
Rabu (1/5), tepatnya di depan Gedung Grahadi Kota Surabaya, mengatasnamakan Barisan Rakyat Anti Penindasan (BARA API), sekian serikat buruh, organ kemahasiswaan, elemen sipil dan kebudayaan se-Kota Surabaya melangsungkan aksi unjuk rasa yang mana tidak hanya didedikasikan untuk memperingati hari buruh internasional, upaya menyuarakan beragam persoalan perburuhan dan kesejahteraan sosial yang ada tetapi juga untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang tepat terjadi dikeesokan harinya. Ragam isu ketenagakerjaan, kesejahteraan dan kebebasan sipil serta pendidikan disuarakan melalui pekikan orasi dan tampilan teatrikal seni yang menggugah.
Secuil contoh peringatan kedua hari besar tersebut kemudian seringkali memunculkan pertanyaan dan refleksi bersama. Mengapa dalam gelaran aksi peringatan hari buruh internasional yang banyak diselenggarakan di berbagai tempat mengikutsertakan peringatan hari pendidikan nasional di dalamnya? Apakah terdapat titik temu antara kedua hari peringatan tersebut? Apakah terdapat upaya pemaknaan yang mempertemukan kedua hari peringatan tersebut? Bukankah secara muatan isu dan tujuan penentuannya berbeda?
Perefleksian ini mampu dimulai dengan meminjam sebuah tinjauan historis yang dilakukan Muhidin M. Dahlan dalam sebuah esai bebasnya di media Mojok.co yang menyoal pemaknaan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional yang terjadi secara berdekatan. Lama sudah ia menuturkan tinjauan pribadinya tersebut, namun rasa-rasanya relevan untuk kita baca dan kita refleksikan pula dengan situasi hari ini sehingga mampu menimbang kembali urgensi atas peringatan kedua hari besar tersebut secara bersamaan atau berdekatan.
Dalam esai bebasnya, Muhidin hendak menyampaikan bahwa Hari Buruh adalah kakak bagi Hari Pendidikan Nasional. Hari tersebut telah ditempatkan secara tepat dan tidak boleh dibolak-balik. Penilaian tersebut berangkat dari keterkaitan antar latar belakang kesejarahan hari-hari peringatan tersebut. Di mulai dari peringatan Hari Buruh Internasional yang dilakukan pada Rabu (1/5) tersebut, sudah barang tentu pada peringatan hari ini rangkaian agenda besar-besaran dilakukan, sebagaimana hari-hari besar yang lainnya. Karena hari ini adalah “Hari Buruh” maka tentu saja yang tergerak serta terkonsentrasi untuk memobilisasikan dirinya adalah kaum buruh itu sendiri. Hingga banyak di kata, bahwa hari ini adalah hari rayanya umat buruh.
Apabila kita menelisik dinamika perburuhan dalam negeri secara historis, pada era kolonial Belanda tersebut seorang ikon legendaris yang dijuluki seorang “Radja Mogok”. Dirinya begitu diingat dan disebut secara luas sebagai seorang pelopor pergerakan buruh, besar peran serta pengaruh atas tindakannya mampu membuatnya didaku sebagai seorang “raja”. Dirinya adalah Raden Mas Ismail Soerjopranoto, seorang Ningrat Pakualaman Yogyakarta. Namun dirinya bukanlah seperti ningrat atau kalangan keraton pada umumnya, ia adalah penggerak buruh berpengaruh sekaligus guru Taman Siswa yang bersahaja.
Dinamika perannya dimulai ketika ia menjadi bagian dari Sarekat Islam dan menjadi orang paling berpengaruh disarekat kedua setelah Tjokroaminoto. Dirinya kemudian bersinggungan secara langsung dengan perjuangan kelas bawah, terlebih kelas buruh. Persinggungannya tersebut dikemudian hari membuatnya terus terjun dan melibatkan diri dengan perjuangan buruh. Ia kemudian mendirikan serikat buruh pertama di Indonesia bernama Personal Faabriek Bond (PFB). Serikat buruh tersebut dikemudian hari mampu membesar dan mencapai puluhan ribu keanggotaan. Pengaruh peran yang dimiliki oleh Soerjopranoto tersebut menghantarkan dirinya pada jabatan paling santer digerakan perburuhan, yakni Presiden Federasi Persatuan Gerakan Kaum Buruh (FPGKB) yang diwakili oleh Semaoen, lakon legendaris lain pada gerakan buruh tanah air.
Tatkala krisis perekonomian menerpa Hindia Belanda dan memperburuk kesejahteraan rakyat jajahan, kelas buruh dan serikat-serikat gerakannya memilih untuk melakukan mobilisasi besar-besaran sebagai respon tegas nan radikal terhadap situasi yang ada. Tak terkecuali serikat buruh pimpinan Soerjopranoto, di bawah komandonya gerakan mogok dilakukan secara meluas di seluruh Pulau Jawa. Gerakan ini menyasar setiap industri dan perusahaan serta aset-aset vital milik pemerintah kolonial, menyatakan penolakan atas kebijakan ketenagakerjaan serta tata perekonomian kala itu, serta menuntut perbaikan nasib dan hajat kehidupan buruh. Eskalasi gerakan yang begitu besar ini yang kemudian membuat nama Soerjopranoto melejit dan melegenda. Namun, ia yang tetaplah seorang guru Taman Siswa tetap secara sadar dan bersahaja menunaikan tugasnya dan tak serta merta lupa sebab kebesaran namanya tersebut.
Namun, daya tarik atas kebesaran Soerjopranoto tidak berhenti sampai disitu, apalagi kaitannya pada konteks bahasan kali ini. Raden Mas Soerjopranoto adalah seorang kakak kandung dari seorang Bapak Pendidikan Indonesia yang kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Siapa lagi kalau bukan Ki Hadjar Dewantara. Sebagaimana pula Soerjopranoto, Ki Hadjar juga berangkat dari kalangan ningrat keraton. Ia juga melakukan perlawanan atas tatanan kolonial melalui perjuangan pembentukan arah dan wajah pendidikan nasional. Corak dan pemikiran antar Soerjopranoto dan Ki Hadjar terbilang sama-sama radikal pula, namun memang terkonsentrasi pada lingkup perjuangan yang berbeda.
Dengan begini mampu kita tinjau bahwa peringatan Hari Buruh dan Hardiknas tersebut berdekatan tidak hanya dari segi penempatannya, tetapi melalui latar historis dan ketokohan yang identik dengan kedua hari peringatan tersebut. Sehingga, bagi Muhidin, penempatan Hari Buruh dan Hardiknas telah tepat dan haram hukumnya untuk dikebalikkan. Sebab Hari Buruh adalah milik si kakak Soerjopranoto dan Hardiknas milik si adik Ki Hadjar Dewantara. Terdengar menggelitik dan terasa kebetulan memang, namun ini adalah sebuah fakta konkret yang mengandung corak spirit yang serupa namun tak sama.
Tidak berhenti dengan upaya tinjauan historis yang dilakukan oleh Muhidin tersebut, refleksi atas keterkaitan Hari Buruh dan Hardiknas mampu dilakukan dengan perefleksian situasi perburuhan dan pendidikan yang ada hari ini beserta keterkaitan antar keduanya. Kedua lingkup tersebut, tengah terus menerus terhimpit dengan berbagai persoalan sistematis yang ada. Perburuhan disatu sisi, tengah didesak oleh berbagai ancaman kesewenangan negara bersama korporasi sejak ditekennya Undang-Undang Cipta Kerja beserta peraturan turunannya. Potensi tercerabutnya hak-hak dasar buruh akan semakin besar, sebaliknya korporasi dan perusahaan terus diberikan keleluasaan untuk menjalankan moda produksi secara culas dan ugal-ugalan. Buruh dan kehidupannya semakin jauh dari kata sejahtera dan cukup, membuat diri dan keluarganya kesulitan untuk mengakses berbagai hal, termasuk pendidikan.
Di sisi lain, pendidikan nasional terus terkomersialisasi dan terliberalisasi. Negara melalui kebijakannya telah mengorientasikan berbagai balai pendidikan dalam segala jenjang sebagai produsen tenaga siap kerja dan buruh murah yang kelak mampu diterjunkan langsung ke dunia industri. lembaga sekolah dan kampus mengarahkan anak didiknya untuk menjauhi lapangan sosial dan kebudayaan riil di tengah rakyat, serta memfokuskan diri mereka pada kerja akademik dan teoritik yang jauh dari kenyataan dan pemaknaan nyata atas kehidupan diri dan lingkungan kemasyarakatannya.
Persoalan-persoalan yang tersebut diatas semakin diperparah dengan kebijakan yang diambil oleh lembaga-lembaga sekolah dan kampus dalam mematok ongkos pendidikan bagi semua calon anak didiknya. Jamak kita ketahui, bahwa kampus-kampus yang bahkan adalah kampus negeri menetapkan standar uang kuliah tunggalnya secara ugal-ugalan. Pengambilan kebijakan ini seringkali tidak dibarengi oleh pemenuhan fasilitas kampus yang layak dan setimpal dengan harga yang dipatoknya. Misal ada upaya penggolongan ongkos sekalipun, tetap saja tidak terealisasi secara maksimal dan jauh dari kata tepat sasaran. Kesempatan pengajuan banding ongkos perkuliahan pun masih tidak benar-benar mampu menyelesaikan persoalan yang ada. Imbas dari semua persoalan pendidikan yang ada tersebut tentu saja membuat akses masyarakat dalam upaya pemenuhan hak mendasarnya menjadi tertutup rapat rapat, harapan untuk menyambung hidup dan memperbaiki nasib menjadi begitu sukar untuk diwujudkan.
Uraian singkat pada dua lingkup di atas, yakni lingkup perburuhan dan lingkup pendidikan akhirnya dipertemukan pada titik yang begitu tragis. Dunia perburuhan dan persoalannya yang sudah terlampau kompleks terjadi beriringan dengan problematika dunia pendidikan yang kian hari kian mencekik. Buruh beserta segenap mahasiswa, pelajar dan rakyat kelas pekerja yang luas terhimpit kedua persoalan lingkup tersebut serta harus terus hidup dan berjuang demi harapan dan kehidupannya.
Dengan demikian, peringatan Hari Buruh dan Hardiknas ini menjadi mampu direfleksikan secara bersamaan mengingat situasi kedua lingkup tersebut hari ini. Perjuangan atas kedua-keduanya, yakni perjuangan buruh dan perjuangan pendidikan sepatutnya dilakukan secara beriringan dan berkaitan. Kolaborasi bersama dalam setiap medan juang terkait perlu terus diorientasikan pada musuh besar yang sama, yakni kuasa negara dan korporasi kapital yang mengeluarkan kebijakan sewenang-wenang. Tinju seluruh kelas buruh dan pekerja, mahasiswa, pelajar, serta semua rakyat tertindas perlu ditujukan kepada itu semua menuju terciptanya tatanan masyarakat yang ilmiah, demokratis dan membebaskan.
Penulis: Syahirul Gama Afghani
Editor: Maya Ayu
