Saturday, 7 November 2026
Seputar kampus

Kurangnya Pendanaan dan Sulitnya Perizinan, BEM FIB Gelar Sinestesia selama 5 Hari

Oleh : : - Waktu Baca 3 menit
Sinestesia Day
Sumber: Dok.Pribadi/ Aulia Nurul `Izza

Senin (30/10) menjadi hari pertama Sinestesia 2023, rangkaian acara yang dipersembahkan oleh Kementerian Akademik dan Prestasi, Kementerian Seni dan Budaya, serta Kementerian Kajian Isu dan Aksi Strategi BEM FIB UNAIR. Diselenggarakan mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore di GOR Semi-indoor Kampus B & Gedung FIB UNAIR, Sinestesia menawarkan beragam acara hingga 3 November di antaranya:

  1. Infest: Rangkaian bincang komunitas sastra yang menghadirkan beberapa pembicara dari berbagai kalangan termasuk komunitas-komunitas baca di Surabaya untuk membahas berbagai topik mengenai sejarah, sastra, dan budaya.
  2. Lokakarya: Pameran Seni yang menghadirkan karya seni visual dari mahasiswa dan seniman lokal.
  3. Biblio Valley: Pameran dan bazar buku yang menawarkan peluang kepada pengunjung untuk menjelajahi ratusan judul buku dari beberapa penerbit.

Salah satu yang menjadi perhatian di hari pertama Sinestesia adalah Biblio Valley, pameran dan bazar buku yang menjadi magnet bagi para pecinta literasi. Di sinilah pengunjung dapat menemukan berbagai buku dari berbagai genre, mulai dari sastra dan budaya hingga pengembangan diri, politik, dan agama. Biblio Valley menawarkan buku-buku dengan harga yang sangat terjangkau. Selain itu, para pengunjung juga bisa menikmati buku-buku sastra klasik dan langka yang jarang ditemukan di toko-toko buku konvensional.

Nuril, Ketua pelaksana acara Biblio Valley mengatakan, “Tujuan dari Biblio (Valley) adalah untuk membangun iklim literasi mahasiswa dan masyarakat sekitar UNAIR. Kita memberikan aksesibilitas buku dengan menawarkan beberapa buku yang didatangkan langsung dari pihak-pihak penerbit.”

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa Biblio Valley turut berperan dalam mempromosikan minat baca dan literasi di kalangan mahasiswa UNAIR, serta di antara fakultas-fakultas lain bahkan perguruan tinggi lain yang turut meramaikan acara tersebut.

Di sisi lain, Thoriq, selaku Ketua Pelaksana Intellectual Fest (Infest) mengungkapkan, “Sebenarnya kami ngadain acara Infest karena ada sejumlah acara yang serupa di Indonesia, yang paling ramai beberapa waktu lalu itu Patjar Merah, lalu kami terinspirasi untuk bikin acara serupa di lingkungan kampus yang dibuka buat umum, walau sebenarnya target paling mayoritas ya mahasiswa. Tapi dengan ngadain acara seperti ini, sederhana saja ya kami ingin mengadakan acara diskusi yang terbuka buat mahasiswa dalam berbagai topik.”

Acara yang merupakan program-program unggulan BEM FIB 2023 ini juga menghadapi beberapa kesulitan, di antaranya adalah permasalahan anggaran dana yang membengkak khususnya untuk fasilitator, sarana dan prasarana yang kurang sehingga perlu menggelontorkan dana lebih untuk menyewa beberapa kebutuhan untuk menyokong keberhasilan acara ini.

Thoriq juga menambahkan, “Perizinan sarana prasarana yang sulit di dalam regulasi kampus juga menjadi kendala. Dengan dana yang terbatas pula, kalau tidak diberikan izin peminjaman dari mana kami dapat menyewa sarana prasarana yang dibutuhkan pada saat acara berlangsung?”

Reporter: Aulia Nurul` Izza & Dikta Sumar Hidayah

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *