya memperhatikan mereka semua bercakap-cakap dan bermain. Terbesut di pikiranku menanyai kegunaan ilmu bersosial yang diajarkan komunitas persku. Kudengar ayahku membicarakan anak Bibi yang saat itu bekerja dan belajar di Jepang.
“Teguhno anakmu, mbak.” katanya, “Susah ndek luar negeri, gak onok koncone, Fadhil iku kudu tetep betah.” Tidak pernah sebelumnya suara serius yang sangat peduli seperti itu masuk ke telingaku. Bahkan bilapun, aku akan tetap bersikukuh dengan pilihanku sendiri. Apakah pilihan tinggal di Tokyo itu milik sepupuku? Aku tak berpendapat. Ayah kemudian menanyakan barangkali adik-adikku mau ke luar negeri seperti sepupu mereka.
Jam menunjukkan pukul 3 sore, dan Ayah bilang kami harus bergegas ziarah. Kami berencana mengunjungi makam nenek kami di Candi. Semua melambaikan tangan sambil berdiri di depan pintu ketika kami beranjak pergi.
Kami mengulang jalan yang sama seperti saat sebelumnya. Gapura Sunan Ampel lagi. Jalan tol lagi. Berbeda dengan Ayah yang merokok dan menyetir, aku dan adik-adikku kelelahan. Aku terkantuk-kantuk sambil menahan beban kepalaku. Kopyahku melenceng dan tanganku saling berpegangan erat. Ketika kami keluar dari tol menuju Sidoarjo kota, Ayah mencarikan restoran untuk makan. Jarang toko buka saat Lebaran, jadi dia hanya mampu menemukan restoran prasmanan khas Jawa dekat sebuah mall. Kami makan dan menghabiskan Rp170.000,00 di situ. Dia menyalakan tembakaunya lagi setelah makan. Kami melanjutkan perjalanan ke Candi.
Radio masih menyanyikan lagu kuno. Kulihat lagi foto di dasbor. Ada tempat foto lainnya di dekat kaca spion. Tidak ada foto di aksesoris tersebut. Harusnya ada foto kami di situ. Ketika hembusan angin dari jalanan sepi terdengar, Ayah bertanya, “Mana lho mamamu? Tadi di rumah kok gak ada.”
“Dia juga ke sanaknya”
“Kapan?”
“Wis dari pagi.”
“Walah.”
Aku mendapat firasat ke mana topik pembicaraan ini akan berlanjut. Lalu dia bertanya lagi. “Mamamu sama dia ngasih uang buat kalian kan?”
“Ya iya. Yang mbok kasih gak pernah cukup, mama kudu kerja buat nambalin kurang-kurangnya. Kalo aku punya satu murid, dia ada enam.”
“Aku pusing, kak, bayar kuliahmu.”
Interaksinya sejak pagi pun membuat aku pusing. Harusnya orang tua yang bertanggung jawab atas kebutuhan anaknya. Malah aku yang diserahtugasi untuk menjaga ketiga adikku. Kalau diingat-ingat rumah bibiku tak ada retakan yang berarti.
Aku mulai berpikir tentang salah siapa yang menyebabkan dan tanggung jawab siapa atas nasib kami sekarang. Ketika kupikirkan hal tersebut, kami berhenti sejenak untuk membeli kembang di dekat makam umum. Ayah membeli lima kresek kembang yang dingin. Kami melanjutkan perjalanan ke makam. Ini kali pertama aku ke makam nenekku. Aku tak tahu Candi punya makam seluas ini. Ada makam Islam dan semakin ke dalam ada area tanah untuk orang-orang yang dulunya adalah Kristen. Nenekku dimakamkan di kuburan Kristen dekat tambak. Ayah memarkirkan mobilnya dan mulai membagikan kresek kembang ke masing-masing dari kami. Kami sedikit kesulitan mencari tempat nenek ditanamkan ke dalam bumi. Kami menemukan bahwa salib kayunya patah, mungkin akibat angin ribut atau banjir. Ayah bilang bahwa nisan tersebut akan diganti dan makam nenek akan dikijing dengan lebih baik. Kami mencabuti rerumputan yang tumbuh di tanah untuk membersihkannya. Kami menabur bunga-bunga. Kami, agak lucunya, mendoakan nenek dengan cara Islam. Aku menutup mataku dan seketika terbayang komunitas pers yang aku ikuti. Aku telah menggunakan uang gaji ayahku sendiri untuk menambali kas proker persku. Tak besar uang yang kuambil, tapi aku terlihat seperti seseorang yang korup. Akan tetapi dari yang aku lihat sendiri hari ini, ayahku juga seseorang yang korup. Kupikir meminta sesuatu kepada orang mati itu sia-sia. Sama seperti mencari petunjuk dari penyebab lampau nasib kami sekarang. Aku terbangun.
Kami pamit kepada Nenek sebelum pergi. Sekarang yang perlu ayahku lakukan hanyalah mengantar kami pulang. Radio menyala, tetapi sekarang hanya memberitakan kemacetan. Kulihat lagi foto di dasbor. Ayah menjelaskan bahwa wanita yang ada di foto tersebut juga sedang pergi ke sanaknya. Dia tidak bisa ikut dengan kami ke Perak. Kucoba membuat obrolan baru, “Barang-barang di rumah wis habis, waktune beli lagi.”
Dia menghelakan asap rokoknya dan mulai membalas permintaanku, “Bukane minggu lalu udah tak kasih ya?”
Benar dugaanku dia akan mengatakan itu. Aku hanya bisa membisikkan tawa. Tidak menjawab. Ini bukanlah kecanggungan. Itu adalah tujuan akhir sebelum angkasa akan semakin meredup selama Ayah menaiki Jawa.
Penulis: Ristiyawan Pratama
