Rabu (14/08/2024) Universitas Airlangga melaksanakan pengukuhan mahasiswa atau dikenal sebagai Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Pada tahun ini, Universitas Airlangga mengukuhkan sebanyak 8.732 mahasiswa baru yang berasal dari berbagai fakultas, baik dari kampus pusat Surabaya maupun dari luar kampus utama seperti FIKKIA Banyuwangi, Gresik, dan Lamongan. Amerta 2024 berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme. Seperti tahun-tahun sebelumnya, momen ini menjadi pintu gerbang bagi Maba untuk memulai perjalanan kehidupan perkuliahan mereka di kampus biru ini. Untuk menggali lebih dalam tentang pengalaman dan harapan terkait PPKMB Universitas Airlangga, kami mewawancarai beberapa mahasiswa baru Universitas Airlangga 2024 serta panitia Amerta yang terlibat.
Pada pengukuhan mahasiswa baru ini, para Maba merasa cukup terkesan dengan rangkaian acara ini. Meski merasa lelah, mereka mengatakan bahwa acara pengukuhan mahasiswa baru ini di luar ekspektasi mereka: lebih meriah dan sesuai dengan harapan. Salah satu maba yang menjadi narasumber mengungkapkan kesan positifnya terhadap pengukuhan hari ini. “Acara pengukuhan hari ini sangat berkesan dan memberikan semangat baru bagi kami sebagai mahasiswa baru. Atmosfernya sangat mendukung untuk memulai kehidupan kampus yang lebih serius.” ungkapnya dengan penuh semangat.
Kendati demikian, para Maba juga memiliki kesulitan dengan tugas-tugas yang diberikan karena terlalu mendadak. Ketika ditanya mengenai tantangan selama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), Maba tersebut mengakui adanya beberapa kesulitan. “Kendala yang saya rasakan mungkin lebih ke tugas-tugas yang cukup banyak serta seringkali penyampain informasi yang dilakukan secara mendadak sehingga waktu istirahat kami sedikit terbatas. Tetapi ini semua menjadi bagian dari proses adaptasi yang harus kami lalui.” jelasnya.
Dari hasil wawancara dengan para maba, hal yang menjadi sorotan adalah keluhan yang hampir sama, yaitu keterlambatan informasi dan informasi yang terlalu mendadak. Pembagian kelompok Garuda dan Ksatria juga dinilai sangat terlambat hingga mengalami ketertundaan. Hal ini menghambat pendamping kelompok dan para Maba dalam pemilihan ketua Garuda dan ketua Ksatria.
Selain melalui para Maba, kami juga melakukan wawancara terhadap panitia yang bertugas menjadi pendamping kelompok (PK). Melalui wawancara yang dilakukan, diketahui bahwa persiapan untuk melaksanakan Amerta ini lebih dari satu bulan. Menjadi panitia tentu tidaklah semudah yang dibayangkan, ada banyak kendala yang dirasakan para panitia. “Kalau dari aku sendiri, kendalanya mungkin di setiap simulasi pasti tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan dan ini hampir selalu terjadi di setiap simulasi.” ungkapnya. Meski banyak tantangan dan kendala yang dirasakan, menjadi panitia Amerta tetap terasa seru dan menyenangkan. Selain terkait dengan pengalaman dan keseruan, wawancara ini juga menyoroti tentang bagaimana kebijakan panitia tentang fasilitas untuk Maba yang disabilitas. “Kebijakan panitia sangat luar biasa. Aku sendiri melihat panitia menyediakan kursi roda untuk maba yang disabilitas. Bukan hanya untuk yang disabilitas, persiapan panitia untuk kebutuhan medis seperti obat-obatan juga sudah sangat matang untuk para maba yang tiba-tiba jatuh sakit dan mengalami hal yang darurat.” paparnya.
Reporter: Nisya Azara Salsabila & Ertha Rizqina Cahyaningputri
Edior: Deo Ramdani Chaerudin
